::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Toleransi Dimulai dari Diri Sendiri

Jumat, 12 Juli 2019 19:00 Nasional

Bagikan

Toleransi Dimulai dari Diri Sendiri
Septia Febriani (berkerudung) dan Adharisa Manyura Rizarinka menghadap KH Said Aqil Siroj.
Jakarta, NU Online
Toleransi sebetulnya bukan hal baru bagi Septia Febriani, salah satu peserta Kakak Sabang Merauke 2019. Pasalnya, di Bandung Barat, Jawa Barat, ia tinggal berdampingan dengan masyarakat yang heterogen. Depan dan samping rumahnya, tinggal keluarga beragama Kristen.

Meskipun demikian, stigmatisasi dan generalisasi terhadap orang yang berbeda masih kerap kali muncul dari diri dan keluarganya. Karenanya, ia mengikuti kegiatan Sabang Merauke yang semula hanya ingin mengisi libur kuliahnya, tetapi akhirnya mendapatkan hal lebih dari sekadar mengisi masa liburnya.

Program tersebut setidaknya memberikan tiga pelajaran penting bagi dirinya dalam bertindak toleran terhadap orang lain. Pertama, katanya, kita harus menerima dan memaafkan diri sendiri sebelum keluar. "Sebelum kita bertoleransi dengan orang lain harus maafin diri sendiri dulu. Terus menghargai diri sendiri baru ke orang lain," jelasnya saat berkunjung ke NU Online, Kamis (11/7).

Kedua, hal yang didapatnya adalah tidak lagi membuat generalisasi atau menstigmatisasi orang lain yang berbeda. Bertemu orang Batak, misalnya, yang langsung beranggapan akan seperti dimarahi. Padahal, jelasnya, memang suara yang dikeluarkan demikian keras, bukan karena bersikap keras.

"Kita tuh gak boleh prasangka buruk. Kita harus membedakan mana persepsi mana fakta. Emang budayanya seperti itu (bersuara keras). Bukan ingin marah kepada kita," kata Septi.

Terakhir, pelajaran penting dari program tersebut adalah mudah memaafkan orang lain. "Sebelum dimaafin orang lain, kita harus lebih terbuka legowo (ikhlas menerima) dengan orang," ujar mahasiswi Universitas Padjajaran itu.

Hidup serumah dengan orang yang berbeda agama, yakni dengan Adhyarisa Manyura Rizharinka, sebagai adik Sabang Merauke, membuatnya semakin mengerti dan respek terhadap perbedaan yang ada di sekitarnya. "Kita jadi lebih respek karena sebelumnya gak tahu sama sekali. Kita mengantarnya ibadah ke gereja. Mereka ibadah juga kita gak keganggu. Kenapa harus mengejek orang lain?" katanya.

Yuma, sapaan akrab Adhyarisa Manyura Rizharinka bersama Septia diajak sowan (kunjungan silaturahim) ke Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj oleh orang tua asuhnya yang juga Sekretaris Lembaga Kesehatan PBNU, Citra Fitri Agustina dan suaminya Rudi Syafruddin. Dalam pertemuan singkat, Kamis (11/7) tersebut, gadis yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah itu mendapat wejangan Kiai Said bahwa perbedaan adalah kekuatan bagi Indonesia untuk bersatu.

"Agama yang beda-beda itu seharusnya bukan jadi pemecah, tetapi memperkuat masyarakat Indonesia buat bersatu," pungkas mahasiswi jurusan Kesejahteraan Sosial tersebut menirukan pesan Kiai Said. (Syakir NF/Kendi Setiawan)