NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Membuktikan Otentisitas al Qur’an

Senin, 06 Desember 2010 10:37 Pustaka

Bagikan

Membuktikan Otentisitas al Qur’an
Judul Buku: Sejarah al Qur’an: Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an
Penulis: Prof. Dr. H. A. Athaillah, M.Ag.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Pertama (1), Juli 2010
Tebal: 382 halaman
Harga : Rp 55.000,-
Peresensi: Otong Suhendar*

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan sekaligus sebagai sumber ajaran yang harus diimani dan diaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan. Al Qur’an juga merupakan sumber inspirasi bagi setiap orang yang mampu menyelami makna-makna yang terkandung di dalamnya.
<>
Sebelum al Qur’an diturunkan, di bumi ini sudah terdapat beberapa kitab suci yang menjadi pedoman hidup manusia, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Berbeda dengan ketiga kitab suci tersebut yang hanya diperuntukan bagi umat tertentu, al Qur’an diperuntukan untuk seluruh umat manusia. Jadi tidaklah mengherankan, selama lebih dari 14 Abad al Qur’an tetap terjaga otentisitasnya, karena perhatian kaum muslim terhadap al Qur’an ini sungguh luar biasa.

Berbagai upaya telah dan akan terus dilakukan umat Islam untuk memelihara otentisitas al Qur’an, baik dengan hafalan maupun dengan tulisan. Upaya tersebut telah berlangsung sejak Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang, sehingga kemurnian al Qur’an tetap sama seperti awalnya.

Prof Dr HA Athaillah, M.Ag. melalui bukunya yang berjudul “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” mengajak para pembacanya untuk melihat sisi otentisitas al Qur’an melalui historisnya sekaligus menolak pandangan kaum orientalis dan sebagian umat Islam sendiri yang meragukannya.

Menurut penilaian mereka (seperti Abraham Geiger, Richard Bell), al Qur’an itu bukanlah wahyu Allah, melainkan hasil karya Muhammad saw yang sumbernya berasal dari berbagai pihak. Di antaranya ada yang berasal dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di samping itu, mereka menggugat keabsahan mushaf ‘Utsmani dan otentisitasnya. Sebagaimana yang dikatakan John Wonsbrough; Teks al Qur’an baru menjadi baku setelah tahun 800 M., dan kitab yang diyakini oleh umat Islam selama ini hanyalah fiksi belaka yang kemudian direkayasa oleh kaum Muslim sendiri (hlm. 1).

Pandangan-pandangan negatif  yang dilontarkan oleh kaum orientalis tersebut dibantah oleh penulis buku tersebut dengan metode analisis dari berbagai argumen dan data yang telah mereka kemukakan dengan menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik dalil-dalil yang  dikutip dari al Qur’an sendiri, fakta-fakta sejarah, maupun hasi penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini yang relevan dengan informasi-informasi yang terkandung di dalam al Qur’an.

Senada dengan pernyataan penulis pada bagian pendahuluan buku tersebut; bahwa ada dua masalah pokok yang akan dijawab dalam buku tersebut. Pertama, apakah betul al Qur’an itu firman Allah?. Kedua, apakah al Qur’an masih otentik hingga saat ini?

Dalam menjawab kedua pertanyaan tersebut dan sekaligus membuktikan kebenaran tentang otentisitas al Qur’an, penulis tidak langsung merespons pernyataan-pernyataan kaum orientalis dan sebagian kaum muslim tersebut secara sinis, tetapi ia menyuguhkan sejarah al Qur’an berdasarkan fakta dan data akurat yang telah diseleksi kebenaran dan keabsahannya oleh para pakar di bidangnya (hlm. 9-10).

Otentisitas al Qur’an

Al Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah (QS. 15:9). Mengutip pendapat seorang ulama kontemporer, Muhammad Husain al Thabathaba’iy yang menyatakan bahwa sejarah al Qur’an demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai sekarang ia dibaca oleh kaum muslim, sehingga pada hakikatnya al Qur’an tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab suci tersebut - lanjut Thabathaba’iy – memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dengan menantang siapapun untuk membuat tandingannya.

Salah satu bukti, bahwa al Qur’an yang berada di tangan kita sekarang adalah al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw. tanpa perubahan dan tetap sebagaimana keadaannya dahulu. Sejalan dengan pendapat Thabathaba’iy diatas, Rasyad Khalifah juga mengemukakan bahwa dalam al Qur’an sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.

Sejarah mencatat bahwa sejak zaman Nabi Muhammad saw, al Qur’an telah dihafal oleh ratusan sahabatnya. Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat al Qur’an, namun untuk menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, tidaklah cukup hanya mengandalkan hafalan saja, tetapi dalam bentuk tulisan juga. sejarah menginformasikan bahwa ayat-ayat al Qur’an sebelum dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf (mushaf ‘Utsmani) telah ditulis dalam berbagai benda seperti kulit, tulang, pelepah kurma, dan kepingan batu.

Pada masa sekarang ini pun masih sama, meskipun al Qur’an telah tercetak dalam sebuah mushaf, perhatian kaum Muslim untuk menjaga otentisitas al Qur’an tetap luar biasa, seumpama kita menyurvei dari ujung Timur sampai Barat bumi ini, maka kita pasti akan tercengang, kita akan menemukan jutaan para penghafal al Qur’an. Jadi sangatlah wajar, jika al Qur’an dari periode awal ketika Nabi masih hidup sampai masa kita masih sama tanpa ada perubahan sedikit pun.

Akhirnya, dengan membaca buku “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” ini, para pembaca akan menemukan bukti-bukti keotentikan al Qur’an yang disajikan oleh penulisnya dengan menggunakan “sejarah” sebagai pisau analisinya.

* Staf Pembimbing pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta