::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Saya, Gus Dur, dan Para Kiai

Kamis, 22 Desember 2011 16:38 Pustaka

Bagikan

Saya, Gus Dur, dan Para Kiai

Judul      : Kiai Nyentrik Membela Pemerintah
Penulis    : Abdurrahman Wahid
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan  : Pertama, 1997

Jujur, ketika membaca buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah seakan-akan Gus Dur mendesak dan mendorong saya untuk segera menuliskan kisah-kisah tentang para buya di Sumatra Barat.

<>Buya adalah sebutan untuk seorang Kiai di Minang. Gelar ini biasanya diberikan kepada orang yang ‘alim dalam ilmu agama. Posisi Buya di Minang tidak sesakral Kiai di Jawa. Jika di Jawa seorang santri sangat takut kepada Kiainya, bahkan ketika Kiai menjelaskan kitab, sangat jarang ditemukan santri yang mau mengkritik Kiainya.

Akan tetapi di Minang-khususnya di pesantren saya- mengkritik Buya ketika menjelaskan kitab adalah suatu hal yang biasa. Terkadang, dimalam harinya buya membekali muridnya dengan beberapa pertanyaan agar ditanyakan kepada guru yang mengajarnya esok hari. Hal semacam ini disebut dengan kaji babungkuih.

Sebagai santri yang pernah sekolah di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung, yang didirikan Syekh Sulaiman ar-Rasuli-salah seorang ulama yang tetap mempertahankan kitab kuning di saat kitab-kitab putih mulai mengancam- saya merasa malu plus kagum terhadap sosok Gus Dur. Pengetahuan Gus Dur terhadap Kiainya sangatlah luar biasa. Selain itu beliau mampu menuliskan dan merasionalkannya, inilah yang membuat saya terkesima.

Sementara saya, keakraban dan pengetahuan saya terhadap sosok Inyiak Canduang (panggilan akrab Syekh Sulaiman) masih minim dan terbatas. Ditambah lagi, sangat jarangnya buku-buku yang menulis tentang biografi Inyiak Canduang, apalagi sisi rasionalitasnya, sebagaimana yang dilakukan Gus Dur.

Awalnya saya tidak begitu akrab dengan Gus Dur, terutama dengan pemikiran beliau. Pandangan saya tentang Gus Dur sama seperti masyarakat awam lainnya. Gus Dur bagi saya pribadi yang nyeleneh, kerjanya hanya bikin sensasi dan kontroversi, apalagi sewaktu baru saja diangkat jadi presiden langsung pergi “jalan-jalan” ke luar negeri.

Pikiran picik dan sempit ini sangat wajar teruntai dalam benak saya. Sebab di Bukittinggi, tempat saya sekolah, sangat jarang sekali didapati buku-buku yang berbicara mengenai Gus Dur. Sehingga akses untuk mengenal lebih dekat ide-ide Gus Dur sangatlah susah, apalagi internet pada waktu itu belum massif seperti saat ini.

Pikiran kolot saya itu mulai berubah setelah beberapa bulan tinggal di Jakarta. Saat Gus Dur meninggal saya menyaksikan semua orang mulai dari yang miskin sampai yang kaya, Islam maupun non-muslim ikut mendoakan dan merasa kehilangan Gus Dur. Saat itu pulalah saya mulai berpikir, apa sebenarnya kehebatan Gusdur? Pertanyaan ini benar-benar mulai terjawab ketika saya mengikuti program TKG (Tadarus Kolom Gus Dur) yang diadakan the Wahid Institute setahun yang lalu.

Sebenarnya buku yang berjudul Kiai Nyentrik Membela Pemerintah ini merupakan kumpulan dari esai-esai Gus Dur yang pernah dimuat di Tempo dan Kompas. Seperti kata Sobary, tak sepotong pun penjelasan diberikan mengapa Kiai Nyentrik Membela Pemerintah dipilih menjadi judul buku ini?

Sebagaimana yang diketahui, buku ini berbicara tentang sisi lain dari para kiai. Di sini Gus Dur menceritakan bagaimana sisi rasionalitas dan progresifitas para kiai dalam menghadapi persoalan masyarakat yang semakin berkembang.

Sosok Kiai Wahab Sulang misalnya, meskipun kiai desa ini tidak bisa menggunakan rem sepeda motor, namun ketika berbicara dan menanggapi persoalan modern beliau tidak kaku dan ketat. Malahan beliau lebih longgar, bahkan beliau mampu memproduksi fikih menjadi lebih humanistik dan kosmopolit sebagaimana yang dipuja orang, namun tetap berlandaskan keyakinan agama.

Selain sisi rasionalitas para kiai, ada satu hal lagi yang sangat penting dalam membaca buku Gus Dur ini. Jika buku ini dibongkar secara manhaji akan kelihatan bagaimana cara Gus Dur menulis dan menyampaikan gagasannya agar mudah dipahami masyarakat. Gus Dur tak perlu berbicara dan mengutip teori-teori yang rumit, namun cukup bercerita tentang sosok kiai, orang sudah paham apa yang hendak dikatakan Gus Dur. Cara seperti ini patut ditiru bukan? (Hengki Ferdiansyah, mahasiswa di UIN Ciputat, aktif di Komunitas Saung, sebuah forum kajian yang gemar menyuarakan pemikiran al-Jabiri dan Gus Dur)