::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

JHONNY ISKANDAR

Bakat Menyanyinya Kian Terasah di Pesantren

Ahad, 21 Juli 2013 16:43 Wawancara

Bagikan

Bakat Menyanyinya Kian Terasah di Pesantren

Probolinggo, NU Online
Dunia pesantren tidak hanya melahirkan guru ngaji ataupun akademisi saja. Alumni pesantren pun banyak yang meramaikan dunia hiburan, seperti Jhonny Iskandar yang tenar sebagai penyanyi dangdut era 1980-1990-an.
<>
Gayangnya sangat khas, dengan rambut panjang terurai yang agak berombak dan kacamata tebal yang diberi rantai. Suaranya juga mudah dikenali, cengkok melayu khas penyanyi dangdut nan melengking.

Mungkin gambaran itu langsung terbenak dipikiran kita ketika mendengar nama Jhonny Iskandar. Ya, bagi pecinta musik dangdut di tanah air, nama Jhonny Iskandar sudah tidak asing lagi.

Ia dikenal sebagai salah satu penyanyi dangdut kondang di era 1980-1990-an. Lagu-lagunya cukup  akrab di telinga para penikmat dangdut. Beberapa lagunya yang booming dan dikenal sampai sekarang di antaranya Bukan Pengemis Cinta, Judul-judulan, Bibir Kuda dan banyak lagi lagu lainnya yang ngehits.

Siapa sangka, sebagian masa mudahnya dihabiskan di pesantren. Pria kelahiran 1960 silam itu tercatat pernah mondok di Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo pada tahun 1973-1977.

Meski hanya 4 tahun, namun bagi Jhonny pengalaman di pesantren itu merupakan salah satu kenangan yang tidak terlupakan. “Mondok di Genggong banyak kenangan yang masih lekat di ingatan saya. Misalnya kalau sedang baca burdah (syair tentang pujian atau sholawat kepada Nabi Muhammad SAW), pokoknya yang paling ramai itu karena bacaan burdah saya dangdutan,” katanya kepada NU Online ketika ditemui di sela-sela sowan ke Pesantren Zaha Genggong.

Pria asli pulau Masalembu, Madura ini mengaku memilih nyantri di Genggong karena kebiasaan masyarakat di tempat asalnya. Rata-rata tetangga seusianya banyak yang mondok di Pesantren Zaha Genggong.

Sejak nyantri itulah, bakat musih Jhonny kian terasah. “Dulu semasa kecil, setiap ke pasar saya sering diajak. Kalau di pasar saya disuruh nyanyi. Pulang dari pasar, saya dapat banyak oleh-oleh karena nyanyian saya,” kenangnya.

Bukan hanya menyanyi lagu dangdut, Jhonny juga memiliki kemampuan menjadi seorang qori’. Kemampuan itu makin terasah di Genggong. Bahkan belakangan ia diberi amanat untuk mengajar Qiroatul Qur’an kepada para santri. “Kalau malam Jum’at (Kamis malam), ngajar di putra. Kalau putri, ngajarnya Jum’at pagi,” jelasnya.

Selama di Genggong, kemampuan vokal Jhonny juga disalurkan dengan menjadi vokalis grup zafin bernama Hijir Marawis Genggong. Jhonny masih ingat nama-nama personil di grup tersebut.

“Ada juga vokalis, namanya H. Yasin. Istrinya namanya Hayyin. Dulu sebelum menikah, istrinya itu menjadi salah satu vokalis di album Mars Pesantren Genggong garapan saya,” urainya.

Selama mondok, grup zafin ini banyak diundang manggung di berbagai tempat. Grup ini pun dikenal masyarakat penikmat lagu padang pasir masa itu. Bersamaan dengan itu, aktivitasnya mengajar qira’ah, bersekolah dan mendampingi almarhum al-arif billah KH Hasan Saifourridzall, pengasuh ketiga Pesantren Zaha Genggong, sama-sama berjalan.

“Saya sering diajak kiai ke mana-mana, istilahnya jadi khaddam. Tetapi saya merasa tidak sekadar menjadi khaddam, karena perlakuan kiai kepada khaddam sudah seperti kepada keluarga sendiri,” kenangnya.

Yang tidak bisa dilupakannya dari nyantri di Genggong menurut Jhonny adalah saat ia dibaiat oleh KH. Ahmad Taufik Hidayatullah, salah satu pengasuh pesantren. “Yang bisa saya andalkan kemampuan olah vokal, ya suara saya. Alhamdulillah, waktu nyantri oleh Kiai Ahmad suara saya dibaiat atau diijazahi,” kata Jhonny.

Karenanya, ijazah itu terus diamalkan oleh Jhonny. Pada tahun 1977, ia menyelesaikan masa mondoknya. Ia lantas ikut orang tuanya yang dipindah tugaskan perusahaannya Continental Oil Company (Conoco) ke Jakarta. Sambil sekolah SMA, kemampuan vokal terus ia kembangkan. Caranya, dengan membentuk grup musik beranggotakan 6 personil termasuk Jhonny sendiri.

Grup itupun sering manggung, bahkan ikut lomba. Baik secara grup maupun individu, Jhonny selalu merebut juara lomba musik itu. Karirnya mulai menemukan jalan, Jhonny makin terkenal saja sebagai pedangdut.

Secara tidak sengaja, Jhonny mempunyai tetangga yang bekerja sebagai penyiar radio Prambors yang terkenal di Jakarta saat itu. “Oleh tetangga saya yang penyiar radio Prambors, saya diminta menjadi penyiar, sekaligus menyanyi di radionya. Saya minta gurp saya dilibatkan dan permintaan saya disetujui,” kenangnya.

Meski terkesan asal-asalan, bukan berarti konsep lagu yang diusung diciptakan sekenanya. Sebab personil grup musiknya mempunyai konsep lagu yang kaya. Hanya saja pilihan lagu yang dibawakan, harus berbeda dengan grup musik lain.

“Ini musik kreatif. Konsepnya di tengah-tengah musik dangdut dan top. Kenapa begitu, karena kami harus sesuaikan dengan cita rasa pendengar musik saat itu. Alhamdulillah, banyak yang suka,” terangnya.

Sayang, Jhonny rupanya tidak hafal berapa jumlah album dan lagu yang dihasilkan. “Yang jelas banyak, lagunya ratusan,” ujar pria yang suaranya sehar-hari terdengar mengumandangkan adzan Maghrib di salah satu televisi swasta itu.

Kisah suksesnya makin lengkap dengan kehadiran 4 putra-putrinya. Yakni, Mohammad Hasan Dzikrullah, Indah Tawakkalni, Siti Saidah Iskandariah dan Siti Malikal Bilqis.

Tidak ingin sia-sia nyantri, ia juga membuat album untuk Pesantren Zaha Genggong. Sebagian lagu diciptakan KH. Hasan Saifourridzall, sebagian lagi oleh Jhonny yang sekaligus sebagai vokalisnya. Dibagian akhir album yang terbit pada tahun 1980 itu, ada do’a khusus yang dibaca Kiai Hasan Saifourridzall.

“Tujuan saya tidak lain hanya untuk mencari barokah. Album itu bentuk pengabdian saya kepada pesantren,” tuturnya. Selain itu, ia juga menjadi pengurus inti Ikatan Alumni dan Santri Pesantren Zainul Hasan (Tanaszaha) di Jakarta.



Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor : Syamsul Akbar