Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Hj Fatimah, ibunda Ketua PBNU H Imam Aziz, wafat Jumat (24/2) pukul 17.15 WIB di Pati, Jawa Tengah ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

LUSY SYARIFAH

Di Bawah Langit Baitur-Rahman

Senin, 26 Agustus 2013 01:00 Cerpen

Bagikan

Di Bawah Langit Baitur-Rahman

Baru kali ini Luthfi membawaku keluar dari kamar asramanya, menikmati angin pagi di dataran tinggi Sukorejo. Selama tiga tahun ini aku selalu tersimpan rapi dalam lemarinya, di dekat foto mimi
<>
Setelah semua kegiatan pesantren selesai, ia baru akan masuk kamar, memanjatkan doa sebelum tidur, menjamah butiran-butiran tubuhku dengan asma Allah. Terkadang ia menitihkan air mata kala kerinduan itu tak bisa dibendung lagi, kerinduan pada seorang pahlawan dalam hidupnya, yang membesarkannya seorang diri.

Semua pekerjaan pagi ini telah Luthfi selesaikan. Sebagai santri khodim, ia selalu bangun paling awal dan beristirahat paling akhir. Selalu ada kekaguman di matanya tiap kali melihat daun-daun yang hijau tumbuh dengan riang, air yang mengalir tiap waktu, dan udara yang berhembus menerobos tiap pori-pori kulitnya. 

“Luthfi, kau lihat Rafi? Sejak sahur tadi saya tidak melihatnya, dia juga tidak ikut mengaji lagi pagi ini, kemana anak itu?” 

Suara Kiai Taufiq memecah renunganku, aku masih di genggaman Luthfi, sayangnya Kiai Taufiq tidak melihatku, jika ia melihatku pasti ia akan mengenali Luthfi.

Enggih, Kiai, nanti saya cari.”

“Kamu yang rajin, jangan tinggal ngaji, jangan lelah nuntut ilmu,” Kiai Taufiq tersenyum sembari menepuk pundak Luthfi, pesan yang selalu sama, “Jangan lelah nuntut ilmu!”

Luthfi pun bergegas mencari sahabatnya, Rafi, yang memang agak susah bangun pagi untuk mengikuti pengajian selepas shalat Shubuh, tapi tampaknya Luthfi sudah tahu di mana tempat persembunyiannya.

“Astaghfirullah, Rafi, kebiasaan buruk toh ya diubah, Kiai Taufiq cari kamu lagi,” Luthfi menyingkirkan ember-ember yang bertumpuk di tempat persembunyian Rafi, memang, ia kerap bersembunyi di bawah tempat tidurnya yang selalu ditutupi deretan ember-ember agar santri yang lain tidak mengetahui keberadaannya.

“Jangan bangunkan saya dulu, Luth,” suaranya masih lemas bahkan matanya masih tertutup rapat.

“Cepat bangun, bukannya kau bilang hari ini kau akan ke kota?”

“Hah? Kota? Ya, kota, aku harus mengambil kiriman ayah,“ seketika Rafi terbangun.

Daerah Pondok Pesantren Baitur-Rahman memang cukup terpencil, istilah bank masih disebut dengan kota, karena bank hanya ada di kota. Mungkin hari ini untuk pertama kalinya aku akan melihat hiruk pikuk Sukorejo lagi, seperti tiga tahun lalu ketika pertama kali Luthfi menginjakkan kakinya di sini. Kemudian bertemu dengan Kiai Taufiq dan akhirnya dibawanya ke Pondok Pesantren Baitur-Rahman, milik kakaknya, Kiai Rahman. Namun sejak saat itu aku hanya bisa membisu, melihat dari sedikit celah di kantong baju Luthfi, ingin aku teriak “Tolong lihat aku!” Tetap saja tidak bisa, aku tetap hanya menjadi saksi mati di antara mereka.

“Raf, apa tidak sebaiknya kita izin dulu pada Kiai taufiq?” Luthfi berjalan dengan cepat sambil membujuk Rafi.

“Sudahlah, Luthfi, hanya sebentar, dua jam, aku janji,” jawab Rafi.

Sebenarnya satu kalipun Luthfi tidak pernah melakukan pelanggaran, “Cukup kali ini saja Raf, sudah.”

Rafi dan Luthfi kemudian berjalan meninggalkan komplek pesantren dengan gelisah dan tergesa-gesa. Di separuh langkah mereka bertemu dengan salah satu santri yang merasa curiga. 

“Rafi, Luthfi, tunggu!,”

Tampak wajah Luthfi yang ketakutan, sebaliknya Rafi yang merasa tenang-tenang saja. 

“Kami akan membeli kitab,” Rafi menjawab.

“Benarkah? Ya sudah, pergilah,” santri itu percaya, pasti karena melihat Rafi bersama Luthfi, Luthfi santri khodim, dia sering membelikan kitab untuk keperluan pesantren, aku baru melihat wajah Luthfi setegang itu, dia bukan orang yang pandai berbohong.
***
“Raf, mesin apa toh ini, bisa ngeluarin uang?” wajah polos Luthfi yang penasaran dengan apa yang dilihatnya.

“Ini namanya ATM Luth, ayahku mengirimkan uang dari Jakarta. Nah, saya bisa ngambil lewat mesin ini, tapi saya harus punya kartu ini, kartu ATM,” Rafi menyodorkan kartu ATM-nya ke hadapan mata Luthfi.

“Canggih ya zaman sekarang Raf, uang bisa berjalan dari Jakarta ke Sukorejo lewat mesin macam ini,” Luthfi masih kebingungan, Rafi hanya tertawa.

“Saya anak tunggal, Luth, tiap hari orangtua saya hanya sibuk bekerja, bekerja dan bekerja, sampai akhirnya saya dipesantrenkan. Sebenarnya saya tidak mau jadi santri yang bandel, Luth, tapi semua orang terlanjur men-cap saya seperti itu, jadi saya memilih apa yang orang-orang tuduhkan.” 

Bukan hanya Luthfi yang terlihat iba, bahkan akupun merasa iba padannya, Luthfi masih menggenggamku erat.

“Seharusnya kamu bersyukur, Raf, karena kamu masih punya orangtua, saya yatim piatu, mimi meninggal di Cirebon saat usia saya baru 10 tahun.  Kalau mama,  kuburannya pun saya tak pernah melihat. Saya hanya tahu namanya, sama seperti namaku, Luthfi Zidni.”

Luthfi, mungkin hanya akulah saksi tentang dirimu sejak lahir, suatu saat nanti, kau pasti akan tahu siapa ayahmu.

Rafi pun iba, ia mendaratkan tangannya ke bahu Luthfi, kemudian menunjuk beberapa spanduk calon presiden yang terpapar di jalanan. 

“Lihat Luth, banyak orang sedang memperebutkan tahta, saya tidak mengerti, banyak orang yang menjadikan kedudukan adalah hal yang sangat penting.”

“Menurut saya, dalam hidup seseorang pastilah ada yang mereka kejar dan dijadikan kebiasaan.”

“Contohnya?”

“Ya, orang-orang yang mengejar harta, kedudukan, cinta, atau agama. Contohnya orang-orang yang setiap hari bekerja, sampai melupakan segalanya, karena yang mereka cari adalah harta.”

“Bagaimana dengan agama?”

“Kamu pernah lihat orang yang setiap hari hanya menghabiskan waktunya dengan berpuasa, shalat dan mengaji, sementara dia juga melupakan hal lain yang juga menjadi kewajibannya. Dalam hidup semua harus seimbang, Raf, Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan, walaupun dari segi ibadah.”

“Kalau kamu, apa yang ingin kau kejar, Luth?”

“Saya? Kamu lihat Kiai Taufiq, Raf? Beliau itu seorang yang taat beribadah, menjadi pemimpin pesantren. Beliau juga berladang dan memiliki istri yang shalihah seperti Nyai Fatimah.”

“Dan putri yang cantik seperti Ning Annisa kan?” Rafi menggoda, Luthfi tersenyum.

“Ya sudah sekarang antar aku beli kitab Taklim-Muta’alim,  Luth.”

“Kitab?”

“Kau ingat apa yang kujawab saat ada santri yang bertanya kita hendak kemana? Aku tak mau berbohong, Luth.” 

Tawa mereka pun pecah di antara panasnya Sukorejo di bulan Ramadan.

***
Kulihat, Kiai Taufiq sudah menunggu di pintu masuk pesantren, tubuhnya yang ditegakkan berhasil membuat Luthfi dan Rafi menjadi ketakutan, tiap butir tubuhku digenggamnya, bermandi keringat.

“Dari mana kalian berdua?”

Aku tahu Luthfi semakin gusar saat mendengar pertanyaan Kiai Taufiq.

“Ka... kami dari kota, Kiai,” Rafi menjawab dengan gemetar.

“Sekarang kalian shalat Ashar, setelah itu isi semua bak mandi santri dan bersihkan surau, semuanya harus sudah selesai sebelum waktu berbuka puasa!”

“Enggih Kiai,” Mereka berdua menjawab.

Aku tahu, ini kali pertamanya Luthfi di ta’zir selama menjadi santri di Baitur-Rahman.
***
Semua bak mandi telah diisi penuh oleh Luthfi dan Rafi. Kasihan mereka berdua, terlihat sangat lelah. Andai aku bisa membantu. 

Kiai Taufiq yang sejak  Ashar di dalam surau, masih memperhatikan mereka berdua. Aku tahu bagaimana cara membantu Luthfi, mudah-mudahan ini cara yang tepat. Aku menjatuhkan diri ke tanah, nyaris terinjak santri lain. Beruntung Luthfi segera mengambilku, ia membersihkanku dengan usapannya yang halus. Ternyata usahaku tidak sia-sia, Kiai Taufiq melihatku.

“Luthfi! kemarilah,” Kiai Taufiq memanggil Luthfi ke surau, aku masih sigap di tangannya.

Mereka berdua pun duduk, Kiai Taufiq membuka pembicaraanya.

“Tiga tahun lalu saat pertama kali kita bertemu di terminal Sukorejo, saya tidak menanyakan nama orangtuamu, karena kau bilang kau yatim piatu, siapa nama ibumu, Nak?”

“Sulastri, Kiai,” Luthfi tidak mengerti kenapa Kiai Taufiq tiba-tiba menanyakan hal tersebut.

“Pada tahun 1986, pesantren ini terletak di Getas, di kaki Gunung Rogo Jembangan. Dulu nama pesantren ini adalah Annur, almarhum abah yang mendirikannya. Kemudian dilanjutkan Kiai Rahman, kakakku. Kau pernah bertanya tentang lukisan di rumah Kiai Rahman, itu adalah  Nyai Aisyah,  istrinya, dan Luthfi Zidni, adalah putranya. Luthfi menikah dengan seorang santriwati khodimah, sejak kecil ia tinggal bersama kami, karena ia yatim piatu, namanya Sulastri.”

Aku bahagia, kebenaran akan terungkap, aku tahu Kiai Taufiq adalah orang yang peka. 

“Maksud Kiai bagaimana?” Luthfi masih belum mengerti.

“Sejak awal aku melihatmu, hatiku tergerak, terlebih saatku mendengar namamu. Delapan belas tahun yang lalu pesantren kami di Getas mengalami persengketaan tanah, padahal di mata hukum tanah itu sah milik keluarga abah. Hingga suatu malam terjadi kerusuhan, orang-orang membakar pesantren Annur. Saat itu Luthfi dan Nyai Aisyah sedang berada di dalam surau, mereka terjebak api, sementara aku dan Kiai Rahman dihakimi oleh benyak orang. Kiai Rahman menyuruh Sulastri untuk menyelamatkan diri dan anaknya, yang kala itu masih bayi merah, bahkan belum sempat diberi nama. Kiai Rahman memberinya sebuah tasbih yang beliau buat sendiri. Butirannya terbuat dari kayu yang terdapat di hutan Gunung Rogo Jembangan. Butir kesebelas diukir nama Rahman Zidni dan butir ke-77 diukir nama Luthfi Zidni. Saya masih paham betul tasbih itu. Setelah kerusuhan itu usai, Kiai Rahman mendirikan pesantren di Sukorejo, dengan nama Baitur-Rahman, dan sejak itu pula kami tidak pernah bertemu lagi dengan Sulastri, dan anaknya,”

Seketika Kiai Taufiq melihatku, memang akulah yang ia maksud. Butiran ke-11 dari tubuhku terukir nama Rahman Zidni, dan butiran ke 77 terukir nama Luthfi Zidni. Kiai Taufiq memeluk Luthfi erat sekali. Ia langsung membawa Luthfi ke hadapan Kiai Rahman yang tak pernah keluar dari kamarnya karena lumpuh. Bukan hanya mereka yang bahagia, bahkan kerinduanku terhadap Kiai Rahman yang dulu dengan sepenuh hati mengukir namanya di  tubuku, akan selalu membekas.

Ning Annisa melihat kami begitu haru, ia menatap dari balik pintu, aku percaya, sepahit apapun, Takdir Tuhan adalah yang terbaik dan akan menjadi indah.



LUSY SYARIFAH, adalah siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat. Ia aktif menulis di MadingSekolah.Net | Portal Pelajar Indonesia.