::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Santri Darul Ulum Pasuruan Baca Ratna Indraswari Ibrahim

Selasa, 24 September 2013 20:00 Daerah

Bagikan

Santri Darul Ulum Pasuruan Baca Ratna Indraswari Ibrahim

Pasuruan, NU Online
“Ada yang pernah mendengar nama Ratna Indraswari Ibrahim?” tanya saya kepada 127 santri putri, berusia sekitar sebelas hingga tujuh belas tahun, Pondok pesantren Darul Ulum, Karangpandan, Pasuruan Senin (23/9). 
<>
Tidak ada jawaban. Hening. Mereka saling menoleh. Beberapa dari mereka nampak berusaha keras memanggil memori tentang nama yang saya tanyakan tadi. Tapi tak ada hasil. 

Suasana ruang belajar TK Ponpes Darul Ulum yang mereka sesaki mulai riuh, beberapa santri mulai berkomentar masygul, “Saya tidak kenal dengan nama itu,” “Tak oneng…, “Apakah dia pengurus Muslimat?”, “Atau  jangan-jangan dia itu alumni pondok kita” 

Itu beberapa komentar yang saya dan Titik Qomariyah, kawan saya, yang sempat terekam. Kami tersenyum. Satu misi terlaksana dengan baik, yaitu membuat mereka penasaran.

Itulah salah satu cara membuka klinik baca-tulis di hadapan para santri pondok. Bukan semata melemparkan pertanyaan, tetapi membangun rasa ingin tahu mereka. Mulailah saya dan Titik bergantian menampilkan slide show presentasi tentang Ratna Indraswari Ibrahim, penulis yang sudah berpulang ke Rahmatullah, 28 Maret 2011 di usia 61 tahun. 

Ratna adalah penulis yang hampir sepanjang usianya menghabiskan waktunya di atas kursi roda karena radang rachitis yang menyerangnya saat ia menjelang pra remaja. Penyakit yang membuat kaki dan tangannya mengecil hingga tak mampu berkatifitas normal layaknya orang lain. Makan, minum, mandi, dan kebutuhan mobilitasnya banyak dibantu oleh orang lain. Tetapi keterbatasan itu mengalirkan energi untuk menghasilkan ratusan cerpen dan puluhan novel yang salah satunya, 1998, bisa mereka baca secara bergiliran. 

Sampai di sini suasana kelas jadi riuh, bermacam komentar mulai muncul dari para santri. Mulai dari komentar simpati hingga keheranan yang tak henti. “Bagaimana ia menulis atau mengetik?”, “Bagaimana ia bisa menghasilkan banyak tulisan?”Dua pertanyaan itu yang paling banyak mereka lontarkan. 

Saya berkata pada mereka, “Lihat kedua tangan dan kaki kalian. Lengkap dan normal. Kalian bisa menghasilkan ribuan tulisan, baik itu cerpen, puisi, bahkan novel sekalipun. Kalian tidak hidup di atas kursi roda seperti almarhumah dan bebas bergerak kemana saja,”

Kelas pun jadi hening. Saya dan Titik memang hendak membuat mereka menyadari potensi mereka untuk menulis bisa dimulai kapan saja karena mereka punya semua modal, yang bahkan tidak dimiliki oleh seorang Ratna. Hanya butuh niat, dan itu gratis.

Setelah itu saya membacakan puisi Ibu karya D. Zawawi Imron dan satu cerita jenaka yang berjudul ‘Kado Untuk Nenek’ untuk memancing imajinasi mereka. Saat saya tanya apa yang kalian ketahui tentang Zawawi Imron, mereka serentak menjawab: Ustad! 

Saya dan Titik tergelak sembari mengangguk-angguk karena mulanya kami menebak mereka akan menjawab: sastrawan. Mengingat sebelumnya saya sudah membacakan puisi Ibu karya Zawawi Imron. 

Di akhir acara saya diberitahu pengasuh pesantren, Gus Haidar Hafeez bahwa Kiai Zawawi Imron yang sastrawan itu datang berkunjung dan memberi tausiyah pada mereka. Ah, mereka memang tidak salah. Sastrawan asal Batang-Batang, Sumenep itu nyatanya memang ustad.

Sesi berikutnya saya dan Titik membagikan kertas untuk mereka. Apa saja bisa mereka tulis di sana. Puisi, cerita singkat tentang diri dan lingkungan mereka, atau buku yang baru saja mereka baca. Tak lebih dari 15 menit, mereka membuat kami kewalahan karena mereka menulis lebih cepat dari apa yang kami pikirkan dengan hasil tulisan yang membanggakan. 

Umumnya tulisan mereka kental dengan kalimat-kalimat relijius, muncul latar-latar tempat lokal dan kental nuansa santri berikut lingkungan pondok. Bagi saya, ini awal yang baik, karena menulis sejatinya adalah merawat kehidupan. Turunnya Al Qur’an yang disampaikan secara lisan kepada Nabi Muhammad SAWsdan kemudian dituliskan, sebenarnya secara implisit memerintahkan umat untuk aktif membaca sekaligus menulis. Apalagi ayat pertama yang diturunkan Allah Swt adalah “iqra” (Bacalah).

Di sesi pamungkas, kami memberi mereka kenang-kenangan sekadarnya bagi enam tulisan terbaik dan sepakat menulis review tentang Ratna Indraswari Ibrahim, yang akan kami baca bersama-sama pekan ini. Tentu teriring lantunan Al Fatihah untuk almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim. Spiritmu kutebar diantara para santri, mbak Ratna, tunggu, mereka tengah menyiapkan tulisan yang akan bisa kau baca dari tempatmu di sana…Gema #SastraSantri mulai kami kumandangkan dari sini, dari lingkungan kami yang hendak merawat kehidupan melalui pena…(Ari Ambarwati/Abdullah Alawi)