::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Abu Hapsin Umar: Hidup Berkesimbangan Itu Indah

Kamis, 21 November 2013 15:03 Wawancara

Bagikan

Abu Hapsin Umar: Hidup Berkesimbangan Itu Indah

Konflik antar agama maupun etnis acapkali menjadi permasalahan yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemerintah dan lembaga-lembaga agama harus mampu mengatasi persoalan itu.  Berikut wawancara dengan Dr. Abu Hapsin Umar Ph. D, Ketua PWNU Jateng yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Wakil Ketua MUI Jateng.<>

Boleh diceritakan fokus tugas Anda?

Jika kita bergerak dalam organisasi keagaamaan tentu tugas utama kita adalah memuliakan Islam. Karena seperti yang diperintahkan oleh  Al Quran dan  Nabi Muhammad saw untuk menegakkan  Islam. Jadi yang saya lakukan semuanya izzul islam wal muslimin. Tegaknya agama Islam dan masyarakatnya menjadi pemeluk Islam yang benar, bukan pemeluk  Islam yang  terlalu bersemangat dan galak-galak itu.

Kisah perjalanan hidup Anda sepertinya menarik?

Cukup panjang ceritanya ya.  Tahun 1971 saya masuk pesantren, waktu itu usia saya  11 tahun empat bulan.   Pesantren yang pertama saya masuki di  Babakan Ciwaringin, Cirebon. Tahun 1973  pindah ke pesantren Cipasung Tasikmalaya pengasuhnya Kiai Ilyas Ruhyat. Tahun 1979 pindah ke pesantren di Lirboyo Kediri sampai tahu 1985.

Selepas mondok saya melanjutkan ke IAIN Walisongo Semarang dan lulus sarjana tahun 1988. Kemudian mengikuti seleksi jadi dosen dan diterima. Beberapa tahun mengajar  ada tawaran seleksi kuliah di luar negeri, dan  diterima juga. Tahun 1990 saya berangkat ke University of California  Los Angles (UCLA),  Amerika Serikat. Dua tahun saya  menyelesaikan gelar master dan pulang  pulang ke Indonesia. Tahun 1996 saya berangkat lagi ke Mahidol University Bangkok untuk meneruskan S3.

Apa yang Anda pelajari sampai harus kuliah di luar negeri?

Saat di UCLA saya mengambil konsentrasi sejarah Islam. Jangan salah lho, belajar sejarah itu bukan semata menghapal kejadian, siapa pelakunya, bukan hanya itu. Belajar sejarah itu belajar merekonstruksi fakta agar bisa direduksi menjadi narasi yang enak diceritakan. Termasuk faktor-faktor penyebab peristiwa, latar belakang, dan lain sebagainya.   Dampak peristiwa pada saat itu.  Belajar sejarah  islam itu tidak harus dari Kiai. Siapa pun bisa menjadi narasumber.

Nah di Mahidol University saya mengambil konsentrasi  religius studies. Sebuah studi yang melihat  agama bukan sebagai keyakinan, tetapi mempelajari agama sebagai gejala sosial dan tafsir masyarakat. Bagaimana hubungan agama dengan politik, hubungan agama dengan masyarakat, hubungan agama dengan individu. 

Misalnya bagaimana sih umat Islam mengamalkan ajaran agamanya. Seharusnya umat Islam itu umat yang paling bersih, karena Allah  sangat keras mengatur segala sesuatunya dalam Al Quran. Contoh, siapa yang mencuri harus dipotong tangannya. Tapi di Indonesia, para koruptor kebanyakan beragama Islam. Nah yang saya pelajari kenapa umat Islam tidak patuh dengan ajarannya. Kenapa dia tidak takut dengan ancaman yang ada di Quran?  

Belajar komparasi agama juga?

Iya pasti. Sebelum saya menjadi Ketua FKUB sebenarnya saya sudah banyak bergaul dengan pemeluk agama lain, terutama Budha. Nah dari sini saya banyak tahu di Budha itu juga ada banyak alirannya. Protestan juga lebih banyak lagi. Jadi jangan kaget kalau di islam juga banyak aliran-alirannya.

Semua ini merupakan realitas sosial  yang ada dalam kehidupan kita. Dan akan terus muncul penafsiran-penafsiran tentang agama selama orang masih dibebaskan memeluk agama.  Persoalan agama, persoalan yang abadi takkan pernah habis.  Atas dasar itulah saya melihat studi agama menarik untuk dipelajari.

Intoleransi kehidupan antarumat beragama   di Indonesia juga sering terjadi apa sebabnya?

Penyebabnya mereka tidak seimbang dalam menjalankan ajaran agamanya. Pertama, orang itu harus seimbang antara semangat dan pengetahuan agama. Kalau orang itu terlalu bersemangat menjalankan keyakinannya tetapi pengetahuan tentang keyakinan itu nol, nanti dia akan menganggap yang diyakini itu paling benar karena saking semangatnya. Orang lain salah. Jadi dia tidak pernah melihat bahwa kebenaran itu relatif. Kebenaran itu merupakan hasil penafsiran.

Rasul   itu sangat toleran terhadap perbedaan.   Nabi sangat toleran terhadap para sahabatnya yang berbeda-beda itu. Kita  harus meniru apa yang dilakukan oleh nabi.

 Apa yang dilakukan FKUB untuk mewujudkan keharmonisan  itu?

Pertama yang harus ditanamkan kepada masyarakat adalah  kesadaran bahwa keberagaman itu indah. Kita juga terlahir karena ketidak seragaman. Orang tua kita kan berbeda; laki perempuan. Ketidakseragaman itu prinsip  alam. Jadi kalau ada yang memaksakan paham keseragaman, berarti ia bertentangan dengan kodrat alam. Alam itu indah karena berbagai ragam isinya. Taman itu mesti  isinya tanaman berbagai jenis.

Tetapi kalau ketidakseragaman ini tidak ditata, juga tidak indah. Di Indonesia kan ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan lainnya. Ini kan tidak seragam. Makanya butuh ditata, butuh dimanage.Supaya berbagai agama ini menghiasi bumi Indonesia. Sadar akan keberagaman. Sadar akan penataan yang indah. Keberagaman itu sunatullah. FKUB tugasnya itu seperti itu, mengharmonisasi  bukan mempersatukan paham.

Catatan terakhir Anda!

Kita harus belajar dari alam.  Alam itu indah karena berkeseimbangan. Kalau kita hidup berkeseimbangan akan indah. Termasuk dalam beragama. Nadlatul Ulama prinsip dasarnya adalah tawazun. Berkeseimbangan. Karena itu indah cara beragamanya. Kita bisa menyatu dengan semua orang. Kita tidak membuat jarak dengan masyarakat. (Muslihudin el Hasanudin/Anam)