::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Akses Penguasaan Bahasa Jawa Ditutup Belanda

Jumat, 22 November 2013 17:06 Nasional

Bagikan

Akses Penguasaan Bahasa Jawa Ditutup Belanda

Yogyakarta, NU Online
Salah satu jalan untuk menggali tradisi demi menemukan jati diri bangsa adalah dengan menguasai kembali bahasa Jawa. Namun akses untuk menggali tradisi tersebut saat ini sudah terputus dan terkunci, karena tak banyak orang yang menguasai bahasa Jawa. 
<>
Demikian disampaikan Wakil Ketua PWNU DIY M Jadul Maula dalam dialog “Menggali Tradisi Menemukan Jati Diri” di Teaterikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (20/11) siang. 

Tradisi kuno, lanjutnya, banyak terdapat di manuskrip-manuskrip kuno yang berbahasa Jawa. Permasalahannya saat ini adalah tak banyak dari generasi bangsa yang menguasai bahasa Jawa. “Peluang untuk menyelamatkan ilmu saat ini ada di Jawa dan Pegon,” tegas Budayawan NU siang itu.

Menurutnya, incaran Belanda dari dahulu untuk menghilangkan jati diri bangsa adalah memulainya dari bahasa. Karena, itulah titik paling strategis.

Tak banyak pula yang menyadari, sesungguhnya peradaban Indonesia sudah sejajar dengan peradaban dunia. 

Bahasa Indonesia atau Melayu juga telah menjadi bahasa ilmu pengetahuan dunia. Salah satu ulama’ yang mengarang kitab berbahasa Melayu adalah Hamzah Fansuri. Karyanya ialah kitab Tarjumanul Mustafid dan Mir’atut Thullab.

Namun hari ini kita tidak punya akses ke sana, imbuh Jadul yang juga pengasuh Pesantren Kaliopak Piyungan, Bantul.

Di akhir, pria yang akrab disapa Kang Jadul menegaskan, inti kebudayaan itu bukan terdapat pada baju, bentuk, dan produknya tetapi pada proses menyatunya fikiran, perasaan, dan kehendak (manunggaling cipta, rasa, karsa) yang kelak menyatu dalam ucapan dan tindakan.

Itulah inti kebudayaan, yaitu proses, tandas Jadul. (Dwi Khoirotun Nisa’/Alhafiz K)