::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARLAH KE-88 NU

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan

Senin, 03 Februari 2014 09:30 Halaqoh

Bagikan

Danial Tandjung: Berbeda Pendapat Bukan Berarti Bermusuhan

Di tengah riuh ramai peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-88 Nahdlatul Ulama di gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat (31/1), Jum’at malam, hadir seorang mantan aktivis NU era 1960-an. Dialah Haji Muhammad Danial Tandjung (80). Dilihat dari sorot matanya yang tajam namun teduh dan pancaran wajahnya yang cerah, bisa ditebak sosok yang masih gagah di usia senjanya ini bukan orang biasa.<>

Sesaat sebelum wawancara dengan NU Online, pria kelahiran Nias tahun 1934 ini duduk menikmati makan malam di dekat tim marawis. Tampak dari wajahnya yang sumringah, ia asyik menikmati sholawatan sembari sesekali berbincang akrab dengan Katib Syuriah KH Mujib Qulyubi yang diikuti dua putrinya yang cerdas dan aktif.

Berikut ini petikan wawancara Musthofa Asrori dari NU Online dengan eksponen NU yang meniti karir organisasinya sejak muda ini.

Apa yang ada dalam pemikiran Pak Danial tentang NU hari ini?

Mmm... Saya nggak tau yaa.. Bahwa malam ini merasa terharu dan gembira menyaksikan para kader NU antargenerasi bisa duduk bersama. Saya bangga melihat Kiai Said Aqil Siraj duduk sama rendah dengan Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Masdar Farid Mas’udi, Pak As’ad Said Ali, Ali Masykur Musa, Marzuki Ali dan beberapa tokoh lainnya bersama perwakilan keturunan para pendiri NU, mulai Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Hasbullah, Mbah Bisri Syansuri, Kiai Djamaluddin Malik, hingga H Asrul Sani, dan yang lainnya.

Sejak kapan Anda aktif di organisasi Nahdlatul Ulama?

Saya aktif di organisasi Nahdlatul Ulama dan underbow-nya semisal PMII dan Pandu Ansor (sekarang Gerakan Pemuda Ansor-red) sejak muda belia. Saya meniti karir dari bawah hingga akhirnya saya bergabung di PBNU era KH Idham Cholid. Jabatan terakhir yang saya sandang adalah wakil bendahara umum.

Apa yang menarik dari gaya kepemimpinan Idham Cholid? Tanggapan Anda..

Menurut saya, Pak Idham itu tokoh kharismatik dan politisi ulung yang matang dan mau berproses. Selama hampir 26 tahun beliau memimpin NU, tidak ada anaknya yang jadi pengurus NU, jadi anggota DPR pun tak ada. Itulah mengapa saya sangat mengidolakan beliau.

Mengapa Anda mengidolakan Kiai Idham?

Bagi saya, Pak Idham adalah tokoh yang merakyat dan bersahaja. Suatu ketika, ada kiai yang mau menghadap kepada beliau. Padahal beliau sedang menggelar rapat kabinet di kantor Perdana Menteri di Pejambon. Waktu itu, Pak Idham kan menjabat sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri-red) IV di Kabinet Dwikora II. Waperdam I Dr Subandrio, Waperdam II Dr J Leimena, dan Waperdam III Chaerul Saleh. Nah, tak lama kemudian, masuklah ajudan memberitahu bahwa ada tamu seorang kiai dari Jawa Timur. Dengan tanpa berpikir panjang, Pak Idham mengiyakan. Kemudian, untuk sejenak meninggalkan rapat untuk menemui kiai tersebut.

Koleganya sesama menteri pun sontak menegur Idham Khalid. “Pak Idham ini bagaimana, ada rapat kabinet membicarakan masalah negara yang begitu penting kok malah ditinggal nemuin tamu,” kata salah seorang kawan Idham di kabinet. Tapi, Pak Idham pun menyanggah. “Dia datang ke sini jauh-jauh kan pasti ada sesuatu yang penting. Mana tahu apa yang dia sampaikan bisa kita jadikan bahan rapat kabinet. Ingat, kita duduk di sini karena mewakili suara mereka. Kalau tidak kita dengar, apa yang mau kita bawa,” begitu kata Pak Idham.

Pelajaran penting apakah yang harus diketahui kader NU masa kini?

Ada pelajaran penting untuk para aktivis NU ke depan. Ketika Idham Khalid memimpin PBNU, oposisi atau faksi yang beragam mengelilinginya. Hingga batas tertentu, oposisinya cenderung keras sekali. Pada Muktamar NU di Bandung, misalnya, sebetulnya para kader muda NU sudah merasa bosan dengan kepemimpinan Pak Idham. Pertama yang dilakukan adalah mengganti Rais Aam KH A Wahab Hasbullah dengan wakilnya, yaitu KH Bisri Syansuri. Pada waktu pemilihan berhasil, laporlah seorang panitia kepada Kiai Bisri bahwa Rais Aam terpilih adalah KH Bisri Syansuri.

Kakek Gus Dur dari ibu ini pun lantas mengatakan, “Saya berbeda pendapat dengan Kiai Wahab itu bukan untuk menggantikan beliau. Berbeda pendapat itu untuk mencari kebenaran. Saya tidak bersedia menjadi Rais Aam selama masih ada beliau.” Kiai Bisri dengan tegas bilang begitu.

Artinya apa itu..?

(Ia pun dengan semangat terus bercerita)

Pada saat pemilu, kader-kader muda NU potensial banyak yang disiapkan menjadi pengurus PBNU. Antara lain Imron Rosyadi, faksi yang berseberangan dengan Idham Khalid. Mendengar Imron tidak terdaftar, Idham segera mengambil langkah politis. “Sekarang begini, ambil dua kursi di depan pintu masuk ruang sidang, nanti kami berdua (Idham-Imran) akan berbincang akrab di situ.” Yang disuruh Pak Idham pun lantas segera melakukan apa yang dikatakannya tadi. Nah, dari sandiwara itu kemudian terpilihlah Imran Rosyadi sebagai pengurus.

Artinya apa itu..?

Artinya ya dalam organisasi kita mesti cerdas memilah antara beda pendapat dengan bermusuhan. Sekarang ini kan tidak. Umpamanya Anda faksi yang berbeda dengan saya. Lalu, saya terpilih jadi ketua umum. Sudah pasti, Anda dan faksi-faksi yang berseberangan dengan saya pasti terlibas (dari kabinet-red). Inilah penyakit berorganisasi pada masa sekarang ini.

Apakah Anda melihat hal tersebut juga menggejala di organisasi yang lain? Semisal parpol begitu?

Apalagi partai politik. Kebanyakan elit politik sekarang ini tak lagi memiliki spirit sebagaimana saat saya berorganisasi dulu. Idealisme yang diperjuangkan ketika menjadi aktivis telah luntur. Para elit masa kini kan jika berbeda pendapat sedikit saja langsung main jegal, “menggunting” di lipatan, dan saling mencari muka di hadapan pimpinan. Menurut saya, kader-kader muda partai tersebut bisa dibilang tak memiliki akar ideologi yang kuat. Makanya, gampang padam.

Idealnya, parpol tak hanya sekadar pemasok calon anggota dewan dan calon presiden, namun dia musti memahami esensi peranannya bagi bangsa dan negara, yakni memakmurkan rakyat yang diwakilinya. Hari ini bisa kita saksikan secara kasat mata, betapa politisi kita dalam berpolitik sungguh mengkhawatirkan. Semua kebijakan yang dikeluarkan nyaris berujung kepada money politic (politik uang).

Saran dan harapan Anda bagi kader NU ke depan?

Para aktivis NU sejatinya tak jauh beda dengan politisi, dalam arti pengkaderannya. Jadi, politisi itu menjadi anggota dan kader dulu di partai politik sebelum menjadi pejabat publik. Di parpol kan ada latihan kader yang berisi tentang bagaimana arah ideologi partai, visi, wacana, dan strategi dalam pembangunan bangsa. Di sinilah seorang politikus akan bersaing dan saling beradu wacana demi satu tujuan, yaitu membangun bangsa yang lebih baik.

Kader partai yang memang benar-benar kapabel dan mumpuni baru akan diterjunkan menjadi pejabat publik. Dengan kata lain, kader partai yang akan menjadi pejabat publik benar-benar orang yang memiliki kualitas, integritas, dan telah melewati jenjang keorganisasian yang layak. Bukan seperti sekarang yang karena uang dan popularitas. Nah, aktivis NU juga demikian. Mestinya dia melewati kaderisasi yang berjenjang kayak zaman saya muda dulu.

Terima kasih atas pandangan dan nasihatnya, Pak Danial..

Ya, sama-sama. Saling mendoakan yaa.. Doakan saya sehat dan bisa bermanfaat bagi semua. (Red: Anam)