::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pasal Hari Santri

Selasa, 28 Oktober 2014 23:01 Risalah Redaksi

Bagikan

Pasal Hari Santri

Salah satu yang menyebabkan istilah “hari santri” mencuat ke permukaan adalah justru karena “janji” Jokowi itu direspon oleh kubu capres lain. Seorang petinggi partai politik yang bersaing dengan kubu capres Jokowi menyampaikan komentar dengan bahasa yang tidak elok. Spontan, komentar itu menjadi bahan kampanye negatif yang justru merugikan kubu capres lain itu. Pengamat politik mengatakan, banyak santri yang awalnya tidak berkepentingan dengan pilpres justru malah bersimpati dengan Jokowi.<>

Padahal, janji penetapan hari santri itu juga terkesan muncul spontan di musim kampanye.

Baiklah, istilah hari santri sudah terlanjur menjadi perbincangan. Pada peringatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1436 H kemarin, banyak yang menunggu-nunggu apakah hari santri itu jadi ditetapkan. Sebagian aktivis yang mengidentifikasi diri sebagai santri tidak bisa menahan diri untuk menagih janji kampanye. Dan, ternyata tidak ada pengumuman apapun tentang penetapan hari santri, meskipun tanggal 1 Muharram terjadi setelah presiden baru dilantik.

Apakah satu Muharram pantas dan perlu ditetapkan sebagai hari santri? Beberapa tokoh ormas Islam dan MUI menyatakan tidak setuju. 1 Muharram adalah hari besar umat Islam sedunia. Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, malahan mengusulkan tanggal lain untuk ditetapkan menjadi hari santri, yakni tanggal 22 Oktober, tanggal dideklarasikannya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari yang menyerukan umat Islam berjuang mengusir tentara Sekutu.

Tepat pada tanggal 1 Muharram kemarin, orang dekat presiden yang terlibat dalam kampanye buru-buru mengklarifikasi janji hari santri. Bahwa yang benar bukan penetapan tanggal 1 Muharram menjadi hari santri. “Tapi presiden dalam janji kampanyenya akan menetapkan Hari Santri di 1 Muharram.” Entah tanggal 1 Muharram tahun kapan.

Sebelum melanjutkan polemik mengenai hari santri, pertanyaannya siapa sebenarnya yang dimaksud dengan santri?

Diskursus mengenai santri mengalami pergeseran. Istilah santri yang paling populer terdapat dalam tesis antropolog Amerika Clifford Geertz tentang trikotomi santri, abangan dan priyayi. Di sini kelompok santri diperbandingkan dengan kelompok abangan, meskipun sama-sama beragama Islam. Kaum santri umumnya hidup di daerah pesisir dan berprofesi sebagai pedagang, sementara kaum abangan ada di luar pusat perdagangan dan lebih banyak berprofesi sebagai petani. Kaum santri lebih puritan, sementara kaum abangan lebih akrab dengan berbagai tradisi keagamaan.

Tesis Geertz itu memang sangat rawan kritik, namun kenyataannya masih menjadi bahan bagi para politisi dan pengamat dalam menyusun peta politik. Belakangan malahan santri dan abangan sulit sekali dibedakan. Dalam hal tradisi keagamaan, sekedar misal, santri dan abangan sudah bertemu di kuburan atau makam para wali untuk bertawassul bersama. Siapa santri siapa abangan menjadi tidak jelas.

Namun menyimak polemik hari santri, baik dari pihak yang setuju maupun tidak dengan penetapan hari santri, dapat dipastikan bahwa yang dimaksud dengan santri di sini adalah terkait dengan istilah pesantren, yakni tempat belajar para santri. Istilah pesantren sebagai tempat mempelajari banyak hal tentang agama sudah digunakan di Nusantara jauh sebelum Islam datang, kemudian masih digunakan oleh para penyebar Islam. Demikian juga dengan santri. Pesantren bahkan menjadi pusat penyebaran agama Islam dan para santri kemudian menyebar kemana-mana.

Jadi santri yang dimaksud adalah sebuah komunitas umat Islam yang berpusat di pesantren dan belakangan disatukan dalam wadah organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Kembali kepada hari santri, presiden ke-7 Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bapak Jokowi, memang sangat aktif menyapa rakyatnya. Jangankan komunitas besar bernama santri, dalam pidato pertamanya sebagai presiden pada 20 Oktober lalu, orang Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan, petani, bahkan tukang bakso pun disebutnya sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang ia pimpin.

Akhirnya, penetapan hari santri itu sendiri, kalaupun dilakukan, sebenarnya tidak  terlalu terkait dengan jabatan dan tugas sebagai seorang presiden. Mengutip pernyataan orang dekat presiden tadi, penetapan hari santri pada 1 Muharram 1436 kemarin belum dilakukan karena Pak Presiden tidak ingin hanya mengeluarkan selembar Keppres untuk menetapkan hari santri itu. Namun lebih dari itu, Presiden ingin melakukan aktivitas-aktivitas yang substansial berkaitan dengan pembangunan pesantren, memajukan level pendidikan untuk para santri, dan meningkatkan ekonomi umat. Ya, lihat saja nanti. (A. Khoirul Anam)