::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Soal PMII, Hasil Munas-Konbes NU Jadi Perbincangan di Warung Kopi

Selasa, 04 November 2014 08:08 Daerah

Bagikan

Soal PMII, Hasil Munas-Konbes NU Jadi Perbincangan di Warung Kopi

Yogyakarata, NU Online
Salah satu rekomendasi dari Musyarawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) yang berlangsung pada 1-2 November 2014 di Jakarta adalah memberikan tenggang waktu kepada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk kembali ke NU sampai Muktamar NU pada 2015 mendatang.
<>
Rekomendasi ini mengundang munculnya berbagai pandangan dari kader PMII. Ada yang sepakat ada pula yang tidak. Di Yogyakarta, isu tentang kembalinya PMII ke NU menjadi diskusi ringan para kadernya di warung kopi Blandongan, Senin (3/11).

Pada kesempatan itu, Nurul Huda, Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2010-2011 menyatakan sepakat dengan usulan PMII kembli ke NU dengan pertimbangan bahwa antara PMII dan NU tidak bisa dipisahkan.

"Indipendensi PMII dari NU pada deklarasi Murnajati, Malang tahun 1972 itu karena NU menjadi partai politik. Tetapi kan sekarang NU sudah tidak lagi menjadi Parpol sesuai amanat NU kembali ke khittah 1926," ucap Huda, yang juga alumni PC PMII DIY.

Menurutnya, keberadaan PMII akan semakin kuat dalam melakukan kerja-kerja pergerakan sebab penopang secara struktural akan semakin kokoh.

Pandangan lain disampaikan Siswadi. Kader PMII Yogyakarta angkatan 2007 yang juga mantan Wakil Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga ini menuturkan bahwa jika PMII kembali ke NU maka ruang gerak PMII sebagai organisasi mahasiswa akan terbatasi.

"Saya pikir tetaplah PMII seperti ini, sebab PMII sudah mapan dengan kondisi seperti ini," ungkap Siswadi di sela-sela diskusi. (Romel Masykuri/Mahbib)