::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren Al-Firdaus Didirikan untuk Membimbing Anak Kecil

Kamis, 04 Desember 2014 07:06 Pesantren

Bagikan

Probolinggo, NU Online
Wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, termasuk daerah dengan jumlah pesantren yang cukup banyak. Di antara yang banyak itu, ada Pesantren Al-Firdaus yang konsentrasinya membina anak usia SD (Sekolah Dasar). Komitmen pesantren adalah membentengi moral para santri dengan ilmu agama.
<>
Pesantren Al-Firdaus berada di Dusun Randulimo RT 03 RW 01 Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Pesantren ini tidak menampung santri berusia dewasa, tetapi khusus santri dari kalangan anak kecil.

“Pembinaan kepada santri yang usianya muda lebih mudah jika dibandingkan dengan usia yang sudah dewasa,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Firdaus, Ustadz Sugianto, Rabu (3/12).

Secara geografis Kecamatan Dringu bisa disebut berada di kawasan perkotaan. Ia berpandangan, kondisi sosial masyarakatnya berbeda dengan perkampungan. “Arus pergaulan lebih berbahaya. Karenanya, sejak kecil anak sekitar sini harus lebih dibentengi ilmu agama,” tegasnya.

Pesantren ini memang didirikan untuk khidmah kepada masyarakat sekitar. Sehingga santri yang belajar di pesantren hanya warga sekitar Desa Randuputih dan desa terdekat. Jumlahnya lumayan banyak sekitar 35 santriwan dan 45 santriwati.

Sistem yang diterapkan juga tidak sama dengan kebanyakan pesantren. “Santri kami bisa pulang tiap hari. Mereka hanya mukim tiap Kamis malam Jumat dan Sabtu malam Ahad,” terang Sugianto.

Sistem ini sengaja dipilih karena pesantren ini belum memiliki pendidikan formal. Sehingga santri hanya belajar salaf saja. “Efektif waktu belajar setelah Duhur,” jelas ayah empat anak ini.

Kegiatan di pesantren dilakukan mulai usai salat Duhur di Madrasah Diniyah (Madin). Ini khusus santri usia 7-15 tahun. Sementara untuk santri yang berumur 5-6 tahun, masuk Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ). “Dibagi sesuai jenjangnya,” katanya.

Santri yang belum pernah masuk pendidikan TPQ, tidak diperbolehkan masuk di Madin. “Syarat untuk masuk madin, ya harus lulus TPQ dulu,” imbuhnya.

Di TPQ, santri diajari menulis dan membaca Al Quran. Sementara pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah, materi pendidikan yakni belajar kitab kuning, ilmu Fiqh dan hadits. “Kalau belum bisa baca Al Qur’an, juga belum boleh masuk Madin. Karena materi di Madin jauh lebih sulit,” ungkap Sugianto.

Pengajaran di TPQ dan Madin itu selesai pada pukul 17.00. Para santri kemudian bersiap jamaah Salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an sampai tiba waktu Salat Isyak.

Usai Salat Isyak, masih ada pengajian kitab kuning hingga pukul 20.00. “Setelah itu santri bisa pulang. Tapi kalau mereka mau bermalam, kamar sudah kami sediakan. Tak jarang ada yang menginap. Mereka baru pulang usai Salat Subuh untuk persiapan berangkat sekolah,” katanya.

Sugianto sendiri punya keinginan untuk mendirikan pendidikan formal. Namun, karena pesantren ini baru berdiri pada 2002, dana yang dimiliki masih belum memadai. “Madin hanya punya dua ruang kelas. Mushala juga digunakan untuk ruang belajar. Nanti bertahap saja pembangunannya,” terangnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)