::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Para Malaikat Selalu Mencari Majelis Zikir

Kamis, 19 Maret 2015 01:03 Daerah

Bagikan

Padangpariaman, NU Online
Majelis zikir mampu menjadi perekat umat dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sementara umat yang selalu berzikir dapat dipastikan hidupnya akan tenang, jauh dari kegelisahan dan sanggup menghadapi berbagai tantangan kehidupan.  
<>
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Barat Prof. Dr. Syamsul Bahri Katib mengungkapkan hal itu pada peringatan HUT ke-11 Majelis Zikir Istiqamah Syatariah (MAZIS) Kabupaten Padangpariaman, Kamis (18/3/2015), di Tobohgadang, Kecamatan Sintoga, Kabupaten Padangpariaman.

Turut memberikan sambutan Kepala Kanwil Kemenag Sumbar diwakili Kepala Bidang Pendidikan Islam dan Keagamaan Afrizal, dan laporan Ketua MAZIS Syafri Tuanku Imam Sutan Sari Alam yang juga Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Padangpariaman. Hadir Ketua MUI Padangpariaman Dr. Zainal Tuanku Mudo.

Syamsul Bahri Katib dalam tausyiahnya menyebutkan, ada dua majelis. Yakni majelis taklim dan majelis zikir. Majelis taklim digunakan untuk lebih fokus belajar agama. Sedangkan majelis zikir merupakan aplikasi atau pengamalan dari majelis taklim tadi.

"Para malaikat selalu mencari majelis zikir yang terus menyebut dan mengingat asma Allah. Ketika malaikat kembali menghadap Allah, maka dilaporkan bahwa ada majelis zikir yang selalu menyebut-nyebut nama-Mu, ya Allah. Dengan demikian, orang berzikir akan selalu merasa dekat dengan Allah," kata Syamsul Bahri.

Untuk itu, kata Syamsul Bahri, mereka yang sudah aktif di majelis zikir ini jangan berniat hendak keluar. Kenapa? Mereka yang keluar dan meninggalkan majelis zikir akan dicabut Allah tanda Islamnya di pundaknya. Walaupun tanda tersebut tidak bisa dilogikakan, tidak bisa dilihat seeorang apakah ada tanda itu atau tidak. 

"Dengan demikian, anggota majelis zikir haruslah bersabar dalam menghadapi masalah. MAZIS sebagai organisasi pastilah ada masalah, tapi jangan sampai membuat anggotanya meninggalkan majelis zikir ini," kata Syamsul Bahri.

Ditambahkan Syamsul, orang sekarang banyak ceritanya, tapi minim zikirnya. Membuktikannya gampang, ketika kakinya tersandung, apa yang dibacanya. Jika spontan baca astaghfirullah......, berarti mereka sudah terbiasa berzikir. Begitu pula dengan kegiatan lain, adanya membaca sesuatu yang dianjurkan agama, maka mereka sudah berzikir.

Bupati Padangpariaman Ali Mukhni mengajak anggota MAZIS untuk  berzikir agar lebih dekat  dengan Allah. Karenanya zikir harus dijadikan kebutuhan hidup, sehingga jiwa merasa tentram. Jangan sampai putus satu detik pun dari berzikir. "Zikir akan menjadi kekuatan luar jika dirutinkan," kata Ali Mukhni.

Ali Mukhni menceritakan, rata-rata setiap hari tidur hanya 2 hingga 3 jam. Karena padatnya kegiatan kemasyarakatan yang harus dihadiri. Beberapa orang, termasuk SKPD menanyakan apa resepnya bisa tidur selama, dan tetap masih segar bugar dalam keseharian. 

"Jawab saya hanya memperbanyak zikir. Mungkin juga doa dari majelis zikir yang bertebaran di Padangpariaman, termasuk MAZIS ini. Zikir yang kita lakukan mana tahu menjadi kekuatan dalam menjaga kondisi fisik," kata Ali Mukhni.

Ketua MAZIS Syafri Tuanku Imam menyebutkan, didirikan sebelas tahun lalu. Saat ini sudah memiliki 700 lebih anggota yang tersebar di berbagai nagari di Kabupaten Padangpariaman. "Alhamdulillah, MAZIS sudah memiliki akte badan hukum dan akan terus berzikir. Mudah-mudahan MAZIS tidak saja memberikan manfaat kepada anggotanya, organisasinya (MAZIS), masyarakat Padangpariaman, tapi juga  pemimpin dari daerah Padangpariaman sendiri. Pemimpin yang benar-benar berbuat untuk kepentingan umat, selalu dilindungi Allah dalam melaksanakan tugasnya," kata Syafri. (armaidi tanjung/abdullah alawi)