::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lakpesdam: Ruh NU ada di Desa-desa

Jumat, 20 Maret 2015 23:27 Nasional

Bagikan

Lakpesdam: Ruh NU ada di Desa-desa

Banjarmasin, NU Online 
Ranting sebagai ujung tombak NU di desa dalam garis struktural berada dalam posisi terbawah. Namun justru di situlah basis massa kekuatan NU berkedudukan. Legitimasi kebesaran NU berangkat dari amaliyah Aswaja yang dipraktikkan warga nahdliyin di desa (kelurahan) ini, seperti yasinan, tahlilan, sholawatan, dan seterusnya. 
<>
Di Kalimantan Selatan, semisal di Banjarmasin, meski amaliyah warganya mayoritas adalah NU, tapi mereka jarang bahkan tidak pernah bersentuhan dengan pengurus Ranting di desanya masing-masing. 

Secara struktural, pengurus NU di tingkat desa/kelurahan adalah pengurus ranting. “Karena itu, kami tertarik dengan Pelatihan Penggerak Ranting yang digagas oleh PP Lakpesdam ini yang secara khusus ingin menggerakkan pengurus ranting,” ujar Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Kalimantan Selatan Syarbani Haira.

PWNU Kalsel menunjuk PW Lakpesdam NU agar bekerja sama dengan PP Lakpesdam NU untuk menggerakkan pengurus-pengurus ranting se-Kalimantan Selatan. Pada tanggal 13-15 Maret, pelatihan tersebut telah digelar dengan menghadirkan fasilitator dan narasumber dari PP Lakpesdam dan alumni Kader NU asal Kalsel yang bertempat di Gedung Dakwah NU Kalsel.

“Pelatihan ini diikuti sebanyak 30 orang yang terdiri atas pengurus ranting dan aktivis NU di desa dan berusia di bawah 40 tahun. Sebagian dari peserta merupakan intelektual muda NU yang sudah menyelesaikan pendidikan SLTA, S1 dan S2 sehingga diharapkan tenaga mereka untuk berperan besar di ranting,” ujar Sudirwo dalam Laporan Ketua PW Lakpesdam NU Kalsel.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PP Lakpesdam NU Yahya Ma’shum mengatakan, ranting-ranting NU di tingkat desa maupun kelurahan harus digerakkan. Karena, tanpa gerakan warga nahdliyin di level ranting, kebesaran jamiyah NU akan terasa kurang sempurna. 

“Ruh NU adalah aktivitas atau gerakan warga NU yang ada di desa-desa itu,” tandasnya. Untuk itu, pelatihan penggerak ranting ini dimaksudkan untuk membuat model-model gerakan NU di tingkat ranting dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di desa.

Apalagi, dengan adanya Undang-Undang Desa, pengurus ranting NU dan warga Nahdliyin saat ini harus lebih berperan aktif dalam kebijakan desa, mengawal pemerintahan desa, dan juga berkontribusi dalam mengelola sumberdaya di desa. 

“Apa jadinya jika pengurus ranting tidak aktif, sumberdaya desa akan dikelola oleh orang lain, dan warga NU akan jadi penonton saja?” pungkas Yahya. Pada akhir pelatihan, para aktivis ranting ini bersepakat untuk membuat berbagai model gerakan yang akan dilaksanakan di desa/kelurahan, antara lain: model gerakan lailatul ijtima, advokasi kebijakan desa, pengembangan pendidikan melalui sekolah terbuka, pengembangan ekonomi melalui BMT, dan gerakan kampung media. (Abd.U- Sud/Abdullah Alawi)