::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Syamsudin Sulaiman, Pelopor NU di Kabupaten Subang

Selasa, 26 Mei 2015 14:01 Tokoh

Bagikan

KH Syamsudin Sulaiman, Pelopor NU di Kabupaten Subang

Subang, NU Subang
Salah seorang tokoh pendiri NU di Subang, Jawa Barat adalah KH Syamsudin Sulaiman, ulama asal Malangbong, Garut ini awalnya dikejar-kejar oleh DI/TII hingga akhirnya pada tahun 1950-an tinggal dan menetap sampai mendirikan Pesantren Al-Huda di Dusun Pungangan, Desa Rancabango, Patokbeusi, Subang, Jawa Barat.<>

"Saya sangat kagum sekali dengan Mama Sepuh (Mama Syamsudin), beliau sangat tawadlu, waktu datang kesini, beliau tidak menunjukkan ke-kiai-annya, tapi lama kelamaan ketahuan juga bahwa beliau adalah seorang ulama" ungkap salah seorang santri Mama Syamsudin yang bernama Khoerudin, di kediamannya, di Pungangan, Subang, Kamis (21/5) lalu.

Kakek kelahiran 1937 ini mengungkapkan, Mama Syamsudin mulanya mendirikan sekolah agama, ketika itu Khoerun sudah berusia belasan tahun dan ditempatkan di kelas 4, untuk kelas 4 waktu belajarnya siang diisi oleh Mama Syamsudin, sementara kelas 1-3 belajar di pagi hari dan salah seorang gurunya adalah Khoerudin.

"Waktu itu saya masih belajar jadi masuk IPNU, pertama sekali ada IPNU saya ikut, saya juga kan mengajar kelas 1 jadi masuk Pergunu juga, saya juga saat itu sudah pemuda jadi masuk pemuda Ansor juga," jelasnya.

Kekaguman Khoerun pada Mama Syamsudin bertambah pada masa Pemilu 1955, saat itu para ulama di sekitar Pungangan memilih Masyumi namun Mama Syamsudin tetap teguh dengan NU dan berhasil mengubah pilihan politik ulama-ulama tersebut menjadi NU.

"Waktu itu kyai dari Rancabango, Sukamandi, Pabuaran, Purwadadi bergantian 'menyerang' Mama Sepuh mungkin maksudnya agar Mama Sepuh ikut Masyumi, kehebatan Mama Sepuh terlihat karena harusnya Mama Sepuh ikut Masyumi ini justru malah ulama-ulama itu yang jadi NU, jadi pusatnya NU dulu itu ya disini dibawa oleh Mama Sepuh," paparnya sambil menyebut nama-nama ulama yang tadinya Masyumi tersebut.

Khoerudin menyebutkan, secara organisasi, saat itu NU pungangan masih menginduk ke Kecamatan Pabuaran dan pengurus cabangnya adalah Purwakarta. (Aiz Luthfi/Fathoni)