::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Anjuran Tidur di Masjid Saat Puasa

Senin, 29 Juni 2015 16:35 Ubudiyah

Bagikan

Anjuran Tidur di Masjid Saat Puasa

Kalau sedang berpuasa, paling enak rebahan di ubin musholla atau masjid. Hawa yang bertiup sungguh adem. Sementara suasananya menenangkan untuk istirahat atau berteduh barang sejenak di tengah aktivitas di siang hari. Setidaknya beban panas atau haus puasa sedikit terkurangi.
<>
Rebahan di lantai masjid akan bagus sekali kalau misalnya sambil memasang niat i’tikaf. Inilah yang dianjurkan oleh Islam ketika berpuasa, yakni beri’tikaf di masjid. Kalau sudah niat, i’tikaf bisa diisi dengan aneka ibadah, minimal zikiran sambil rebahan.

Syekh M Nawawi bin Umar Al-Bantani dalam Syarah Kasyifatus Saja ala Matni Safinatin Naja mengatakan,

لا بأس بالنوم في المسجد لغير الجنب ولو لغير أعزب وهو من لم يكن عنده أهل فقد ثبت أن أصحاب الصفة وهم زهاد من الصحابة فقراء غرباء كانوا ينامون فيه في زمنه صلى الله عليه وسلم. نعم يحوم النوم فيه إذا ضيق على المصلين ويجب حينئذ تنبيهه ويندب تنبيه من نام في نحو الصف الأول أو أمام المصلين

Tidak masalah tidur di masjid bagi orang yang tidak junub meskipun dia menjomblo, belum berkeluarga. Sejarah mencatat bahwa Ash-Habus Shuffah –mereka adalah para sahabat yang zuhud, fakir dan perantau– tidur (bahkan tinggal) di masjid pada zaman Rasulullah SAW.

Tentu saja haram hukumnya jika tidur mereka mempersempit ruang gerak orang yang sembahyang. Ketika itu, kita wajib menegurnya. Disunahkan pula menegur orang yang tidur di saf pertama atau di depan orang yang tengah sembahyang.

Namun begitu, istirahat di masjid sekarang ini dirasakan tidak nyaman. Jamaah yang hendak istirahat sering terganggu dengan imbauan “Dilarang Tidur di Masjid”. Kalau bukan seruan demikian, jamaah dipusingkan oleh pengajian kaset yang diputar pengurus masjid tanpa alasan jelas seperti penanda dekat waktu Maghrib atau penanda hari Jumat.

Baiknya pihak pengurus masjid menyediakan ruang mana yang bisa digunakan untuk beristirahat, bukan melarang setiap jengkal lahan masjid untuk ditiduri. Dengan demikian jamaah yang sedang berpuasa sedikit nyaman untuk melepas lelah di masjid. Daripada orang yang berpuasa beristirahat di rumah makan yang buka pada siang hari, lebih baik ia menunggu beduk berbunyi penanda masuk waktu Zhuhur, Ashar, atau Maghrib. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)