::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KHOTBAH JUMAT

Menghormat dan Menyelamatkan Ibadah Ramadhan

Kamis, 02 Juli 2015 09:53 Khutbah

Bagikan

Menghormat dan Menyelamatkan Ibadah Ramadhan

Pernah datang seorang lelaki kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu ia bertanya, “Wahai Rosulullah apakah perndapatmu tentang seseorang yang berperang dalam rangka mencari upah dan kemasyhuran/ nama baik, apakah yang ia dapat?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ia tidak mendapatkan sesuatu apapun”. Lalu lelaki itupun mengulangi (pertanyaannya) sebanyak tiga kali. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tetap menjawab, “Ia tidak mendapatkan sesuatu apapun”, kemudian Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal melainkan selama ia ikhlas dan mengharapkan keridloan Allah<>

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ ضَاعَفَ فِىْ رَمَضَانَ الْحَسَنَاتِ، وَمَحَا فِيْهِ الْخَطِيْئَاتِ، وَرَفَعَ عَلَى الصَّائِمِيْنَ دَرَجَاتٍ، اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اَجْزَلَ ثَوَابِ الْمُطِيْعِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصَّالِحَاتِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِدَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِىْ اِلَى الْخَيْرَاتِ وَتَرْكِ الْمَنْهِيَّاتِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ اِلَى يَوْمِ الْحِسَابِ، اَمَّا بَعْدُ

فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِىْ نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

 

Hadirin Jama’ah Jum’ah Yang Mulia

Saya wasiyat untuk pribadi saya beserta para hadirin semua. Mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan cara berusaha sekuat tenaga melakukan semua perintahNya dan menjahui larangan-larangaNnya.

 

Hadirin sidang Jum’ah yang berbahagia

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Ramadhan merupakan bulan mulia, bulan utama serta banyak berkah yang terkandung di dalamnya. Barang siapa memuliakannya, maka akan mendapat keberkahan yang setimpal melebihi kadar hormatnya pada bulan suci tersebut.

 

Diriwayatkan dalam kitab Nuzhatul Majalis

رَأَى مَجُوْسِيٌ اِبْنَهُ يَأْكُلُ فِىْ رَمَضَانَ بِحَضْرَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَضَرَبَهُ، وَقَالَ لِمَا لاَ حَفِظْتَ حُرْمَةَ الْمُسْلِمِيْنَ فِىْ رَمَضَانَ ؟ "فَمَاتَ فِى ذَلِكَ الْاُسْبُوْعِ"، "فَرَآهُ عَالِمُ الْبَلَدِ فِى النَّوْمِ وَهُوَ فِى الْجَنَّةِ"، "فَقَالَ اَلَسْتَ كُنْتَ مَجُوْسِيًّا ؟ قَالَ بَلَى، وَلَكِنْ لَمَّا حَضَرَتْ وَفَاتِىْ اَكْرَمَنِىَ اللهُ بِالْاِسْلاَمِ لِاحْتِرَامِىْ شَهْرَ رَمَضَانَ"،

“Ada seorang majusi, penyembah api, sedang melihat anaknya sendiri sedang makan pada siang hari bulan Ramadhan di hadapan kaum muslimin, kemudian sang ayah memukul anaknya seraya berkata “mengapa kau tak menjaga kehormatan orang-orang muslim pada bulan Ramadhan?”. Tidak berselang lama, sang ayah meninggal dalam pekan tersebut.

Ada ulama daerah itu bermimpi bertemu dengan almarhum, sedang ia di sorga.

“Lho, bukankah Anda orang majusi?” tanya alim

Majusi menjawab “Memang, namun saat menjelang wafat, Allah memuliakan diriku dengan memeluk agama Islam sebab aku telah memuliakan bulan ramadhan”

 

Hadirin Jamaah Jum’ah Yang Mulia

Dengan adanya kisah tersebut, di samping kita harus melaksanakan kewajiban puasa, zakat dan lain sebagainya, mari kita berusaha sekuat-kuatnya, di bulan suci Ramadhan ini kita menghormati Ramadhan dengan menggunakan kesempatan sebaik mungkin dengan cara mengisi berbagai macam ibadah sunnah dengan harapan kita mendapat ridlo Allah SWT.

Hadirin Yang Berbahagia

Adapun di antara sunnah yang perlu kita perhatikan adalah bersegera dalam buka puasa dan mengakhirkan sahur. Keduanya memang cukup sering kita laksanakan, namun alangkah lebih tepatnya jika kita sertai niat dalam melakukannya dalam rangka mengikuti perilaku Nabi kita Muhammad SAW.

Selain itu ada pula yang cukup penting kita perhatikan adalah tentang nilai spiritual dan sikap pdibadi yang sedang menjalankan ibadah puasa. Sabda Nabi Muhammad SAW

"كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ"

Banyak orang yang berpuasa namun ia tak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga.

 

Dalam kitab Al Fawaidul Mukhtaroh disebutkan karena apa manusia yang berpuasa sampai tidak mendapatkan pahala ? para ulama menjelaskan sebagai berikut :

  1.  Ia berpuasa namun melakukan hal yang menggurukan pahalanya

خَمْسُ خِصَالٍ يُفْطِرْنَ الصِّيَامَ وَيُنْقِضُ الْوُضُوْءَ، اَلْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ،

Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa dan wudlu’, yaitu bohong, menggunjing, adu domba, melihat dengan syahwat serta sumpah palsu

  1. Ia berpuasa karena ingin dinilai orang lain selain Allah, itulah riya’. Barang siapa yang berpuasa, dan dalam puasanya terkandung unsur pamer atau riya, maka puasa itu tida ada harganya di sisi Allah swt. karena riya sesungguhnya mengandung unsur kemusyrikan. Yaitu menyekutukan tujuan berpuasa. Tidak semata-mata karena Allah, tetapi juga karena yang lain. Sebagaimana difirmankan Allah swt dalam al-Kahfi 110

 فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَاِلحًا وَ لاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun di dalam beribadah kepada Rabbnya.

 

  1. dan berbangga diri. Ia merasa hebat, merasa lebih baik dari orang lain yang tak berpuasa

 عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسـول الله صلى الله عليه و سلم قال: فَأَمَّا اْلمـُهْلِكَاتُ فَشُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَ إِعْجَابُ اْلمـَرْءِ لِنَفْسِهِ

 

Dari Ibnu Umar radliyalllahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri”. [HR ath-Thabraniy di dalam al-Awsath)

 

Ujub terjadi apabila seseorang itu merasa kagum akan kelebihan diberikan llahi kepada dirinya, lalu kekaguman itu menumbuhkan rasa istimewa dalam hatinya jika dibandingkan dengan orang lain. Lantas dirinya merasa hebat dengan apa yang diberikan Allah lantas terpesona dengan kelebihan dan kebolehannya itu sendiri. Dalam hadits lain juga disebutkab

 

عن أبى أمامة رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: أَرَأَيْتَ رَجُلاً غَزَا يَلْتَمِسُ اْلأَجْرَ وَ الذِّكْرَ مَا لَهُ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: لاَ شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلاَثَ مِرَارٍ وَ يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : لاَ شَيْءَ لَهُ  ُثمَّ   قَالَ: إِنَّ اللهَ عز و جل لاَ يَقْبَلُ مِنَ اْلعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُ اللهِ

 

Dari Abu Umamah radliyallahu anhu berkata, pernah datang seorang lelaki kepada Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu ia bertanya, “Wahai Rosulullah apakah perndapatmu tentang seseorang yang berperang dalam rangka mencari upah dan kemasyhuran/ nama baik, apakah yang ia dapat?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ia tidak mendapatkan sesuatu apapun”. Lalu lelaki itupun mengulangi (pertanyaannya) sebanyak tiga kali. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tetap menjawab, “Ia tidak mendapatkan sesuatu apapun”, kemudian Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan menerima suatu amal melainkan selama ia ikhlas dan mengharapkan wajah (atau keridloan) Allah”. [HR an-Nasa’iy

4. Ia berbuka puasa dengan makanan haram

 

Hadirin Yang Mulia

Mari kita berdoa, semoga kita, keluarga kita benar-benar mendapat berkah Ramadhan, diberi ringan menjalankan aktifitas ibadah, mendapat ridlo Allah SWT dan pada akhirnya kita mati husnul khotimah, masuk sorga Allah SWT, amin ya Robbal Alamin.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

 

الخطبة الثانية

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

امَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

 

(Khotbah oleh KH. Muhammad  Shofi Al Mubarok)