Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesantren Al-Aziziyyah Denanyar Bedah Buku “Menolak Wahabi”

Senin, 03 Agustus 2015 00:00 Nasional

Bagikan

Pesantren Al-Aziziyyah Denanyar Bedah Buku “Menolak Wahabi”

Jombang, NU Online
Pesantren Al-Aziziyyah Denanyar Jombang turut memeriahkan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama dengan mengadakan launching dan bedah buku terjemah Kitab An-Nushush Al-Islamiyyah (Menolak Wahabi) karya Wakil Rais Akbar Nahdlatul Ulama KH Muhammaf Faqih Maskumambang yang diterjemahkan oleh KH A Aziz Masyhuri serta buku Islam Nusantara karya salah satu intelektual muda NU Ahmad Baso, Ahad (2/8) di Aula Pondok Pesantren Al Aziziyyah Denanyar Jombang.<>

Ahmad Baso mengungkapkan kaitannya dengan eksistensi Islam Nusantara ini, mengkritisi kebijakan kurikulum Kementerian Agama yang menghapus kitab-kitab standar yang diajarkan di pesantren.

Di sisi lain Islam Nusantara itu bukan subjek yang pasif, yang asal menerima saja apa yang akan datang dari Arab, “Kita juga membawa kepada mereka ide-ide kita, mengolah ilmu mereka menjadi kekuatan kita, hingga kita bisa menusantarakan Arab, Persia, dan India hingga Eropa sekalipun,” katanya.

KH Aziz Masyhuri mengungkapkan latar belakang penerbitan kembali karya monumental Wakil Rais Akbar NU KH Muhammad Faqih Maskumambang "An-NushushAl-Islamiyyah", menurutnya karya ini sebagai salah satu risalah yang sangat penting dalam rangka membentengi akidah Aswaja.

KH Aziz juga meminta kepada warga Nahdliyin untuk berziarah ke makam KH Muhammad Faqih Maskumambang yang saat ini makamnya sudah tidak terawat lagi.

Salah satu pemikir dari Belanda Martin Van Bruinessen mengungkapkan fenomena istilah Islam Nusantara, "Islam Nusantara itu ialah zarah-ziarah ke makam para wali, menghargai makam, pengamal tareqat, dan menghormati makam serta lelulur para ulama-ulama yang telah menyebarkan Islam di bumi Nusantara.”

Di sisi lain Islam Nusantara juga membawa banyak unsur budaya dari proses interaksinya, sehingga istilah Islam Nusantara ini begitu diterima masyarakat Indonesia. 

Tampak hadir dalam diskusi dan bedah buku ini, beberapa pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Timur, ratusan penggembira Muktamar dari berbagai provinsi seluruh Indonesia. (Andy Muhammad Idris/Mukafi Niam)