::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Pelajar Thailand Perdalam Aswaja di Pesantren Nuris

Rabu, 12 Agustus 2015 19:00 Pesantren

Bagikan

Dua Pelajar Thailand Perdalam Aswaja di Pesantren Nuris

Jember, NU Online
Kerja sama Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) Jember dengan sejumlah negara Asia Tenggara, mulai membuahkan hasil. Selama tiga tahun ke depan misalnya, dua pelajar asal Thailand akan mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Nuris.
<>
Menurut salah seorang pengasuh Pesantren Nuris, Ustadz Robith Qashidi, kedatangan dua santri itu adalah bagian dari program pertukaran pelajar antara Nuris dan  sejumla negara di Asia Tenggara.

"Ini tahap pertama, nanti disusul oleh negara lain mengirimkan pelajarnya. Dan Nuris kelak juga melakukan hal yang sama," tukasnya di kompleks Pesantren Nuris, Selasa (11/8).

Lulusan Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir itu menambahkan, misi besar dari program tersebut adalah menjalin sekaligus mengokohkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah lintas negara.

Sebab, kata Gus Robith, Islam Indonesia dengan Thailand, Malaysia, Filipina dan sebagainya mempunyai kesamaan dalam kultur dan amaliahnya. "Mereka amaliahnya sama dengan amaliah warga nahdliyyin. Karena itu, kesamaan tersebut  perlu terus kita bangun melalui kader-kader Ahlussunnah wal Jama'ah masing-masing negara. Dan keinginan mereka memang memperdalam Ahlussunnah wal Jama'ah," ucapnya.

Kedua nama pelajar asal Thailand itu, masing-masing bernama Asfandee Yamalae (16 tahun) dan Sulfa Mani (16 tahun). Keduanya sama-sama berasal dari  Provinsi Narathiwat.

Dalam pengamatan NU Online, kedua pelajar itu sudah bisa beradaptasi dengan santri-santri lokal meski baru datang 4 hari lalu. Walaupun tidak bisa berbahsa Indonesia, tapi mereka tampak mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar bahasa Indonesia agar lancar dalam menimba ilmu di pesantren tersebut. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)