::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

SEKILAS MAJELIS KONSUL

Majelis Konsul dan Resolusi Jihad (3-Habis)

Sabtu, 24 Oktober 2015 11:00 Fragmen

Bagikan

Majelis Konsul dan Resolusi Jihad (3-Habis)

Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan keberadaan Majelis Konsul yang pada masa lalu, menjadi salah satu bagian dari struktur kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU). Sejatinya, konsul ini merupakan kepanjangan tangan dari Pengurus Besar, untuk mempermudah dalam melakukan koordinasi dengan Pengurus Cabang maupun yang ada di bawahnya.<>

Oleh karena itu, beberapa keputusan yang diambil pun tak berbeda jauh dengan apa yang dihasilkan Pengurus Besar. Salah satunya ketika, HBNO (sekarang PBNU-,red) dalam rapat yang dipimpin pleh KH A. Wahab Chasbullah bersama Konsul-konsul se-Jawa dan Madura mencetuskan “Resolusi Jihad” pada tanggal 21-22 Oktober 1945.

Selain terlibat dalam proses rapat sebelum dicetuskan KH Hasyim Asy’ari, para konsul ini juga bertanggung jawab untuk menyebarkan seruan tersebut ke daerah masing-masing. Beberapa nama pengurus Konsul yang hadir pada masa itu, berikut sekilas profilnya, seperti yang tercantum dalam buku Berangkat Dari Pesantren (1984) :

1. KH Saifuddin Zuhri

Mewakili Konsul Kedu, ia berangkat ke Surabaya bersama KH Jamil (Ketua PCNU Purworejo), usai terlibat dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Selain aktif di NU, ia juga menjadi pimpinan Laskar Hizbullah.

2. KH R. Mukhtar

Kiai Mukhtar berangkat bersama wakil dari Konsul Banyumas lainnya, H. Zuhdi. Keduanya berangkat ke Surabaya dengan menggunakan kereta api. Oleh KH Mahfudz Shiddiq, ia diberi julukan “Syaikh Subakir” (wali yang turun dari Gunung Tidar untuk mengusir setan-setan yang menggoda penduduk Magelang), karena jasanya dalam membuka NU di wilayah Banyumas, Kedu dan sekitarnya.

3. KH Masjkur

Perwakilan dari Konsul Malang. Komandan Barisan Sabilillah. Pernah beberapa kali mengemban Menteri Agama RI. Di kemudian hari, ia juga menjadi Ketua PBNU.

4. KH M Iljas

Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, Muhammad Iljas tak begitu dikenal, padahal ia tergolong pejuang dan kiai besar. Semasa mudanya menjadi kesayangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri pesantren Tebuireng. Terbukti dalam usia 18 tahun sudah dijadikan lurah Pondok Pesantren Tebuireng. Sebelum menjadi Wakil Ketua PBNU, ia menjadi Konsul Pekalongan.

5. KH Abduljalil

Nama lengkapnya adalah Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid, lahir pada 12 Juli 1905/1323 H di Bulumanis Kidul Margoyoso Tayu Pati Jawa Tengah. Semasa muda ia pernah menjadi santri di pondok Pesantren Jamsaren Solo, Tremas Pacitan, Kasingan Rembang, dan Tebuireng Jombang.

Aktifitas K.H. Abdul Jalil adalah pernah menjadi ketua Pengadilan Agama kabupaten Kudus, Pembantu Khusus Perdana Menteri RI di Jakarta, Anggota DPR / MPR pusat wakil Alim Ulama Fraksi NU, Ketua Lajnah Falakiyah PBNU merangkap anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI, dan penyusun tetap penanggalan/almanak NU. Saat berangkat ke Surabaya, ia mewakili Konsul Kudus.

6. KH Abduhalim Shiddiq

Kakak kandung KH Achmad Shiddiq ini merupakan Konsul NU Besuki yang berkantor di Jl. Telangsari No. 23 Djember.

Selain nama-nama di atas, tentu masih banyak sekali nama yang belum disebutkan, antara lain KH Wahid Hasjim, KH M Dahlan (Konsul Pasuruan), KH Tohir Bakri, KH Sahal Mansur mengingat undangan ditujukan untuk seluruh Konsul serta semua pimpinan Syuriyah dan Tanfidziyah.

Sebagai catatan, pada waktu itu tidak semua konsul dapat mengirimkan wakilnya. Selama zaman Jepang, hubungan dengan luar Jawa terutama Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil (minus Bali) praktis terputus, sebab Angkatan Laut dan Darat Jepang menguasai seluruh wilayah. Baru setelah Jepang menyerah, Jawa, Sumatera dab Bali diduduki Inggris dan sekutu. Sebab itulah rapat PBNU yang dilengkapi konsul-konsul hanya terbatas pada Jawa dan Madura.

(Ajie Najmuddin)

Foto ilustrasi: lukisan yang menggambarkan rapat penyusunan fatwa Resolusi Jihad di Kantor NU, Bubutan, Surabaya, 22 Oktober 2015 dipimpin oleh Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.