::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Merajut Kembali Polemik Konsep Pembangunan dan Moment Hari Santri Nasional

Selasa, 27 Oktober 2015 22:01 Opini

Bagikan

Oleh Irham
Sebelum Indonesia merdeka tahun 1945, para pemikir negeri ini sudah berpolemik memikirkan konsep pembangun bangsa. Salah satu buku yang bisa menjadi saksi itu, adalah “Polemik Kebudayaan” Akhdiat K. Mihardja yang terbit pertama kali pada tahun 1948. Buku tersebut merupakan kumpulan dari artikel surat kabar yang ditulis oleh para pemikir seperti, St. Ali Sjahbana,<> Dr. Soetomo, R. Soetomo, Sanusi Pane, Ki Hajar Dewantara, Dr. Purbatjaraka, dll. Artikel ditulis dan diterbitkan oleh surat kabar yang berkembang pada tahun 1935 seperti,  Suara Umum, Bintang Timur, dan Pujangga Baru. 

Ada dua isu yang menjadi perdebatan serius oleh para pemikir bangsa itu. Pertama tentang pemaknaan Indonesia, dan yang kedua tentang pembangunan Indonesia. Terkait dengan pemaknaan Indonesia ada dua hal pemikiran yang kontras. Pertama yang diwakili oleh  St. Ali Sjahbana (STA) yang mana ia menyatakan bahwa semangat keindonesiaan muncul pada abad 20-an. Sebelumnya bukanlah era Indonesia namun era jahiliahnya Indonesia, ia mengistilahkan dengan sebutan prae-Indonesia. 

Era prae-Indonesia adalah era yang hanya mengenal sejarah Oost Indesche Compagnie, sejarah Mataram, sejarah Aceh, sejarah Banjar Masin, dll. Era itu jika diingat-ingat hanya akan membuat kemunduran semangat keindonesiaan. Sehingga STA dalam hal ini memaknai semangat keindonesiaan adalah pembangunan jiwa dan tenaga dengan tidak bertopang pada masa silam. Untuk mengisi semangat keindonesiaan, STA berpandangan hanya dengan konsep Baratisme, Indonesia akan bisa menjadi negara yang dinamis. Menurutnya Baratisme merupakan semangat keindonesiaan  dengan bercermin pada peradaban dan kebudayaan Barat. STA menolak untuk melihat sejarah jahiliah Indonesia karena akan menimbulkan perselisihan baru. Indonesia yang dicita-citakan adalah bukan sambungan dari sejarah lama. Menyambung masa lampau artinya menyambung perselisihan.  

Berbeda dengan STA, Sanusi Pane dan Dr Purbatjaraka berpikiran sebaliknya, bahwa Indonesia merupakan berkesinambungannya Indonesia yang dulu dan yang sekarang. Indonesia sekarang adalah karena Indonesia yang dulu. Kebudayaan yang baru bersendikan kebudayaan yang lama. Keindonesiaan sebelum abad 20 sudah ada, yaitu keindonesiaan dalam adat, keindonesiaan dalam seni dan budaya. Pemikiran ini melahirkan konsep berkesinambungan dalam pemaknaan bangsa dan negara.  Untuk membangun keindonesiaan sekarang adalah tidak melupakan semangat Indonesia yang dulu. Yakni, adanya integrasi kebudayaan asli/lokal dengan peradaban barat menjadi penting. Kebudayaan asli atau kebudayaan lokal Nusantara adalah kebudayaan yang bersendikan harmonisme dan komunalisme. Adapun peradaban Barat adalah kebudayaan atas dasar materialisme, intelektualisme, dan individualisme. Begitulah pengertian yang berkembang pada saat itu.

Sementara isu yang kedua yaitu terkait dengan konsep pembangunan pendidikan Indonesia. Yang menjadi perdebatan adalah konsep pendidikan nasional. Dalam hal ini ada tiga konsep yang muncul, yakni pertama konsep pendidikan asli. Kedua, konsep pendidikan Barat. Ketiga, konsep integrasi pendidikan asli dengan pendidikan Barat. 

Pendidikan asli merupakan pendidikan yang berkembang sejak lama di Nusantara, yakni pendidikan sistem pesantren dan pemondokan. Pendidikan ini berorientasi pada moral dan budi pekerti. Salah satu pemikir yang merumuskan sistem pendidikan dengan corak asli ini adalah Ki Hajar Dewantara dengan konsep taman siswanya. Konsep ini didukung juga oleh Dr Soetomo. 

Selanjutnya konsep yang kedua sangat kontras dengan yang pertama. Yakni konsep pendidikan nasional dengan konsep pendidikan Barat. Pandangan kedua ini tidak menerima konsep yang pertama dengan alasan; sistem pesantren/pemondokan kembali lagi pada zaman purbakala, anti intelektualisme, anti egoisme, anti materislisme dan anti individualisme.

Konsep tersebut dikembangkan oleh STA. Ia beranggapan bahwa pendidikan merupakan membangun inisiatif, memenuhi kebutuhan dan keperluan masyarakat. Sehingga konsep pendidikan Baratlah yang mampu mewujudkannya menjadi Indonesia yang dinamis. Pendidikan dengan sistem pemondokan/pesantren hanya membuat Indonesia statis dan bahkan kemunduran. STA ini mengomentari dan menolak tegas hasil dari konggres perguruan Indonesia di Solo pada tanggal 8-10 Juni 1935 yang melahirkan konsep pertama.

Berkat perdebatan itu, lahirlah pemikiran yang ketiga, yakni integrasi dari konsep yang pertama  dan konsep yang kedua. Pemikiran ketiga ini mempunyai pertimbangan bahwa pola dan sistem dari konsep pertama menghasilkan manusia yang berbudi pekerti, moralitas yang tinggi, nasionalisme yang kuat atau bisa disebut merawat kebudayaan bangsa. Kemudian konsep pendidikan yang kedua, yakni pola pendidikan Barat melahirkan peradaban yang modern. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan. Maka konsep ketiga ini yang diwakili oleh Sanusi Pane, dan Purbatjaraka berupaya mengintegrasikan dari konsep pendidikan asli dan konsep pendidikan barat. 

Integrasi peradaban, menatap masa depan

Beberapa pemikiran di atas yang menjadi perdebatan sebelum kemerdekaan, patut menjadi renungan mendalam bagi kita generasi kekinian. Khususnya untuk merumuskan kembali konsep pendidikan nasional sekarang dan yang akan datang. Jangan sampai terjadi kemunduran pemikiran yang sudah digagas oleh para pemikir masa silam.

Hemat penulis, integrasi dari 3 peradaban patut dikembangkan. Yang terdiri dari peradaban asli/peradaban Nusantara, peradaban Barat dan peradaban Timur. Ketika perdaban Timur sangat eksklusif dengan peradaban Barat, begitu sebaliknya peradaban Barat kurang menerima peradaban Timur. Maka Indonesia mampu menerima keduanya tanpa meninggalkan karakter aslinya atau karakter kenusantaraannya. Ke depan Indonesia akan menjadi pusat peradaban dunia, didukung juga karena secara geografis Indonesia sangat strategis.Tentu bermodal dari kemandirian—dalam politik internasionalnya adalah non blok—Indonesia berpeluang untuk itu. 

Penulis mengusulkan dikotomi pendidikan yang masih ada di Indonesia harus segera diintegrasikan. Yakni sekolah umum yang dikelola Kemendiknas mampu mengintegrasikan dengan karakter pendidikan agama. Yang nantinya akan melahirkan produk ilmuan yang agamis bukan sekuler. Begitu pula sekolah agama yang dikelola Kemenag mau mengintegrasikan karakter sekolah umum. Yang nantinya juga akan melahirkan ulama yang cendekiawan. Integrasi seperti ini tentu akan mampu mengatasi masalah secara komprehensif bukan parsial. Walaupun saat ini bentuk pendidikan di Indonesia sudah mulai mengarah ke sana, saya kira perlu dimaksimalkan kembali.

Pada jenjang pendidikan tinggi, sistem integrasi akan menjadi pintu pengembangan untuk melahirkan ilmuan yang agamis dan melahirkan ulama yang sekaligus cendekiawan. Pendidikan yang dikelola Kemenag sudah berupaya untuk itu dengan adanya universitas Islam negeri (UIN), hal ini patut terus dikembangkan. Maka Pendidikan tinggi yang dikelola Kemendiknas dengan segera menyusulnya. Semakin komprehensif-integratif sistem pendidikan, akan semakin cepat pula Indonesia menjadi pusat peradaban dunia, karena hal ini menjadi jawaban yang ditunggu-tunggu dunia.

Hari santri nasional

Tidak lama ini Presiden RI Joko Widodo menetapkan Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober. Tentu penetapan hari santri menunjukkan pentingnya peradaban pesantren dalam mengisi pembangunan Indonesia ini. Kalau dahulu 22 Oktober 1945 sebagai moment dunia santri bangkit untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI dari penjajah dengan resolusi jihadnya. Maka moment Hari Santri Nasional juga harus demikian. Sudah tentu kebangkitan moment ini harus berbeda dengan yang dahulu, karena masa dan konteks yang berbeda.

Dalam polemik di atas dunia santri dan pesantren telah menyita perhatian oleh para pemikir masa lampau dalam rangka merumuskan pembangunan Indonesia. Terlebih adalah pembangunan pendidikan Nasional. Untuk saat ini kiranya tidak penting lagi memperdebatkan polemik itu namun bagaimana mengembangkannya. Sehingga dengan moment Hari Santri Nasional dapat menjadi moment kebangkitan dunia santri era kekinian ini. 

Lantas bagaimana bentuk kebangkitan yang harus dilakukan? Hemat penulis kebangkitan ini sangat perlu dilakukan oleh kalangan santri atau orang yang hidup di dunia santri. Kebangkitan pertama adalah santri menjadi orang yang mampu mengintegrasikan tiga peradaban dunia ini. Yakni, peradaban Nusantara, peradaban Barat, dan Peradaban Timur. Sebab santri sebagai potensi SDM yang moderat dan inklusif yang mampu dan berpeluang untuk mengarah ke sana. Kebangkitan yang kedua adalah konsep peradaban pesantren mampu mejadi inspirasi sistem kehidupan masyarakat Indonesia di semua sendi. Dan juga kepada peradaban dunia. Cara yang paling efektif adalah santri mampu menjadi penggerak masyarakat nasional maupun masyarakat dunia. Kebangkitan yang ketiga adalah santri menjadi agen perubahan sosial-politik dan budaya. Dengan cara berperan aktif dalam hal mengatasi persoalan bangsa seperti KKN, terorisme, kemiskinan, diskriminasi sosial, ketertindasan masyarakat dan lain sebagainya. Dengan seperti ini 22 Oktober menjadi moment yang berharga untuk pembangunan dan kemajuan peradaban Indonesia. Selamat menuju kebangkitan para santri.

* Santri dari Pati dan Awarde LPDP Batch V