::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Partai Islam Malaysia Jajaki Kerja Sama dengan PBNU

Senin, 09 November 2015 17:30 Nasional

Bagikan

Partai Islam Malaysia Jajaki Kerja Sama dengan PBNU

Jakarta, NU Online
Rombongan dari Parti Islam Se-Malaysia atau disingkat PAS berkunjung ke kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (9/11) sore. Mereka datang untuk mengenal Nahdlatul Ulama lebih dekat dan menjajaki kemungkinan kerja sama antarkedua lembaga.
<>
Rombongan yang terdiri dari Ketua PAS Abdul Hadi bin Haji Awang, anggota Parlemen Malaysia Abdul Khalid Ibrahim dan dua stafnya disambut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Ketua PBNU H Abdul Manan A Ghani, Wasekjen PBNU H Masduki Baidlowi, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini.

Pertemuan akan dilanjutkan dengan pada kesempatan berikutnya dengan agenda pembahasan lebih teknis terkait program-program yang bisa dikerjasamakan. Dalam pertemuan perdana ini, PBNU mengusulkan adanya kerja sama di bidang pendidikan seperti pertukaran pelajar, dakwah Islam damai, dan ekonomi mikro.

Kang Said, sapaan akrab Ketum PBNU, dalam forum itu menegaskan bahwa perjuangan Islam tak mesti dilakukan melalui jalur politik. Ia juga menjelaskan profil singkat NU, prinsip-prinsip dakwahnya, serta komitmennya terhadap semangat kebangsaan.

“Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengajarkan bahwa antara Islam dan nasionalisme jangan dipertentangan, tapi harus bersinergi, saling menopang. Nasionalisme tanpa Islam kering, dan Islam tanpa nasionalisme sulit bisa menyatukan sebuah bangsa yang majemuk,” tuturnya.

Kiai asal Cirebon ini juga mengenalkan Islam Nusantara yang menjadi tema besar Muktamar Ke-33 NU Agustus lalu sebagai sebuah gagasan yang ingin meneguhkan kembali bahwa Islam mampu harmonis dengan budaya lokal. Dengan demikian, Islam yang hadir lebih membumi dan kontekstual.

“Kami punya prinsip al-muhafadhatu a’alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah. Menjaga tradisi lama yang masih baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Ini paradigma NU,” katanya.

Abdul Hadi sepakat dengan Kang Said bahwa Islam mesti mengedepankan tawassuthiyah (moderatisme) dan menolak berbagai bentuk ekstremisme. Sebagaimana di Indonesia, ia juga mengaku prihatin dengan perkembangan radikalisme di Malaysia. (Mahbib)