::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Ayi Dharma Selamatkan Masjid Cimahi dari Pendudukan Jepang

Senin, 16 November 2015 06:01 Daerah

Bagikan

Jakarta, NU Online
Ayi Darma Wijaya (alm) dikenal warga Cimahi sebagai penyelamat Masjid Agung dari pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942.<>

"Saat itu Masjid Agung Cimahi akan dijadikan rumah tinggal oleh tentara pendudukan Jepang setelah ditinggalkan mengungsi. Tapi Pak Ayi saat itu tetap bertahan," kata Agus Sugandi, seorang tokoh masyarakat di Cimahi. 

Nama Ayi Darma Wijaya menjadi catatan khusus bagi warga Kota Cimahi, terutama para aktivis Masjid Agung Cimahi atas jasanya mempertahankan masjid yang berlokasi di jalur lintas Padalarang - Bandung itu.

Menurut Agus, yang juga keponakan Ayi, peristiwa itu terjadi pada saat Ayi berusia sekitar 42 tahun. Pada saat bala tentara Jepang datang ke Cimahi dan menduduki kawasan di perbatasan Kota Bandung itu, Ayi Darma Wijaya merupakan seorang muadzin.

Pengurus masjid waktu itu diminta mengosongkan tempat ibadah itu dan mengungsi ke wilayah Kota Bandung. Namun pemuda Ayi dan sejumlah temannya memilih tetap untuk mempertahankan masjid itu.

Masjid itu ditempati oleh tentara Jepang yang ditugaskan di wilayah Cimahi yang juga merupakan kawasan militer. Ia tidak ingin masjid itu menjadi rumah, sehingga dengan keberaniannya pemuda itu melakukan dialog dengan tentara Jepang.

"Ia menemui tentara Jepang dan menyampaikan keinginannya agar tentara Jepang meninggalkan masjid yang merupakan tempat suci bagi orang Islam," kata Agus.

Menurut dia, keberanian Ayi untuk menyampaikan keinginan itu mendapat perhatian dari tentara Jepang yang saat itu memiliki kekuasaan penuh di wilayah pendudukannya.

Berkat perjuanganya itu, akhirnya tentara Jepang itu mau meninggalkan Masjid Agung Cimahi dan pindah ke bangunan pemerintahan di kawasan alun-alun Cimahi. 

Bangunan itu dalam perjalanan waktunya menjadi Kantor Wali Kota Cimahi dan sekarang menjadi Gedung DPRD Kota Cimahi.

"Untuk mengusir tentara dari pendudukan itu dilakukan dengan diplomasi, tidak dengan senjata. Tapi akhirnya tentara yang sedang berkuasa itu bisa keluar dari masjid itu," kata Agus.

Ayi Darma Wijaya sebenarnya memiliki gelar "Raden", namun ia memilih tidak menggunakan nama itu sehingga hingga akhir hayatnya ia cukup senang dengan panggilan Pak Ayi Wijaya.

Pada saat menyelamatkan mesjid itu usianya 42 tahunan dan termasuk pengelola agama sekaligus murid dari Usman Damiri (alm) yang mengelola Masjid Agung itu. 

Tak hanya sampai pada penyelamatan Masjid Agung Cimahi, sebagai pejuang rakyat, Ayi Darma Wijaya kemudian ikut bergabung menjadi anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI) yang merupakan cikal bakal TNI. (Antara/Mukafi Niam)