::: NU menyelenggarakan rukyat awal Ramadhan 1438 H pada Jumat, 26 Mei 2017 di berbagai daerah di Indonesia  ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PESANTREN AL-HAMIDIYAH

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

Kamis, 19 November 2015 03:03 Pendidikan Islam

Bagikan

Rapi dengan Tata Kelola Organisasi Modern

Dalam urusan tata kelola, Pesantren Al-Hamidiyah di daerah Sawangan Depok layak menjadi rujukan. Prinsip-prinsip manajemen modern dengan basis fungsi dan kompetensi diterapkan dengan baik. Dengan prinsip ini, pengasuh pesantren pun bukan berasal dari keluarga pendiri pesantren, tetapi merupakan orang lain yang benar-benar memiliki kompetensi dalam bidang agama dan pengelolaan pendidikan.<> Prinsip yang digunakan ini bagaikan sistem yang berlaku di perusahaan dimana CEO-nya tak harus selalu pemegang saham utama, tetapi bisa diserahkan kepada manajer yang kompeten.

Pesantren ini didirikan oleh KH Ahmad Saichu pada tahun 1988. Setelah ia meninggal pada 1995, kepemimpinan pesantren diserahkan pada KH Ali Mustofa Ya’kub, kemudian digantikan oleh KH Hamdan Rasyid, dan sejak tahun 1999 pengasuh pesantren diserahkan pada KH Zainuddin Maksum Ali. Tidak ada periodesasi pengasuh pesantren, mereka hanya mendapat SK pengangkatan. Selama pengasuhnya masih bersedia, tak akan ada penggantian. Seluruh unit pendidikan pesantren dikelola dibawah Yayasan Islam Al-Hamidiyah yang kini dipimpin oleh Imam Susanto Saichu, putra kia Saichu yang menjadi ahli bedak plastik di RSCM.

Pesantren Al-Hamidiyah didirikan oleh KH Ahmad Syaichu pada 17 Juli 1988. Pada awalnya hanya dibuka pendaftaran untuk pelajar Tsanawiyah yang waktu itu langsung penuh. Bahkan di tahun selanjutnya, sebagian santri harus tinggal di masyarakat sekitar pesantren karena asrama memang sudah tidak bisa menampung seluruh santri. Selanjutnya, seiring dengan perkembangan waktu, dikembangkan unit lainnya mulai dari TK, TPQ, dan STAI. Pada tahun 2000-an ini dikembangkan SDIT dan SMP. 

M Timmi Fauzan, humas Pesantren Al-Hamidiyah menjelaskan, dalam hal ini, keluarga KH Saichu membantu mengawasi jalannya pesantren dalam Dewan Pengasuh. Di Al-Hamidiyah, beberapa fungsi penting dipisah, seperti ada bidang SDM yang menangani kepegawaian, gaji, dan lainnya. Ada pula bidang pendidikan dan pengajaran yang mengelola berbagai hal terkait bidang tersebut, dan bidang keuangan. Di luar itu, ada lagi struktur pesantren, sekolah dan lainnya. 

“Keluarga Kiai Saichu sudah memiliki planning soal itu. Beberapa pesantren, ketika pengasuhnya wafat, ada yang suka goyah. Alhamdulillah di sini tidak, manajemennya dibagi rata,” tuturnya. 

Pembagian peran ini membuat transisi kepemimpinan bisa berlangsung dengan mulus jika satu orang yang bertugas berhalangan. Pada pesantren tradisional dengan kiai yang mengatur segalanya, mulai dari SDM-nya, keuangannya, dan lainnya, saat sosok tunggalnya wafat, proses transisi yang tidak mulus bisa menyebabkan eksistensi pesantren menjadi goyah sebagaimana banyak terjadi di beberapa pesantren. 

Kini, antara yang mendaftar dan yang diterima bisa berbanding 2:1. Jumlah santri hanya dibatasi sesuai dengan kapasitas asrama, yaitu 300 putra dan 300 putri. Sementara santri non-mukim sekitar 1200. Tingkat kenyamanan santri juga terus ditingkatkan. Pada awal berdirinya, santri tinggal di asrama hanya beralaskan tikar, tetapi kini sudah tidur di ranjang. Kapasitas santri per kamar juga semakin dikurangi. Awalnya satu kamar dihuni 24 santri, kemudian dikurangi menjadi 21, lalu menjadi 18, dan saat ini 16 santri. Timmi Fauzan menuturkan, pengelola pesantren menargetkan ke depan per kamar hanya dihuni 14 santri.  

“Yayasan berkeinginan, semakin ke sini, harus semakin nyaman,” paparnya. 

Pesantren ini juga dikenal sangat menjaga kebersihan. Ia menjelaskan, pengelolaan kebersihan diserahkan kepada tenaga outsourcing. Santri hanya bertugas menjaga kebersihan di kamarnya masing-masing.  

Untuk biaya, santri dikenakan biaya sebesar 1.450.000 per bulan untuk siswa Tsanawiyah sedangkan untuk siswa Aliyah 1.500.000 yang sudah mencakup seluruh kebutuhan santri di asrama. 

Saat ini, persentase terbesar santri berasal dari Depok dan wilayah terdekat Depok seperti Bogor dan Jakarta Selatan. Dari luar Jawa seperti Jambi dan Papua juga ada, tetapi persentasenya kecil. 

Dengan adanya fasilitas yang nyaman, maka para santri bisa belajar baik. Tak heran banyak santri yang masuk ke universitas negeri favorit seperti UGM, IPB, Unibraw dan lainnya. Bahkan tiga alumni pesantren ini menjadi lulusan terbaik. Ahmad Baihaqi lulus dengan prestasi cum laude di Universitas Diponegoro (2011), Fariz Badiuzzaman lulus cum laude Jurusan Teknik Arsitektur di UGM Yogyakarta (2014), dan Ahmad Bayhaqi, lulus cum laude jurusan Ilmu Kelautan Unibraw (2015). Sengaja nama-nama tersebut dipampang di pintu utama dekat masjid agar bisa menjadi suri tauladan bagi santri lainnya agar memiliki prestasi yang sama atau bahkan melebihi. Dari sejumlah piala yang ada, juga diketahui sejumlah prestasi lain seperti olimpiade matematika, lomba pidato bahasa dan lainnya. Tiga santri MA terbaiknya juga mendapat beasiswa penuh ke Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Bina Antar Budaya.

Sekolah berlangsung dari Senin sampai Jum’at sedangkan hari Sabtu khusus untuk kegiatan kepesantrenan sementara hari Ahad khusus untuk relaksasi atau kunjungan orang tua. Santri diizinkan pulang sebulan sekali. 

Di hari-hari biasa, santri belajar materi kepesantrenan pada malam hari. Kitab-kitab yang dikaji merupakan kitab standar yang diajarkan di pesantren seperti Arbain Nawawi, Bulughul Maram, Akhlak lil Banin/lil Banat, Ushfuriyyah, Nashoihul Ibad, Fathul Qarieb, Alfiyah Ibnu Malik, dan lainnya.

Pesantren memiliki koperasi simpan pinjam untuk guru serta memiliki minimarket yang menyediakan kebutuhan guru dan santri. 

Dengan tata kelola yang baik, pesantren Al-Hamidiyah mampu menjaga visinya untuk menghasilkan generasi penerus yang berprestasi sekaligus religius. Pesantren ini melangkah dengan yakin menjemput masa depan. (Mukafi Niam)