::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Institut KH Abdul Chalim, Mahasiswanya dari 6 Negara Asing dan 23 Provinsi

Selasa, 24 November 2015 05:53 Pendidikan Islam

Bagikan

Institut KH Abdul Chalim, Mahasiswanya dari 6 Negara Asing dan 23 Provinsi

Baru diresmikan pada Rabu 9 September 2015 lalu, Institut KH Abdul Chalim di Desa Bendungan Jati, Pacet, Mojokerto ini sudah mencatatkan rekornya sebagai perguruan tinggi yang mahasiswanya berasal dari enam negara asing dan 23 provinsi di Indonesia. Apa yang menarik dari kampus baru ini?<>

Institut KH Abdul Chalim berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang dipimpin oleh KH Asep Saifuddin. Ada tiga fakultas yang didirikan. Fakultas Tarbiyah terdiri dari tiga program studi yakni Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Bahasa Arab dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidayah. Fakultas Syariah memiliki dua program studi yakni hukum keluarga (Akhwal Syakhsiyah) dan Ekonomi Syariah. Sementara Fakultas Dakwah mempunyai program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Dari 300 mahasiswa baru yang dterima di kampus baru ini, tercatat ada belasan mahasiswa yang berasal dari enam negara asing: Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Afganistan dan Kazakastan. Sementara hampir 100 mahasiswa lainya berasa dari 23 provinsi yang tersebar seluruh Indonesia.

KH Asep Saifuddin mengatakan, Institut KH Abdul Chalim dibangun atas cita-cita besar untuk memajukan Islam dan Indonesia. “Kalau di Inggris ada Cambridge, di Amerika ada Harvard, dan di Mesir Ada Al-Azhar, kami juga ingin membangun institut ini besar seperti mereka,” katanya.

Nama Institut KH Abdul Chalim merujuk pada salah seorang Kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni KH Abdul Chalim dari Majalengka Jawa Barat. Choirul Anam dalam buku terbarungan KH Abdul Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya (2015) menyebut KH Abdul Chalim sebagai “komunikator kunci” kelahiran NU. Kiai yang tercatat sebagai “Katib Tsani” dalam kepengurusan awal PBNU ini menjadi komunikator antara Kiai Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai terkemuka di Jawa waktu itu.

Pemimpin Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang menaungi perguruan tinggi ini, KH Asep Saifuddin adalah putra bungsu dari KH Abdul Chalim. Sejak Asep naik ke kelas 2 SPM, Kiai Abdul Chalim mengirimkan putranya itu untuk belajar di pondok pesantren Al-Khozini Buduran Sidoarjo dan sampai sekarang ia tinggal dan mengembangkan pendidikan di Jawa Timur. Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang menaungi beberapa lembaga pendidikan di Mojokerto dan Surabaya tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan unggulan. Beberapa bulan lalu pesantren ini mendapatkan kunjungan kehoratan dari Presiden Indonesia Joko Widodo dan sejumlah pejabat penting dari Ibu Kota Jakarta dan Provinsi Jawa Timur.

Beasiswa

Dikutip dari catatan Fadli Utsman dalam Majalah Amanatul Ummah (Edisi November 2015), para mahasiswa asing tertarik dengan gagasan besar serta beasiswa yang ditawarkan oleh Institut KH Abdul Chalim. Dengan bantuan jaringan NU di luar negeri terutama H. Masruhin dari Malaysia, belasan mahasiswa asing itu tertarik mengikuti kuliah dengan jalur beasiswa. Mereke akan menyelesaikan pendidikan hingga lulus sarjana.

Gulim Konysbekova (16) dari Kazakastan mengatakan, informasi keberadaan Institut KH Abdul Chalim diperolehnya dari bibinya yang tinggal di Malaysia. Sang bibi memberitahu orang tuanya adanya kampus Islam di Indonesia yang menawarkan basiswa dan Gulim pun setuju tawaran beasiswa itu.

Dari Afganistan ada Fari Q. Kukar. Ayahnya dalah Dr. Fazil Ghani, pakar hukum Islam sekaligus pempimpin organisasi Nahdlatul Ulama Afganistan, sebuah organisasi yang mempunyai hubungan erat dengan Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia.

Selain beasiswa, para mahasiswa asing ini juga temotivasi belajar dan menimba pengalaman dari Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.  Ahmat Nurullah dari Vietnam mengatakan, penduduk muslim di negara kelahirannya sangat sedikit dan tidak banyak yang menempuh pendidikan sampai tingkat tinggi.

Dari dalam negeri, Taslim Tupong dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak pernah menyangkan bisa meneruskan pendidikan tinggi, apa lagi sampai ke tempatyang jauh di pusau Jawa. Kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan. Namun ia bahagia saat dihubungi oleh gurunya yang juga pengurus NU di NTT bahwa ada tawaran beasiswa kuliah di Jawa. “Saya sampaikan kepada bapak saya dan bapak saya langsung menagis serta memeluk saya,” katanya. (A. Khoirul Anam)