::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PESANTREN AN-NAWAWI TANARA

Bervisi Melahirkan Para Ulama Fukaha

Ahad, 29 November 2015 21:30 Pendidikan Islam

Bagikan

Bervisi Melahirkan Para Ulama Fukaha

Pesantren An-Nawawi Tanara Serang Banten, sesuai dengan namanya, ingin mengambil spirit dari Syekh Nawawi Al Bantani, salah satu ulama asal Nusantara yang mampu menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional pada zamannya. Visi inilah yang ingin dijadikan spirit oleh KH Ma’ruf Amin ketika mendirikan pesantren An-Nawawi pada tahun 2001 yang menginginkan pesantren ini bisa menjadi tempat untuk melahirkan ulama, khususnya para ahli fikih.<>

KH Ma’ruf mengatakan, pengkaderan ulama kini semakin mendesak mengingat para ulama sepuh sudah pada meninggal sementara belum banyak generasi muda yang dipersiapkan menggantikan mereka. Jika hal tersebut terjadi, bisa menyebabkan kelangkaan ulama. Untuk mencapai visi tersebut, sistem pendidikan sedari awal sudah diarahkan ke sana. Di pesantren yang lokasinya di daerah tempat kelahiran Syekh Nawawi itu, kini sudah berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang akan dikembangkan sampai pendidikan tinggi dengan fokus dalam kajian fikih dari S1 sampai dengan S2. “Kami fokus di ilmu fikih karena ulama itu kan ahli fikih, dan disana kekuatan para ulama,” katanya.

Untuk menghasilkan para ulama yang kompeten, tentu bukan hal yang mudah dan waktu yang singkat. Strategi yang dilakukannya adalah mengambil keunggulan-keunggulan yang ada di berbagai pesantren lalu dicangkokkan dalam kurikulum pesantren. Untuk keunggulan bahasa Arab dan Inggis, diambil metode dari pesantren Gontor sedangkan kemampuan membaca kitab diambil dari keunggulan pesantren salaf. Satu hal lain adalah para santri di sini diharapkan juga hafal Al-Qur’an. Karena itu, metode pengajaran dari pesantren yang fokus pada hafalan Qur’an juga diterapkan di pesantren ini. 

Diakuinya, tak mudah mencapai target ambisius tersebut. Karena itu mau tidak mau harus dilakukan kompromi, misalnya untuk lulusan Aliyah, hanya ditargetkan mampu menghafal 15 juz Qur’an yang nantinya bisa dilanjutkan dalam jenjang berikutnya. Sementara itu, untuk kajian kitab, yang digunakan adalah kitab-kitab yang selama ini memang sudah biasa digunakan di pesantren, salah satunya Tafsir Jalalain. Para santri belajar dan mengaji sampai malam.  

Mereka yang belajar di sini juga diwajibkan mondok atau tinggal di asrama pesantren. Sebelumnya santri tidak diwajibkan tinggal di pesantren, tetapi ternyata hasilnya kurang maksimal. Pertama, waktu belajarnya minimal sekali sedangkan kedua, pergaulannya tidak terjaga. Di pesantren, para santri diajari akhlak dan etika pergaulan yang baik, tetapi begitu keluar pesantren maka langsung rusak lagi. 

“Biar orang situ, tetap harus mondok. Kalau ngak mau mondok, ngak usah sekolah situ,” tegasnya. 

Untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas atau mampu menyediakan pendidikan bagi kelompok tidak mampu, Kiai Ma’ruf yang kini juga rais aam PBNU ini berusaha mencarikan beasiswa dari para pengusaha yang masih memiliki komitmen keumatan. Jaringannya dalam ekonomi syariah yang luar ternyata juga banyak membantu mengembangkan pendidikan yang dikelolanya. 

Sebagian besar muridnya kini masih berasal dari seputar Banten, sebagian dari Lampung. Tetapi kini mulai ada yang berasal dari Papua. Ia sangat senang adanya santri asli Papua ini karena bisa diharapkan menjadi ulama yang bisa mengembangkan Islam di Papua.

“Susah sekali kalau orang luar Papua karena mereka dianggap sebagai pendatang. Karena itu, kita harus mengkader orang Papua sebanyak mungkin. Rencananya masih akan ada yang akan dikirim ke sini lagi,” paparnya. 

Untuk Pendidikan Tinggi, saat ini masih dalam proses perizinan. Ia menjelaskan targetnya adalah mengembangkan ilmu fikih. Sayangnya, saat ini belum ada nomenklature Fakultas Ilmu Fikih sehingga Kementerian Agama menganjurkannya untuk membuat kajian akademik untuk itu supaya nantinya bisa diproses dan menjadi keputusan resmi. Baginya, tak masalah menjadi pelopor karena memang ia mengaku suka mengembangkan sesuatu yang sebelumnya belum digeluti orang lain, seperti perjuangannya dalam mengembangkan ekonomi syariah. 

“Saya suka memulai sesuatu yang baru, nanti yang lain akan enak karena tinggal mengikuti,” paparnya.

Prinsip yang banyak dianut oleh kalangan pesantren adalah mempertahankan yang lama yang masih baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik. Tetapi baginya hal tersebut belumlah cukup. Mengambil yang baik dari orang lain belum kreatif dan inovatif dan dinamis.Upaya perbaikan harus dilakukan secara berkelanjutan karena yang lebih baik hari ini besok tidak lebih baik, besok yang lebih baik, lusa tidak lebih baik. “Jadi tiga hal ini merupakan satu kesatuan, menjaga yang lama, mengambil yang lebih baik, dan melakukan perbaikan ke arah yang lebih baik secara berkelanjutan.”

Mengenai alasannya hanya akan mengembangkan pendidikan tinggi dengan fokus dalam kajian ilmu fikih sampai tingkat S2 saja, hal ini dikarenakan lulusan S2 sudah memiliki pemahaman yang kuat sehingga lebih aman dari upaya “pencucian otak” jika pergi ke tempat lain. Beda dengan lulusan Aliyah. 

Kasarannya, mereka bisa dibiarkan berenang di lautan karena sudah memiliki basis,” imbuhnya. 

Jika semua pengembangan keilmuan tersebut kokok, ia berharap pesantren An-Nawawi juga dapat menjadi tempat berhimpunnya para ulama untuk membahas berbagai masalah keumatan dan kebangsaan. 

Kiai Ma’ruf menyadari, mimpi tersebut butuh perjuangan dan kerja keras serta kesabaran. Berbagai kelemahan terus dievaluasi dan dicarikan solusinya. Sikap optimis dan yakin bahwa kendala apapun bisa diatasi menjadi penyemangat untuk tetap teguh memelihara dan melangkah menuju visi yang dicita-citakan. (Mukafi Niam)