::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Atasi Stres dengan Shalat

Senin, 30 November 2015 19:30 Pustaka

Bagikan

Atasi Stres dengan Shalat

Persoalan hidup manusia semakin kompleks. Kondisi ini bisa menyebabkan manusia terserang penyakit stres; baik stres ringan, maupun stres berat. Manusia yang tidak mampu menahan rasa stres terkadang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Padahal, cara ini bukan merupakan solusi terbaik dalam memecahkan persoalan hidup.
<>
Shalat sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mengatasi stres dengan cara ekonomis dan praktis. Shalat yang dilakukan setiap hari ternyata mampu menjadi media untuk menyegarkan otak manusia. Seseorang yang melakukan shalat dengan khusuk akan memiliki kekuatan emosi yang stabil. Shalat mampu membangkitkan ketenangan batin pelakunya. Mengapa demikian?

Shalat memiliki hubungan yang erat dengan otak manusia. Shalat mampu membangkitkan kinerja otak, mendorong otak yang lemah menjadi kuat, dan dapat menyegarkan otak yang lelah. Shalat merupakan cara paling ampuh untuk menyegarkan kembali pemikiran seseorang dibandingkan dengan cara-cara lain. Bahkan, kondisi otak memiliki korelasi kuat dengan shalat (hal. 13-14).

Orang yang rajin menunaikan shalat dan menjaga kekhusukan shalatnya sama halnya ia sedang menjaga kesehatan otaknya, mensinergikannya dengan tubuh, serta hati dan jiwanya. Kesehatan otak semakin meningkat jika didukung dengan proses pelaksanaan shalat yang khusuk. Bahkan, hal ini dapat menentukan kelangsungan hidup dan kualitas hidup seseorang; baik dari segi lahiriyah yang mencakup aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya, maupun aspek batiniyah yang mencakup spiritualitas dan ketentraman hati.

Bukan hanya shalat fardlu yang mampu menyegarkan otak seseorang, shalat sunnah pun juga berfungsi demikian. Menurut Prof Dr Mohammad Sholeh, dalam tubuh manusia terdapat kortisol sebagai indikator stres terhadap seseorang. Pertama, hormon kortisol tinggi; seseorang dalam kondisi stres, imunitas tinggi, kondisi kesehatan buruk, dan rentan penyakit. Kedua, hormon kortisol rendah; kekebalan tubuh meningkat, jiwa tenang, otak jernih, dan kontrol emosi.

Dari hasil penelitiannya, Mohammad Sholeh membuktikan bahwa orang yang melaksanakan shalat Tahajud secara iatiqomah memiliki hormon kortisol yang rendah. Hal ini menandakan bahwa mereka memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil (hal. 54).

Dalam perspektif ilmu psikoneuromunologi, gerakan sujud dalam shalat dapat mengantarkan manusia pada derajat yang setinggi-tingginya, khususnya derajat intelektual. Dengan kata lain, ketika orang sedang melakukan sujud dalam shalatnya, sebenarnya ia sedang memompa potensi yang ada di otaknya. Menurut Dr Fidelma O’Leary, PhD., Neuroscience dari St. Edward’s University, ada beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dapat dimasuki darah. Urat ini baru bisa dimasuki darah saat melakukan sujud. Akan tetapi, urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Dan waktu yang tepat untuk mengalirkan darak ke otak ini adalah ketika melakukan shalat (hal. 159).

Hal yang tidak boleh diabaikan oleh seseorang adalah memamahi dan merenungi bacaan-bacaan yang terdapat dalam shalat. Siapa yang menyangka bahwa semua bacaan yang ada dalam shalat dan memperbaiki dan menyegarkan otak. Barangkali, tidak banyak yang memahami bahwa bacaan-bacaan yang ada dalam shalat berpengaruh besar terhadap ketenangan otak.

Buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Buku ini mengetengahkan pembahasan bagaimana cara menyegarkan otak agar senantiasa berfungsi secara normal. Melalui buku ini, pembaca akan memahami bahwa shalat yang selama ini dikenal sebagai ibadah wajib yang bernilai transendental, ternyata juga memiliki implikasi luar biasa dalam menyegarkan otak manusia. Shalat bukan sekedar berfungsi sebagai mediasi hubungan vertikal antara manusia dengan sang pencipta, tetapi juga sebagai media untuk mengatasi stres.

Judul Buku : Refresh & Install Ulang Otakmu dengan Shalat
Penulis : Syauqi Abdillah Zein
Penerbit : Sabil, Yogyakarta
Cetakan : I, 2015 
Tebal : 196 halaman
ISBN : 978-602-7695-93-1
Peresensi: Suhairi Rachmad, alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura