::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MADRASAH QUDSIYYAH

Madrasah Tertua di Kudus dengan Sederet Prestasi

Kamis, 03 Desember 2015 01:01 Pendidikan Islam

Bagikan

Madrasah Tertua di Kudus dengan Sederet Prestasi

Sebagai salah satu madrasah tertua di kota Kudus, Jawa Tengah, Madrasah Qudsiyyah memiliki sejarah panjang. Di ‘Kota Kretek’ ini ia tidak serta-merta lahir dan menjadi besar, melainkan mengalami proses jatuh bangun dan lika-liku yang cukup melelahkan. Mengingat posisi strategisnya yang berada di dekat makam Sunan Kudus, Qudsiyyah kini menjelma madrasah yang menyejarah.<>

Sebelum organisasi Budi Utomo menggelorakan Kebangkitan Nasional pada 1920, Madrasah Qudsiyyah telah berdiri tegak mengembangkan sayap-sayap pendidikan agama yang anti penjajah. Sejak 1917, kegiatan belajar mengajar telah dimulai kendati saat itu belum memiliki nama dan tempat belajar yang pasti.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1919 (1337 H), KH Raden Asnawi secara resmi mendirikan Madrasah Qudsiyyah. Sejarah mencatat, Mbah Asnawi, panggilan akrab salah satu pendiri NU ini, adalah keturunan ke XIV Sunan Kudus sekaligus keturunan Syeikh Ahmad Mutamakkin, seorang wali kelahiran Pati yang hidup pada zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Karena itu, wajar jika terdapat keselarasan garis perjuangan Mbah Asnawi dengan para leluhurnya baik dalam pola pendidikan maupun dimensi penegakan reputasi agama Islam. Tegasnya, ada benang merah yang bisa diteladani dari KH Raden Asnawi dan Syeikh Ahmad Mutamakkin.

Nama Qudsiyyah, diambil dari kata Quds yang berarti suci sekaligus nama kota tempat kelahiran madrasah tersebut. Maksud penggunaan nama itu agar apa yang diajarkan serta diamalkan di madrasah menjadi benar-benar suci dan murni, tidak dicampuradukkan dengan hal yang tidak baik.

Hingga tahun 1929, Madrasah Qudsiyyah dipimpin langsung KH R Asnawi selaku kepala sekolah didampingi KH Shofwan Durri. Setelah itu, hingga tahun 1935 Qudsiyyah dipimpin Kiai Tamyis lantaran Mbah Asnawi sendiri sibuk di pesantren yang didirikannya sejak 1927, yakni Pesantren Raudlatuth Thalibin, Bendan-Kerjasan-Kudus. Masa menjelang kemerdekaan (1943-1950) disebut-sebut sebagai era kemunduran Qudsiyyah.

Namun, setelah tahun 1950 Madrasah Qudsiyyah kembali bangkit. Itulah salah satu alasan Mbah Asnawi tidak menyebut Qudsiyyah sebagai pesantren karena telah mendirikan pesantren tersebut. “Meski sudah ada pesantren, namun madrasahnya lebih terkenal karena lebih dahulu lahir. Kami para alumni ingin mempertahankan tradisi Qudsiyyah itu,” kata Ketua Ikatan Alumni Qudsiyyah (IKAQ) Dr H Muhammad Ihsan kepada NU Online beberapa waktu lalu.

Santri Berprestasi

Menurut Muhammad Ihsan, Qudsiyyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang masih konsisten mempertahankan nilai-nilai salafiyah sekaligus merespon perkembangan masa kini secara proporsional. Baik pada sisi kelembagaan maupun sisi kurikulumnya. Itulah sebabnya, para wali santri bangga mengirimkan anaknya ke Qudsiyyah.

Menurut dosen STAIN Kudus yang juga Wakil PCNU Kudus ini, madrasahnya memiliki segmentasi “pasar” tersendiri. Kendati tanpa promo melalui spanduk, selebaran, atau yang lain, pendaftar di Qudsiyyah pada tiap tahun ajaran baru tetap standar.

Bagi Ihsan, prestasi Qudsiyyah yang masih tetap dan terus bertahan adalah kemampuannya mempertahankan, melestarikan, sekaligus menanamkan nilai-nilai salafiyah kepada santri. “Dalam waktu bersamaan sekaligus membekali santri dengan ilmu-ilmu umum. Ini icon khusus Qudsiyyah,” tegasnya.

“Qudsiyyah ora gumunan lan ora kagetan. Dinamika yang ada selalu kita respon dengan positive thinking. Tetapi sekaligus benar-benar kita pertimbangkan manfaat dan mudaratnya ke depan. Terutama terkait dengan eksistensi Qudsiyyah sebagai lembaga pendidikan yang konsen terhadap pendidikan salafiyahnya,” tandas Ihsan.

Disinggung detail prestasi santri, Ihsan mencontohkan, untuk Karya Tulis Ilmiah, bahtsul kutub, atau pidato bahasa Arab-Inggris, santri Qudsiyyah memiliki prestasi di bidang itu. Baru-baru ini mereka bahkan menjuarai pembuatan film dokumenter tingkat nasional.

Prestasi madrasah Qudsiyyah tak hanya berkutat pada keilmuan salafiyah, prestasi pada Ujian Nasional (UN) pun tak kalah. Torehan prestasi UN Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Qudsiyyah Kudus beberapa tahun terakhir bahkan cukup membanggakan. Selain lulus  seratus persen, UN tahun 2011 MTs Qudsiyyah meraih peringkat ke-2 se-Kudus.  Dari 139 SMP dan MTs se-Kudus, baik Negeri maupun Swasta, MTs Qudsiyyah meraih posisi kedua.

Dari empat mata pelajaran UN yang diujikan, MTs Qudsiyyah meraih posisi pertama untuk mapel Bahasa Inggris dan Matematika se-Kudus. Dari sisi nilai, mapel Matematika meraih nilai paling tinggi. Dari 214 siswa, sebanyak 82 anak (38 persen) memperoleh nilai 8.00-8.99, 89 anak (41,59 persen) meraih nilai di atas sembilan, dan tiga anak (1,4 persen) meraih nilai sempurna, yakni 10.00. Untuk Bahasa Inggris, sebanyak 119 siswa (55.6 persen) dari total 214 siswa yang mengikuti ujian mendapatkan nilai 8.00-8.99 dan 70 siswa (32,71 persen) meraih nilai di atas sembilan.

Untuk kegiatan ekstrakurikuler, misalnya, Ambalan KHR Asnawi Madrasah Qudsiyyah Kudus berhasil menorehkan prestasi di Yogyakarta. Dalam Temu Karya Pramuka Penegak IV Jateng-DIY beberapa waktu lalu, tim Pramuka MA Qudsiyyah tersebut sukses meraih juara III. Juara pertama diraih oleh MAN 3 Yogyakarta (putra), dan posisi kedua ditempati MAN 1 Klaten.

Selain satu tropy juara III, tim beranggotakan sembilan orang tersebut sukses menyabet sejumlah piala dalam perkemahan yang digelar di Buper Rama Shinta Klompleks Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Prestasi tersebut disumbangkan melalui seni kaligrafi, pentas seni drama, kreasi masakan, pidato bahasa Jawa, dan Lomba Tulis Karya Ilmiah (LKTI).

Sementara itu, Ketua Umum Mutakhorrijin Qudsiyyah di Semarang (MAQDIS) M Rikza Chamami menyebut Qudsiyyah sebagai madrasah yang unik. Pasalnya, hingga kini masih mempertahankan nilai-nilai salaf. "Hingga hari ini Aliyah Qudsiyyah belum akreditasi. Kalau Tsanawiyah dan Ibtidaiyah malah sudah. Keduanya dapat nilai A," kata Rikza.

Hal ini terjadi lantaran KH Sya'roni Ahmadi selaku pembina yayasan memberi arahan agar Qudsiyyah tetap seperti dulu, tidak mengikuti pemerintah dalam kebijakan internal sebagaimana adanya akreditasi dan lain-lain. Hal tersebut ditempuh demi kehati-hatian semata.

Ditanya tentang organisasi MAQDIS, Rikza menyebut itu merupakan buah karya Prof Abdurrahman Mas'ud PhD (alumnus Qudsiyyah 1980) ketika menjadi Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Dikonfirmasi terpisah, Abdurrahman Mas’ud yang kini menjabat Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama memberi testimoni bahwa Madrasah Qudsiyyah telah melahirkan dai-dai panggung yang dicintai masyarakat. Sebut saja Almarhum KH Mukhlisin, KH Subur, KH Kustur.

Menurut doktor jebolan Universitas California AS ini, pengasuh Qudsiyyah merupakan para kiai yang sakti seperti KH Sya’roni Ahmadi, salah satu Mustasyar PBNU, yang ceramahnya sangat digandrungi berbagai kalangan, baik kaum intelektual maupun masyarakat awam. Beberapa guru utama antara lain Kiai Yahya Arief dan Kiai Ma’ruf Irsyad. Keunikan lain di Qudsiyyah adalah adanya pelajaran Falak yang sangat mengesankan.

Saat Presiden KH Abdurrahman Wahid berkunjung ke Kudus, KH Sya’roni Ahmadi melontarkan joke kepada Gus Dur, bahwa Qudsiyyah juga melahirkan “Abdurrahman Wahid”, tapi jadi dua. “Satu, Abdurrahman (Mas’ud) yang sedang di Amerika saat ini. Kedua, Wahid (Nusron) yang saat ini ada di sini,” tutur Abdurrahman Mas’ud menirukan Mbah Sya’roni.

Sholawat Asnawiyah

Madrasah Qudsiyyah mewarisi satu karya legendaris, yakni Sholawat Asnawiyah. Sholawat gubahan sang pendiri, KH Raden Asnawi, ini tergolong unik dan menarik. Pasalnya, dalam liriknya menggambarkan kecintaan dan nasionalisme yang tinggi bagi republik ini. Dalam teks sholawat tersebut, Mbah Asnawi berharap Indonesia selalu aman, damai, dan masyarakatnya sejahtera, sehingga menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun warabbun ghafur.

Qudsiyyah berupaya terus melestarikan ajaran-ajaran sang pendiri. Salah satu yang terus digencarkan adalah memopulerkan sholawat tersebut. Selain di ranah kesenian melalui Grup Rebana Al-Mubarok Qudsiyyah yang selalu menyenandungkan sholawat tersebut, Qudsiyyah juga berupaya mengenalkan sholawat kebangsaan ini di kancah nasional. Salah satunya melalui pameran pada Muktamar ke-33 NU, yang dihelat di Jombang, 1-5 Agustus 2015, silam.

Inilah selengkapnya Sholawat Asnawiyah:

Yaa rabbi shalli ‘ala rasuul # li muhammadin sirril ‘ulaa

Wal anbiyaa’ wal mursaliin # al ghurri khatman awwalaa

Yaa rabbi nawwir qalbanaa binuri quraanin jala

Waftah lanaa bidarsin aw #  qiraatin turattalaa

Warzuq bifahmil anbiyaa # lanaa wa ayya mantalaa

Tsabbit bihi iimananaa # dunya wa ukhran kamila

Aman aman aman aman # Indonesia Raya aman

Amin amain amin amin # Yaa rabbi rabbal ‘alamin

Amin amin amin amin # wayaa mujiibassailiin               (Musthofa Asrori)