::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KONGRES IPNU DARI MASA KE MASA (3)

Pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU

Kamis, 03 Desember 2015 18:01 Fragmen

Bagikan

Pembentukan Departemen Perguruan Tinggi IPNU

Penghujung tahun 1958, menjelang berlangsungnya Muktamar ke-III IPNU, suasana politik Tanah Air tengah memanas, menyusul perbedaan pendapat yang tak kunjung selesai dalam menyusun UUD yang baru serta pandangan mengenai dasar negara.di kalangan Dewan Konstituante, termasuk NU yang pada Pemilu 1955 menjadi parpol peraih suara terbesar ketiga.<>

Krisis politik yang telah dipaparkan di atas, menjadi salah satu isu yang ikut dibahas dalam Muktamar (Kongres) ke-III IPNU yang dihelat di Cirebon Jawa Barat pada 27 Desember 1958 - 2 Januari 1959.

Lain dari pada itu, aspirasi untuk membentuk departemen perguruan tinggi, guna mewadahi aktivis IPNU yang sudah berstatus sebagai mahasiswa, semakin menguat.

Kongres III (Cirebon, 1959)

Satu hal yang berbeda dibandingkan dengan penyelenggaraan muktamar sebelumnya, kali ini muktamar semakin meriah, dengan diadakannya Pekan Olah Raga (POR) I. POR ini merupakan ajang kompetisi di bidang olahraga yang diikuti sekitar 56 cabang IPNU se-Indonesia. Adapun cabang lomba yang dipertandingkan antara lain sepak bola, bulutangkis dan catur.

Tak kalah gayeng pada sesi acara diskusi panel dan pleno yang kemudian menghasilkan berbagai rekomendasi, di antaranya untuk menerbitkan buku panduan organisasi, administrasi dan pola kerja organisasi. Selain itu, pola pengembangan cabang juga menjadi pembahasan utama, mengingat semakin banyaknya cabang-cabang yang sudah dan siap untuk berdiri.

Akhirnya, pada sebuah sesi pembahasan mengenai usul pembentukan organisasi khusus di kalangan mahasiswa Nahdliyin, terjadi tarik ulur pendapat : apakah sudah saatnya dibentuk organisasi kemahasiswaan di kalangan Nahdliyin?

Satu kubu berpandangan pembentukan organisasi mahasiswa ini tergolong prematur, mengingat IPNU baru beberapa tahun berdiri dan masih berkembang, ditambah pada cita-cita awal untuk tetap menyatukan kaum pelajar, santri dan mahasiswa dalam wadah IPNU.

Sedangkan, kubu lain berpendapat bahwa ada perbedaan kebutuhan berbeda, yang mendesak untuk dicari pemecahannya, antara pelajar dan mahasiswa. Sebagai contoh, ketika diadakan Kongres Pemuda di Bandung, IPNU tidak dilibatkan secar proporsional karena tidak menggunakan “bendera” mahasiswa.

Setelah terjadi adu pendapat, forum muktamar kemudian memutuskan untuk membentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU, yang diketuai Ismail Makky dan Asnawi Latief sebagai sekretaris. Terbentuknya Departemen Perguruan Tinggi ini, sejatinya sebagai jalan “kompromi” untuk mewadahi aspirasi pembentukan organisasi kemahasiswaan, yang menurut forum, masih belum dipandang perlu untuk dibentuk secara terpisah dengan IPNU.

Para peserta muktamar juga memutuskan kembali mempercayakan amanah Ketua Umum PP IPNU, kepada Tolchah Mansoer untuk periode 1959-1961. (Ajie Najmuddin)

Foto: Tolchah Mansoer muda, Ketua PP IPNU (1954-1961)

Sumber:
- Kenang-Kenangan Mu’tamar ke III, POR ke-I, Panel Discussion, dan Lustrum I Ikatan Peladjar Nahdlatul ‘Ulama’ (Yogyakarta, Bag. Publikasi/Dokumentasi Sekretariat Panitya Mu’tamar III & POR I IPNU), 1959.
- Caswiyono Rusydie dkk, KH. Moh. Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Yogyakarta, Pustaka Pesantren), 2009.