::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KONGRES IPNU DARI MASA KE MASA (5)

Kilas Kongres V: Ikrar Tak Hapus NU untuk Selamanya

Selasa, 08 Desember 2015 08:06 Fragmen

Bagikan

Tujuh tahun berlalu sudah, sejak berdirinya IPNU pada tahun 1954, banyak kader IPNU yang dulu masih dalam masa kuliah, kini telah menjadi seorang akademisi, sarjana maupun insinyur yang telah terjun langsung ke masyarakat. Seperti yang diungkapkan Tolchah Mansoer:<>

Setelah tudjuh tahun lebih berorganisasi, kelihatan djelas hasil jang nampak, walaupun tidak seluruhnja... Kita bersjukur, selama tudjuh tahun ini sekalipun belum banjak, kita telah mempunyai akademikus, beberapa orang insinjur, doktorandi, jang mereka ini telah terdjun ke dalam masjarakat. Telah pula menghasilkan kyahi2 muda langsung memimpin pesantren2 dan kita lihat di antara mereka jang mendjadi anggauta-anggauta DPR, BPH, DPR Pusat, MPR dan lain-lain lagi.

Meski demikian, tantangan yang menghadang juga semakin lebih berat. Baik persoalan kaderisasi, mengelola cabang yang semakin banyak jumlahnya, maupun yang berkaitan dengan positioning  IPNU dalam menghadapi konstelasi sosial-politik yang terjadi di Indonesia.

Kongres V (Purwokerto, 1963)

Untuk pertama kalinya sejak keputusan yang dikeluarkan pada Muktamar (Kongres) IPNU IV di Yogyakarta, terjadi penggantian nomenklatur (istilah) “muktamar” menjadi “kongres”. Oleh karena itu, pada Juli 1963 di Purwokerto, gelaran yang kelima IPNU mulai menggunakan kata kongres, untuk menyebut forum musyawarah tertinggi pelajar NU tersebut.

Pada gelaran kongres ini pula, untuk yang terakhir kalinya, kongres IPNU dilaksanakan secara terpisah dengan IPPNU. Sebab, mulai Kongres VI pada tahun 1966 dan seterusnya, Kongres IPNU dan IPPNU digelar dalam waktu dan di tempat yang sama.

Salah satu hal penting yang dihasilkan dalam Kongres V ini antara lain peneguhan kata atau identitas dalam IPNU. Hal ini dilakukan karena muncul gagasan dari salah satu peserta untuk menghilangkan kata NU dalam akronim IPNU. Namun, akhirnya peserta kongres mengeluarkan ikrar: tidak mengubah nama organisasi ‘Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’  maupun menghilangkan kata “Nahdlatul Ulama“ untuk selama lamanya.”

Dari hasil kongres kelima ini, Asnawi Latif terpilih menjadi Ketua Umum PP IPNU periode 1963-1966. Kelak, ia menjadi orang yang terlama mengemban amanah Ketua Umum PP IPNU, hingga terpilih ketua baru Tosari Wijaya pada tahun 1976. (Ajie Najmuddin)

 

Sumber:

- Caswiyono Rusydie dkk, KH. Moh. Tolchah Mansoer Biografi Profesor NU yang Terlupakan (Yogyakarta, Pustaka Pesantren), 2009.

- Materi Kongres XVIII IPNU