::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Santri Makassar Menangi BSM Santripreneur Award 2015

Kamis, 31 Desember 2015 01:19 Pesantren

Bagikan

Jakarta, NU Online
Seorang santri asal Makassar, Sulawesi Selatan terpilih sebagai juara pertama kategori pengusaha di bidang Industri Perdagangan dan Jasa dalam ajang anugerah penghargaan Bank Syariah Mandiri (BSM) tahun 2015.
<>
Ismail Bachtiar (23), santri alumnus Pondok Pesantren Ma'had Hadis, Biru, Bone Makassar, ini terpilih sebagai Juara I BSM Santripreneur Award 2015 kategori industri, perdagangan dan jasa.  Santri dari DR Muhammad Yunus, Watampone, Sulawesi Selatan, ini berhak mendapat hadiah dari BSM berupa uang Rp 50 juta dan piagam dari Menteri Koperasi dan UKM RI.

Ismail berhasil mendapat nilai terbanyak dari dewan juri yang terdiri dari DR H Marsudi Syuhud (PBNU), Prof Ahmad Mubarok (Konsorsium Pesantren), H Sweet Luvianto (Indonesia Islamic Business Forum; IIBF), Agus Dwi Handaya (BSM), Ahmad Sugeng Utomo (Rumah Entrepreneur Indonesia), dan Noor Wahyudi (Konsultan Bisnis).

Ia mendapat nilai teringgi dari tiga nominee terbaik dengan skor 282. Mengalahkan santri asal Bandung (Irvan Kamil; nilai 236) pengusaha software Velo Technology, dan santri asal Tegal (Muhammad Ilham, nilai 228) pengusaha pembuat minyak wangi.

Penjurian tersebut adalah tahap akhir yang dilaksanakan di Hotel Acacia Jakarta pada Rabu (0/12/201). Ismail dan dua nominee tersebut telah melewati tahapan tiga kali pejurian. Sebelum pejurian akhir tersebut, ia telah menyisihkan 442 pendaftar di kategori industri, pedagangan dan jasa. Ismail lolos tahap 20 besar, lalu dia diverifikasi lapangan untuk diteliti kebenaran faktanya di lokasi usahanya. Setelah valid, dijadikan nominee 3 besar untuk dipilih sebagai juara.

Ismail yang "hanya" tamatan S1, berhasil membuat sebuah lembaga pendidikan formal pertama di kawasan timur Indonesia yang berbasis syariah. Nama lembaga pendidikannya pun sangat unik, Rektor Institute (RI).

RI, dia sampaikan di depan dewan juri, bukan perguruan tinggi, melainkan sebuah Rumah Belajar untuk siapa saja yang ingin menambah ilmu. Para peserta didiknya ada yang tamatan SLTA dan sarjana. Ada kelas khusus Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, kelas Wirausaha, dan kelas lain yang dikehendaki para peserta belajar. Para pengajarnya pun berasal dari berbagai latar belakang sesuai keahlian yang dibutuhkan.  

"Saya membuka lembaga ini karena melihat belum ada lembaga pendidikan informal berciri Islam yang menonjol di luar Jawa," ujar Sarjana Kesehatan Masyarakat dari Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Dipilih nama Rektor Institut, kata mahasiswa S2 jurusan Manajemen ini, karena mencita-citakan para alumninya menjadi rektor di mana-mana. Setidaknya menjadi rektor dengan mendirikan lembaga pendidikan informal seperti Ismail sendiri.

Apa ciri khas syariah yang ada di RI?
Dijelaskannya, seluruh karyawan diwajibkan shalat jamaah di masjid jika masuk waktu shalat. Ada pula rutinitas shalat dhuha dan tahajud yang dikoordinir oleh siswa sendiri. Bahkan ada gerakan Puasa Senin-Kamis oleh para siswa.

Adapun karyawannya, tambah dia, sebanyak 12 pegawai tetap dan 30 free lancer, diikutkan dalam program undian Umroh. Setiap tahun ada satu atau dua karyawan yang berangkat umroh dengan biaya dari RI.

"Alhamdulillah, berkat doa orang tua saya, para guru dan para siswa dan orang tua mereka yang merasa mendapat manfaat dari RI, kami sekarang punya  cabang dan telah membeli tanah cukup luas untuk kantor sekaligus kampus pusat kami di Kota Makassar," tuturnya saat presentasi di depan dewan juri.

Dari segi permodalan, santri muda yang masih membujang ini menyebutkan, saat awal membuka usaha pada 2012, modalnya hanya Rp 500 ribu. Kini setelah tiga tahun berjalan, total asetnya telah mencapai Rp  350 juta.

Ditanya soal penambahan modal dari bank, Ismail mengatakan saat ini belum butuh tambahan modal dari bank. Dia memilih mengajak orang menjadi investor daripada mengambil kredit dari bank. Meski demikian ia mendukung setiap pengusaha untuk berani menjadi kreditur bank, karena hal itu akan mendorong disiplin keuangan dan menambah nilai kepercayaan masyarakat.

BSM Santripreneur Award 2015 hanya boleh diikuti santri yang telah memiliki usaha minimal berjalan satu tahun dan usia si santri maksimal 35 tahun. Untuk mendaftar harus melampirkan surat  rekomendasi dari kyai yangmenyatakan bahwa si pendaftar benar-benar santrinya. Lengkap dengan cap pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam pemberi rekomendasi.  (ichwan/abdullah alawi)