::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Lembaga Kajian Institut Bukhari Kenalkan Ulama Hadits Nusantara

Rabu, 13 Januari 2016 20:02 Pesantren

Bagikan

Jakarta, NU Online
Lembaga kajian hadits Institut Bukhari mencoba mempromosikan ulama hadits nusantara pada pelatihan ilmu hadits yang diadakan di Pesantren Darur-Rahman. Lembaga ini memandang ulama hadits nusantara selama ini belum terlalu populer di pesantren. Padahal negeri ini telah melahirkan banyak ulama hadits.
<>
Mereka juga menulis beberapa karya tentang ilmu hadits dan syarah hadits. Sayang, karya-karyanya belum diajarkan di sebagian besar pesantren. Kitab-kitab ulama Timur-Tengah lebih dominan diajarkan ketimbang karya ulama nusantara.

“Kajian ulama hadis nusantara merupakan salah satu bagian dari program Indonesia Mengaji Hadis yang diselenggarakan el-Bukhari Institute. Di samping peserta pelatihan diajak untuk mengenal lebih dalam ilmu sanad dan matan hadis, mereka juga dikenalkan dengan ulama-ulama hadis nusantara,” Ketua Bidang Pelatihan Institut Bukhari Yunal Isra, Sabtu (9/1).

Yunal menyebut setidaknya tujuh ulama hadits nusantara yang dikenalkan kepada santri Darur-Rahman. Mereka adalah Syekh Yasin al-Fadani, Syekh Mahfudz Termas, KH Muhajirin Amsar, KH Muhit Abdul Fatah, KH Ahmad Marwazie, Prof DR KH Said Agil al-Munawar, Prof DR KH Ali Mustafa Yaqub, dan DR Luthfi Fathullah.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya dituntut untuk menyimak materi yang disampaikan pemateri. Mereka diminta untuk lebih aktif berdiskusi dan memaparkan pendapat mereka tentang ilmu hadits. Di akhir pelatihan, para peserta diberi waktu sekitar tiga puluh menit untuk menyimpulkan materi yang mereka pahami dalam bentuk gambar.

Untuk memudahkan peserta memahami hadis, sebagian besar materi disajikan dalam bentuk permainan. Usai bermain, para peserta diminta untuk menjelaskan filosofi permainan dan hubungannya dengan ilmu hadits.

Menurut Abdul Karim Munte, tujuan dari permainan ini adalah agar peserta dapat memahami ilmu hadits dengan mudah dan mereka juga bisa bagaimana proses periwayatan hadits dari masa sahabat sampai ke masa kini. Di samping itu, peserta pelatihan juga mengerti alasan mengapa terjadi perbedaan kata, makna, dan riwayat dalam ilmu hadits.

“Dengan adanya pelatihan ini, kami lebih mengenal ulama hadits nusantara yang selama ini belum kami ketahui. Selain itu, materi pelatihan ilmu hadits disajikan dengan metode yang menarik, sederhana, dan memudahkan, sehingga kami lebih paham ilmu hadits,” kata Iqbal, peserta pelatihan asal Tangerang. (Hengki/Alhafiz K)