::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Pemimpin Menolak Harta dari Rakyatnya

Jumat, 22 Januari 2016 09:00 Hikmah

Bagikan

Kisah Pemimpin Menolak Harta dari Rakyatnya
Foto: Ilustrasi
Tak setiap niat baik berbuah baik. Demikianlah yang dialami salah seorang pengusaha dalam hikayat klasik seperti diceritakan dalam kitab an-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qulyubi.

Mungkin karena merasa memiliki harta lebih, suatu ketika pengusaha itu menyerahkan harta upeti atau pajak di luar jumlah biasanya. Setiap tahun ia membayar pajak dengan nominal lebih besar.

Tak berselang lama, kabar ini segera hinggap di telinga Raja Kisra. Alih-alih gembira, sebagai penguasa saat itu sang raja justru memerintahkan jajarannya untuk menolak keras pajak tambahan tersebut. Tak hanya itu, ia juga menjatuhi hukuman "disalib" bagi pengusaha itu.

Kata Kisra, "Setiap raja atau pemimpin yang mengambil harta rakyatnya secara zalim tak akan meraih keberuntungan selamanya. Keberkahan tanah airnya sirna dan menjadi bencana bagi dirinya."

"Keberadaan raja ditopang oleh kekuasaan. Kekuasaan ditopang oleh tentara. Tentara ditopang harta kekayaan. Kekayaan ditopang teritori negara. Dan Teritori negara ditopang oleh keadilan pada rakyat dan perdamaian," sambung sang raja.

Manakah yang lebih utama bagi seorang raja, keberanian atau keadilan? Orang bijak bestari berucap, "Ketika pemimpin sudah berlaku adil, keberanian tak lagi dibutuhkan." (Mahbib)