::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PMII Se-Mataraman Sayangkan Penghapusan Materi PKT oleh PB PMII

Jumat, 29 Januari 2016 01:02 Daerah

Bagikan

PMII Se-Mataraman Sayangkan Penghapusan Materi PKT oleh PB PMII
Jombang, NU Online
Forsikoma (Forum Konsolidasi Komisariat se-Mataraman) yang terdiri dari beberapa kabupaten menilai bahwa penghapusan materi Paradigma Kritis Transformatif (PKT) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak disosialisasikan dengan massif oleh Pengurus Besar (PB) PMII, sehingga sampai saat ini masih menimbulkan berbagai pertanyaan mendasar tentang dihapusnya PKT tersebut. 

Sejumlah Komisariat se-Mataraman terdiri dari Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Ngawi, Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar.

Penilaian tersebut merupakan latar belakang digelarnya seminar “Membedah Filosofi Paradigma PMII” yang dipelopori oleh para Ketua Komisariat PMII se-Jombang di Aula Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, Ahad (24/1/2016) lalu. Sebagai pembicara, mereka mendatangkan Ketua  Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jombang, Amir Maliki Abu Tolhah.

Ia mengajak kepada aktivis PMII untuk terus mempertajam wacana perkembangan Paradigma PMII dari masa ke masa di sejumlah literatur dan situasi yang mendukung untuk memantapkan alasan dihapusnya PKT, namun sementara ini ia mengaku materi PKT sebagai pijakan proses berpikir sangat penting. “Realita penghapusan PKT PMII tetap harus menjadi bahan kajian untuk memantapkan keyakinannya dalam berdialektika,” paparnya di depan puluhan peserta.

Di sela-sela seminar, Ketua Komisariat PMII Ya’qub Husein, Rif’atuz Zuhro mengemukakan bahwa tidak dipakainya paradigma PKT di PMII akan berdampak negatif, warga PMII akan mulai kehilangan pijakan pola berpikirnya dalam mengkritisi sebuah realitas ataupun problem. “Saat ini sudah mulai dirasakan dampaknya oleh pengurus-pengurus PMII mulai tingkatan rayon hingga cabang. Mereka tidak menemukan pijakan yang pasti dalam menyelesaikan sebuah problem misalnya,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut Ririf sapaan akrabnya, ketika melihat sejarah perubahan paradigma PMII, selalu didorong dengan landasan filosofi yang kuat dengan melihat sebuah situasi dan kondisi, kemudian memberikan tawaran paradigma yang tepat sebagai pergantian dari paradigma yang dihapus itu. Hal ini hendaknya perlu dilanjutkan oleh petinggi PMII atas risaunya aktivis PMII saat ini.

“PMII pernah menggunakan Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran pada masa kepengurusan sahabat Muhaimin Iskandar periode 1994-1997, dan Paradigma Menggiring Arus Berbasis Realitas pada masa kepengurusan sahabat Heri Harianto Azumi periode 2006-2008,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Rifqi Nurul Hidayat, Ketua Komisaria Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang menegaskan  bahwa tujuan PKT PMII adalah sebagai pisau analisis kader untuk membaca realitas. “Apabila pisau itu sudah tumpul bahkan diambil maka apa jadinya kader-kader PMII dalam menjawab tantangan zaman, apalagi sudah memasuki pasar bebas dunia. PMII harus mempunyai paradigma yang jelas,” tandasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)