Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tangkal Paham Radikal, NU Pringsewu Imbau Warga Jaga Kearifan Lokal

Sabtu, 30 Januari 2016 12:01 Daerah

Bagikan

Tangkal Paham Radikal, NU Pringsewu Imbau Warga Jaga Kearifan Lokal
Foto: ilustrasi
Pringsewu, NU Online
Wakil Sekretaris MWCNU Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Lampung Ahmad Fauzan mengatakan bahwa pemahaman dan keyakinan baru yang banyak muncul dan cenderung radikal sekarang ini banyak berakibat buruk bagi masyarakat ataupun bagi kelompok radikal itu sendiri.

Dengan munculnya paham tersebut masyarakat menjadi resah diakibatkan banyak tradisi yang selama ini menyatukan keberagaman masyarakat dikecam dan disalah-salahkan. Kelompok baru tersebut mencoba menghilangkan kearifan lokal yang selama ini menjadi sarana yang baik bagi syiar Islam.

"Tradisi masyarakat apapun dan dari manapun jika terjiwai dengan nilai-nilai dan ajaran Islam tentu akan menghasilkan keadaan masyarakat yang damai dan selamat dari perpecahan," tegasnya.

Fauzan menilai, paham eksklusif tersebut juga lebih mengutamakan ritual syariat lahiriyah saja dengan mengesampingkan hubungan hati yang baik antara sesama saudara muslim. Sehingga menurutnya, Hubungan silaturahmi menjadi tipis meskipun ibadah syariat tampak tekun dan intens dilakukan.

Kelompok ini cenderung memisahkan diri sehingga terisolir dari pergaulan dengan masyarakat sekitar dimana mereka tinggal. "Keberadaan mereka seperti tidak adanya mereka, wujuduhu kaadamihi. Mereka hanya mau berkumpul dengan orang-orang yang berhaluan sama dengan mereka," jelasnya.

Fauzan mengamati bahwa pemikiran dan pemahaman beragama yang keras saat ini telah merebak dan menyusup ke dalam sendi-sendi masyarakat dan bangsa, baik dilingkungan masyarakat, lembaga pendidikan seperti kampus, sekolah bahkan menyusup ke dalam masjid-masjid yang dibangun dan dibesarkan dengan pondasi tradisi lokal berjiwa Islam.

Oleh karena itu, ia mengingatkan akan pentingnya upaya upaya antisipatif atas keberadaan –aliran-aliran radikal ini. Ia mengimbau umat Islam untuk waspada terhadap pemahaman radikal yang menyusup dengan tindakan nyata yang tidak hanya cukup dilakukan sekali ataupun dua kali namun diharapkan secara berkala. (Muhammad Faizin/Fathoni)