::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Mustasyar PBNU KH Mahfud Ridwan wafat, Ahad (28/5). PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan

Senin, 01 Februari 2016 16:00 Daerah

Bagikan

Radikalisme Gunakan Dalil Kitab Suci untuk Legalkan Gerakan
Yogyakarta, NU Online
Perdamaian adalah syarat mutlak bagi suatu bangsa untuk hidup makmur dan sejahtera. Dalam hidup bersama yang damai, terbuka kesempatan luas bagi suatu bangsa untuk berkembang membangun diri dan mencapai tujuan bersama. Situasi damai suatu bangsa membutuhkan relasi yang berkeadilan dalam berbagai aspek kehidupan dan mendasarkan diri pada relasi penuh kasih.

Pengasuh Pondok Pesantren as-Salafiyah Mlangi, Gus Irwan Masduqi di Yogyakarta, Ahad (31/1/2016) menyatakan, gerakan radikalisme memakai dalil kitab suci sebagai legitimasi gerakan untuk membenarkan ideologi mereka. Masalah tafsir kitab suci juga memberi pengaruh cukup besar terhadap umat dalam memahami Islam.

"Jika perbedaan ini dijadikan sebagai dasar perpecahan bahkan menjadi dasar untuk melakukan kekerasan, tidaklah tepat. Rahmatan lil alamin tidaklah hanya kepada sesama umat muslim saja, melainkan kepada setiap orang, juga terhadap binatang dan tumbuh tumbuhan," ujar Gus Irwan pada acara bertajuk ‘Kenduri Kebangsaan: Islam Pelopor Perdamaian Indonesia-Yogya Istimewa Menolak Radikalisme’.

Ia mengungkapkan, di Yogyakarta saat ini banyak mengalir aliran dana untuk mendukung gerakan ISIS. Dana tersebut didistribusikan untuk mendoktrin paham radikal guna merekrut massa. Irwan juga menuturkan, Suriah beserta konfliknya sebenarnya bukanlah konflik agama, namun akhirnya memakai dalil agama sebagai alatnya. Jihad pada awalnya adalah untuk membela diri dari ancaman. Menolong orang miskin, memerangi kemiskinan, menolong orang lain itu juga termasuk Jihad. 

Di Yogya, lanjutnya, sudah bertebaran spanduk maupun baliho yang menyatakan bahwa Syiah bukan Islam. Setelah hal tersebut ditelisik ternyata sumber dananya berasal dari Arab Saudi yang tujuannya untuk mengadu domba aliran Syiah yang ada di Indonesia.

Islam masuk di Indonesia, imbuhnya, tidak melalui perang, melainkan melalui jalur budaya. Hal tersebut berbeda dengan Islam Wahabi yang menghancurkan situs-situs peninggalan peradaban nenek moyang.

"Kalau aliran Wahabi yang masuk di Indonesia maka Borobudur sudah lama hilang. Tapi marilah kita menjadikan Islam yang ada di Jogja ini sebagai Islam yang ramah, santun, menghargai budaya dan bukan Islam yang pemarah," ujar Wakil Sekretaris PP Lakpesdam NU itu. (Gatot Arifianto/Fathoni)