::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Takmir Masjid Se-DIY Diskusikan Radikalisme

Selasa, 02 Februari 2016 18:30 Daerah

Bagikan

Takmir Masjid Se-DIY Diskusikan Radikalisme
Yogyakarta, NU Online
Sekarang ini, radikalisme menjadi fenomena global. Dan umat Islam menjadi kelompok yang dipecundangi karena sebagian pakar-pakar di dunia, mengatakan kalau Islam adalah biang radikalisme, padahal itu tidak benar.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Nurul Hak, M.Hum dalam Sarasehan Takmir Masjid se-DIY yang bertajuk Peran Masjid Menangkal Radikalisme, Ahad Pagi (31/1). 

Nurul Hak yang juga tercatat sebagai Dosen SKI Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tersebut mengatakan bahwa fenomena radikalisme muncul akibat adanya sekelompok umat Islam yang memahami Al-Qur’an hanya sebatas tekstualnya saja. 

Acara yang bertempat di Basecamp Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga tersebut, menghadirkan dua pembicara sekaligus, yakni pakar hukum dan politik UIN Sunan Kalijaga, Prof KH Yudian Wahyudi A. MA PhD dan Ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) DIY, KH Abdul Muhaimin. 

KH Abdul Muhaimin yang mendapatkan kesempatan pertama untuk berbicara, menyampaikan fakta-fakta bahwa leluhur bangsa Indonesia telah akrab dengan toleransi, bukan sikap radikal. Oleh karena itu, lanjutnya, masjid masa depan harus mampu menyebarkan sikap toleransi tersebut.

“Proyeksi masjid masa depan adalah masjid yang ramah, yang santun dengan membangun harmoni sesama pemeluk agama,” ujarnya di hadapan puluhan takmir masjid. 

Sementara itu, Prof KH Yudian Wahyudi dalam kesempatan yang sama menguraikan tentang Islam Nusantara yang ramah terhadap budaya lokal. 

“Para Wali Songo, dulu berdakwah itu tidak asal-asalan. Mereka tidak menggunakan pedang. Tapi menggunakan pendekatan kebudayaan. Misalnya, Sunan Kudus ketika berdakwah di Kudus yang saat itu penduduknya mayoritas Hindu, mengharamkan menyembelih sapi. Karena apa? Sapi itu merupakan hewan yang suci bagi kalangan Hindu. Itu salah satu bentuk penghormatan Sunan Kudus kepada orang Hindu sekaligus sebagai strategi dakwahnya,” urainya panjang lebar. 

Oleh karena itu, lanjutnya, kita harus mempertahankan prestasi yang telah dicapai oleh para pendahulu kita. Jangan sampai, kita merusaknya dengan membiarkan gerakan-gerakan radikal semakin berkembang di negeri ini. 

“Prestasi yang dicapai oleh Islam Nusantara hari ini adalah pencapaian besar dunia Islam saat ini. Jangan biarkan dirusak oleh orang-orang yang berpaham radikal, yang tidak paham hakikatnya, Islam di Nusantara ini,” tandasnya. (Nur Rokhim/Mukafi Niam)