::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sarana Dakwah, Santri Didorong Kuasai Teknologi Informasi dan Media

Kamis, 04 Februari 2016 16:02 Daerah

Bagikan

Sarana Dakwah, Santri Didorong Kuasai Teknologi Informasi dan Media
Foto: KH Muhammad Khozim
Lumajang, NU Online
Perkembangan teknologi informasi sudah demikian pesat. Bahkan sebagian masyarakat lebih gemar belajar agama lewat media. Ini tantangan baru bagi pesantren untuk juga menguasai teknologi informasi dan media.

"Sekarang kita sedang berada pada era yang mengharuskan untuk turut menguasai media, termasuk televisi," kata KH Muhammad Khozim, Kamis (4/2). Pandangan ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Darun Najah, Petahunan Lumajang Jawa Timur usai diselenggarakannya Safari Jurnalistik beberapa waktu berselang.

Bahkan Kiai Khozim, sapaan akrabnya bisa melakukan konfirmasi langsung kepada sejumlah jamaah pengajian yang diadakan secara rutin di pesantrennya. "Para jamaah dan juga tamu yang datang saya tanya, televisi apa saja yang ditonton. Dan alhamdulillah masyarakat sudah mulai sadar untuk memilih media khususnya televisi yang mengabarkan kebaikan," katanya.

Bagi alumnus Pesantren Tebuireng Jombang ini, penguasaan media adalah bagian tidak terpisahkan dari dakwah umat Islam, khususnya kalangan santri. "Karena dari medialah, maka masyarakat bisa mengetahui sejumlah pesan yang ditayangkan," ungkapnya.

Karenanya sudah sangat mendesak bagi pesantren untuk bisa membekali santri dengan keahlian menulis dan menguasai media. "Soal materi keagamaan, rasanya para santri sudah memiliki bekal yang cukup," kata kiai tiga anak ini.

Usai diselenggarakan Safari Jurnalistik pada 31 Januari hingga 1 Februari 2016 lalu, pesantren ini telah melakukan persiapan untuk turut berkontribusi bagi terbitnya media baik cetak maupun online.

"Keterampilan menulis santri harus diasah, agar lahir karya jurnalistik yang layak dinikmati masyarakat luas," ungkapnya. Karenanya, Kiai Khozim mendorong lembaga pendidikan yang ada di lingkungannya untuk bisa mengoptimalkan kesempatan tersebut.

Pengalaman pernah memiliki media pada periode sebelumnya hendaknya dapat dijadikan bekal agar bisa melahirkan media baru yang mampu bertahan. "Memang butuh keistikomahan agar bisa melahirkan karya yang membanggakan," ungkapnya.

Lewat pengalaman dan sejumlah tenaga terampil yang dimiliki pesantren, Kiai Khozim yakin dalam waktu dekat akan lahir media yang diinginkan. "Tentunya dengan tetap menjaga Islam rahmatan lil'alamin, seperti warisan para ulama terdahulu," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)