Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Hj Fatimah, ibunda Ketua PBNU H Imam Aziz, wafat Jumat (24/2) pukul 17.15 WIB di Pati, Jawa Tengah ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

IPNU Probolinggo Kaji Problematika Pelajar Daerah

Jumat, 05 Februari 2016 10:07 Daerah

Bagikan

IPNU Probolinggo Kaji Problematika Pelajar Daerah
Probolinggo, NU Online
Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang XIX Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pimpinan Cabang IPNU Probolinggo melakukan kajian atas problematika pelajar daerah. Kajian ini melibatkan semua pengurus IPNU di semua tingkatan di Probolinggo.

Sekretaris IPNU Probolinggo Babussalam mengatakan bahwa warga Probolinggo mayoritas berasal dari warga NU. Di samping kuantitas pesantrennya yang begitu pesat, warga masih fanatik pada tradisi hormat pada ulama.

“Namun dengan perubahan dari zaman ke zaman, dari masa ke masa yang serba teknologi dan hidup di era globalisasi semuanya mulai tergerus. Dengan kondisi ini, peran orang tua sangatlah urgen dalam memantau pergaulan putra dan putrinya. Baik dalam hal pendidikan dan agama ataupun dalam pergaulan kesehariannya,” katanya, Kamis (4/2).

Menurut Babussalam, pelajar Probolinggo memang diakui sejak lahir sebagai warga NU. Namun tidak ada jaminan mereka memunyai ghiroh dalam hatinya yang akan selalu setia pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

“Dengan maraknya aliran-aliran yang berbagai cara mengancam keyakinan kita, dengan lihainya menghujat kita, tidak hanya melalui media masa namun kadang-kadang sebagai pendidik di pendidikan putra-putri kita. Apakah tidak pesimis dengan generasi kita,” jelasnya.

Apalagi kondisi pelajar hari ini lebih diperarah oleh logika sekuler daripada kepercayaan. Setelah mereka mengenyam pendidikan yang tidak lepas dari berbagai perbedaan adat, ras, suku, agama dan kepercayaan. Mereka berkolaborasi dengan lingkungannya. “Tidak sedikit putra-putri NU yang lupa pada ajaran nenek moyangnya yakni Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

Babussalam menegaskan bahwa problematika ini merupakan tantangan bagi segenap instansi atau struktural terkait maupun masyarakat. Perlu ada sinergi maupun program yang konkret untuk menghadapinya.

“Sebagai organisasi kader NU, IPNU akan menjadi salah satu tumpuan masa depan gerakan sosial keagamaan NU. Semoga keberadaan IPNU menjadi wadah serap aspirasi dari para pelajar yang ada di Probolinggo,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)