::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

ISNU Cirebon Ajak Perangkat Desa Sosialisasikan Bahaya Radikalisme

Jumat, 05 Februari 2016 15:02 Daerah

Bagikan

ISNU Cirebon Ajak Perangkat Desa Sosialisasikan Bahaya Radikalisme
Cirebon, NU Online
Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Cirebon menggelar seminar sehari, Kamis (4/2/2016) di Hotel Koening Jl Tuparev Cirebon, Jawa Barat. Seminar yang di ikuti oleh perangkat desa dari 100 desa yang berada di Kabupaten Cirebon ini menurut Selamet Supriyadi, ketua panitia Seminar, bertujuan mengajak perangkat desa untuk aktif menyosialisasikan bahaya radikalisme agama bagi masa depan NKRI dan masa depan kebergamaan di Indonesia. Apalagi gerakan radikalisme agama sudah mulai mendekat di desa-desa. 

Seminar bertajuk ‘Membendung Radikalisme Agama di Desa untuk Memperkuat NKRI’ ini menghadirkan Abdul Muiz Syaerozie dan Marzuki Rais sebagai narasumber. Menurut Muiz, gerakan radikalisme Agama di Cirebon sangat besar. Peristiwa Bom bunuh diri yang di lakukan oleh M Syarief di Polresta Cirebon beberapa tahun yang lalu, menurut ketua Cabang ISNU Cirebon ini, menjadi bukti bahwa Cirebon menjadi daerah rawan teroris.

Bukan hanya itu, orang-orang yang ditangkap Densus 88 lantaran terduga terlibat dalam Bom Sarinah di Jakarta Januari 2016 lalu, juga bearada di salah satu desa di Kabupaten Cirebon. “Ini menyedihkan. Cirebon sebagai kota wali, justru di dalamnya terdapat sekelompok masyarakat yang tidak mencerminkan keislaman para wali,” ungkap Muiz.

Oleh karena itu, keterlibatan para perangkat desa untuk menyosialisasikan bahaya radikalisme bagi masa depan NKRI kepada masyarakatnya menjadi sangat penting, mengingat desa merupakan jantung budaya bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Kondisi taraf pendidikan masyarakat desa yang rendah, dan kondisi kemiskinan yang masih banyak terjadi di desa menjadi pintu masuk bagi rekrutmen anggota kelompok gerakan radikalisme agama. 

Gerakan teroris di Cirebon banyak merekrut masyarakat desa yang minim pengetahuan tentang agama yang rahmatan lil ‘alamin. Kondisi ekonomi masyarakatnya yang miskin juga menjadi sasaran bagi rekrutmen anggota kelompok antitoleransi.

Sementara itu, Marjuki Rais yang menjadi narasumber kedua memaparkan sel-sel jaringan teroris yang berada di Cirebon. Menurutnya, kelompok-kelompok yang ditengarai mengajarkan radikalisme agama di Cirebon cukup banyak. Satu sama lainnya memiliki kedekatan emosional dan sering bergerak bersama dalam melakukan aksi-aksi antitoleransi.

“Mereka kerap menebar kebencian antaragama dan menebar kebencian pada sekelompok  aliran keagamaan tertentu,” ujarnya. (Dedi Suryadi/Fathoni)