::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gerakan Islam Cinta 2016

Jumat, 05 Februari 2016 23:02 Nasional

Bagikan

Gerakan Islam Cinta 2016
Dunia maya kini menjadi mimbar bebas, bukan hanya berpendapat, tetapi juga bebas saling mencaci dan menghujat. Internet sebagai media komunikasi yang seharusnya membangun koneksi antarmanusia justru menjadi pemecah belah.

“Sesungguhnya setan benar benar berputus asa untuk dapat disembah oleh orang-orang yang shalat. Akan tetapi dia akan tetap menyebarkan permusuhan di antara mereka”. (HR. Tirmizi)

Informasi yang bersifat pemecah belah seperti racun yang menjalar.

1) Pada tahap awal ia akan menumbuhkan fanatisme golongan atau kelompok. Bisa kelompok agama, supporter sepakbola, pengusung calon presiden, dll. Setiap kelompok akan memproduksi informasi yang menguatkan supremasi mereka dan menganggap rendah kelompok lain.

2) Maka pada tahap ini informasi berhasil membentuk benteng segregasi. Masyarakat terkotak-kotak di benteng tertutup.

3) Akibatnya mereka tidak bisa lagi saling melihat dengan jernih. Lalu setiap kelompok akan saling berprasangka dan menduga-duga.

4) Maka stereotype akan tumbuh subur. Masyarakat lebih percaya pada asumsi dan malas melakukan konfirmasi. Saling curiga dan prasangka bukan hanya terjadi antar-dua kelompok yang bersengketa, tapi juga antar tetangga bahkan di dalam rumah tangga.

5) Jika sudah tak saling percaya, maka setiap orang akan menandai/labeling. Saya-kamu, kami-mereka, sahabat-musuh, Sunni-Syiah, Viking-The Jack, pribumi-pendatang, fundamentalis-liberal, dan label-label lainnya. Dengan label seperti itu maka setiap orang dengan mudah mengenali siapa yang harus dilindungi dan siapa yang harus dihabisi.

6) Tinggal menunggu api-api kecil, maka konflik besar akan meledak (contoh: Ambon dan Poso).

Semua kekerasan massa umumnya mengalami tahap-tahap di atas. Awalnya dari informasi. Setahap demi setahap racun informasi memakan “kekebalan tubuh” bernama trust. Saat trust sudah hilang dalam masyarakat, antarsahabat bisa saling membabat, bahkan sebuah negara bisa porakporanda jika warganya dan pemimpinnya sudah tak saling percaya (contoh Yugoslavia).

Oleh karena itu kami Gerakan Islam Cinta mengajak semua masyarakat untuk segera menyadari situasi ini dan melakukan aksi-aksi nyata, sekecil apapun.

1. Tidak ikut mereproduksi dan menyebarkan informasi yang bersifat memecah belah. Bersikaplah kritis dan bijak terhadap informasi. Jika tak mampu memproduksi konten-konten positif, maka jangan ikut mereproduksi konten negatif.

“Cukuplah dikatakan pendusta jika dia menceritakan (menyebarkan) semua yang dia dengar.” (HR. Muslim).

2. Tidak terjebak dalam polemik yang sengaja dilempar di dunia maya untuk memperjelas segregasi kelompok pro dan kontra. Kita bisa memperhatikan dalam satu tahun, ada waktu-waktu panas di mana netizen saling teriak berdebat tentang satu polemik. Misalnya pada bulan Desember, topik “Halal dan haram mengucap selamat natal” menjadi perbincangan di mana-mana. Setiap orang sepertinya punya hak berfatwa. Pada awal Ramadhan atau hari raya maka perdebatan perbedaan hari puasa dan hari raya biasa mengemuka. Sepanjang tahun, tak pernah habis tema-tema “hot” yang menguras energi kita berdebat. Kadang perdebatan tidak lagi pada esensi topiknya, tetapi sudah mengarah pada segregasi, siapa ada di posisi mana. karena itulah Rasulullah bersabda,

“Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam keadaan bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya”. (HR. Abu Daud).

3. Daripada menghabiskan energi dalam perdebatan yang tiada ujung, mari kita memproduksi konten-konten yang bermuatan cinta dan persatuan. Hal tersebut bisa menjadi counter terhadap konten yang bersifat kebencian. Menurut report Simmon Wiesental Center, jumlah web/page yang berisi kebencian mencapai 11.500 pada tahun 2010 meningkat 20% dari tahun sebelumnya. Diperlukan lebih banyak konten dan web yang berisi cinta agar racun kebencian di dunia maya bisa dinetralkan.

4. Mengajarkan critical thinking dan menumbuhkan tradisi tabayyun kepada siswa, guru dan masyarakat. Seberbahaya apa pun racun informasi, tidak akan berfungsi jika setiap kita memiliki benteng pertahanan dalam diri yang disebut kemampuan literasi, digital literasi dan critical thinking.

Bersama seruan di atas, Gerakan Islam Cinta menginformasikan bahwa tahun ini telah mengagendakan beberapa program.

Festival Islam Cinta (FIC) 2016: Adalah sebuah festival yang berupaya mengarusutamakan Islam moderat yang mempromosikan nilai Islam yang damai. Festival ini menjadi ruang bagi organisasi, akademisi, seniman, dan individu yang ingin menyuarakan Islam damai agar didengar lebih luas. FIC 2015 dilakukan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sukses menghadirkan lebih dari 1500 audiens dan dihadiri tokoh besar seperti Anies Baswedan, Moh. Mahfud MD, Alwi Shihab, Komaruddin Hidayat, dll. FIC 2016 akan digelar di UIN Malang pada tanggal 24 Februari. Jawa Timur sebagai basis pesantren, maka FIC kali ini akan memberi ruang luas bagi para kyai, santri, selain para mahasiswa, akademisi dan tokoh Muslim nasional dan lokal.

Pelatihan literasi bagi da’i, guru pai, asatidz, santri dan aktivis rohis: bekerja sama dengan Kementerian Agama RI, GIC akan mendampingi sejumlah dai, guru pai, santri, dan aktivis rohis untuk memiliki kemampuan literasi dan digital literasi. Mereka adalah ujung tombak yang menentukan hitam putih wajah Islam di Indonesia. Dengan melatih mereka, diharapkan mimbar jumat, pelajaran di sekolah dan pesantren akan bernuansa Islam yang menyejukkan.

Penerbitan dan penyebaran bukom (buletin-komik) Jumat. Bekerja sama dengan Islamic (Islam in Comic), GIC akan memproduksi dan mendistribusikan buletin komik yang akan disebar di masjid-masjid kampus. Pesan yang diusung adalah nilai-nilai damai Islam. Dikemas dalam bentuk komik agar menarik bagi mahasiswa. Bukom ini sangat strategis dalam penyampaikan pesan damai Islam, mengingat kini masjid-masjid kampus diserbu buletin-buletin jumat yang menawarkan paham-paham yang intoleran. Islamic adalah gerakan yang digagas oleh mahasiswa, telah satu tahun eksis secara online dan memiliki 30 ribu audiens, dan masuk ke dalam satu diantara 9 gerakan dakwah kreatif di media online. (Red: Abdullah Alawi)