::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Jalaluddin Rumi Merindukan Tuhan

Senin, 08 Februari 2016 16:31 Pustaka

Bagikan

Ketika Jalaluddin Rumi Merindukan Tuhan
Kehidupan sufistik sejak dahulu mendominasi diri manusia bercinta dengan Allah dan Rasulnya. Sebuah kecintaan murni yang terpancar dari hati terdalam. Ketenangan hati adalah ketika bersama sang Kholiq.

Demikian juga dengan Jalaluddin Rumi. Ia adalah satu dari sekian banyak sufi yang mampu melukiskan kerinduannya kepada Tuhan dengan fasih dan berhasil menuangkannya lewat tulisan yang berjudul Matsnawi, Jalaluddin  Rumi mengibaratkan kerinduan manusia kepada Tuhan sebagaimana sepotong bambu yang dipisah dari rumpunnya. Ia merelakan dirinya dipotong-potong, dilubangi, dibentuk sekian rupa oleh manusia demi bisa melantunkan suara kerinduannya kepada rumpunnya ketika sudah menjadi seruling bambu. 

Sebagaimana halnya ketika Zaid tinggal bersama Rasulallah, ia mencintai Rasulallah. Sehingga, setelah ia dimerdekakan, ia tidak mau pulang ke keluarganya karena telah merasakan nikmatnya hidup berdampingan dengan Rasulallah dan kecintaannya kepada Rasulallah yang takkan tergantikan oleh siapapun. Ketika Zaid diminta pulang oleh keluarganya, ia berujar kepada Rasulallah “"O, utusan Allah! Engkau segalanya bagiku! Bagiku, tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih aku sukai selain engkau." (hlm. 161)

Di lain kesempatan, Jalaluddin Rumi menulis sebuah puisi yang menggambarkan kerinduannya kepada sang Kholiq. kerinduan para pecinta terhadap satu sama lain adalah perilaku yang diberkahi. Khususnya jika yang merindukan adalah Laila, dan yang dirindukan adalah Majnun.”(hlm. 182). Dalam puisinya ini, seolah-olah Jalaluddin Rumi ingin menjelaskan bahwa ada yang merindu pastinya ada yang dirindu dan apabila sudah sangat rindu kepada seseorang atau sesuatu. Maka, seakan-akan membuat kita menjadi gila. Sebagaimana Qais dan Laila dalam cerita Laila Majnun.

Menurut Osman Nuri Topbes, Matsnawi karya Jalaluddn Rumi adalah sebuah lautan dengan kedalaman yang tak berujung, makna tak terbatas dan kandungan rahasia tak terhitung. (hlm. 13)

Sudah selayaknya kitab Matsnawi yang telah diberi syarah oleh Osman Nur Topbes ini dipresiasi, untuk lebih membeningkan hati kita. Mengingat cerita-cerita di dalamnya mengandung mutiara hikmah  yang tak ternilai harganya.

Data buku

Judul Buku: Ratapan Kerinduan Rumi
Penulis: Osman Nuri Topbas
Penerbit: Mizania, Bandung
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 224 Halaman
ISBN:  978-979-433-868-1
Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Instika Sumenep Prodi PBA semester IV