::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU

Rabu, 10 Februari 2016 20:08 Opini

Bagikan

Corak Keberagamaan Muslim Kota Masih Didominasi NU
Umat Muslim mengikuti Istighotsah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (14/6/2016)

Oleh Hasanuddin Ali

Setahun terakhir saya bersama rekan-rekan di Alvara Research Center mengamati dan melakukan kajian tentang apa yang kami sebut sebagai Islam Kota. Pengamatan yang kami lakukan bermula dari kegelisahan terhadap perubahan wajah Islam yang beberapa tahun terakhir mulai mengeras, dan hampir bisa dikatakan kehilangan jati diri keindonesiannya.

Kami mulai membuka data-data sekunder terkait pola pergeseran demografi dan geografi penduduk Indonesia, dan kami menemukan data yang menarik bahwa sejak tahun 2011 penduduk Indonesia yang tinggal di kota lebih banyak dibanding yang tinggal di desa.

Perbedaan antara kota dan desa bukan sekedar perbedaan geografis saja, lebih jauh dari itu adalah perbedaan karakter, pola pikir, mental, gaya hidup, dan sebagainya. Orang kota cenderug invidualis, sementara orang desa komunalis. Orang kota cenderung terbuka, sementara orang desa lebih memilih tertutup. 

Berbekal data Badan Pusat Statistik (BPS), kami mulai menghitung dan memprediksi tahun 2020 dengan asumsi 56.7% penduduk Indonesia berada di kota, jumlah umat Islam yang tinggal di kota hampir 137 juta jiwa, sementara yang tinggal di desa 104 juta jiwa. Tren ini akan terus berlanjut, penduduk yang tinggal di kota – termasuk umat Islam – akan semakin besar.

Kembali ke soal karakter masyarakat kota tadi, maka kita bisa lihat corak keberagaman muslim kota yang cocok dengan karakter tersebut laku keras dikalangan muslim kota. Sebagai contoh ritual-ritual yang bersifat individual lebih laku dibandingkan dengan ritual-ritual keagamaan yang “rame”, ritual-ritual yang “boros biaya” banyak dihindari. Masyarakat kota juga biasanya lebih suka sesuatu yang simbolik, karena itu simbol-simbol agama yang menunjukkan kesalehan banyak kita lihat di muslim kota.

Simbol-simbol agama itu berkorelasi dengan sifat konsumerisme dikalangan muslim kota, kesadaran terhadap produk halal meningkat meskipun juga sering kebablasan, gerai dan toko pakaian muslim dan hijab merebak bak cendawan di musim hujan. Acara-acara TV juga dibanjiri berbagai hal yang berbau “islami”.

Lalu apakah ritual keagamaan yang “rame” akan punah di perkotaan? Berkaca pada hasil survei Alvara Research Center tahun 2015, ritual-ritual keagamaan yang “rame” seperti tahlilan dan maulid masih banyak dilakukan muslim perkotaan, lebih dari 80% muslim kota masih melakan ritual tahlilan dan maulid, dan 67% masil melakukan ziarah ke makam ulama.

Ciri masyarakat kota yang berpikiran terbuka dan rasional menyebabkan komposisi persentase ritual yang individual dan “rame” akan sangat dinamis. Pertarungan ide dan gagasan seputar keabsahan masing-masing ibadah ini akan terus terjadi. Adanya internet dan media sosial menjadikan ruang diskursus seputar hal ini semakin kuat dan masif. Media sosial dan internet adalah panggung terbuka, siapa yang menguasai turut pula menguasai publik. 

Di sisi lain, kehadiran media sosial juga menjadikan muslim kota menjadi emosional, terlihat bagaimana mereka memberikan komentar di berbagai media sosial yang kebetulan tidak sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki. Untuk itu kita perlu secara konsisten menyuarakan Islam yang ramah dan santun, sebab wajah Islam Indonesia kedepan akan sangat ditentukan bagaimana orang kota memahami dan menghayati apa itu Islam.


CEO and Founder Alvara Research Center