::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Spirit Nahdlatut Tujjar NU Wajib Dibangkitkan

Kamis, 11 Februari 2016 03:02 Daerah

Bagikan

Spirit Nahdlatut Tujjar NU Wajib Dibangkitkan
Ilustrasi
Pati, NU Online
Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PCNU Pati bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Kajen, Pati, Jawa Tengah, dan Library Corner IPMAFA mengadakan bedah buku Menatap Masa Depan NU karya Dr. Jamal Ma'mur, MA.

Bedah buku Selasa (9/2) ini dalam rangka mengkaji sejarah terbentuknya NU yang diinisiasi oleh Hadlratussyekh KH M. Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, dan KH. Bisyri Syansuri. Bedah buku membidik tema “Revitalisasi Nahdlatut Tujjar untuk membangkitkan spirit kemandirian ekonomi warga NU”.

Jamal Ma'mur, mengatakan, ulama-ulama NU adalah sosok yang memahamai agama secara mendalam dan bergerak untuk mengembangkan potensi umat di segala bidang, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan kesehatan. Mereka bukan sosok yang pasif dan apatis terhadap problematika umat.

Hal ini dibuktikan dengan tiga embrio berdirinya NU, yaitu Tahswirul Afkar (kelompok diskusi lintas sektoral untuk mematangkan aspek keilmuan), Nahdlatut Wathan (merajut persatuan berbasis nasionalisme di tengah upaya memecah belah bangsa), dan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan ekonomi menuju kemandirian).

Menurut Jamal yang juga Wakil Ketua PCNU Pati, tiga gerakan tersebut, baik keilmuan, nasionalisme, dan ekonomi harus dibangkitkan di era sekarang menuju kejayaan NU di masa depan, khususnya pada saat satu abad tahun 2026 yang akan datang.

Kaprodi Manajemen Zakat Wakaf IPMAFA tersebut menjelaskan, dalam konteks kebangkitan ekonomi NU, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pengembangan potensi umat, seperti Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) Era KH MA. Sahal Mahfudh.

Kedua, mendirikan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) minimal satu kecamatan satu yang bergerak ke sektor riil. Ketiga, mendirikan Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah NU (LAZISNU), minimal satu kecamatan satu yang dikelola secara profesional, tidak insidental dan temporer, seperti hanya menjelang lebaran.

Mengingat potensi zakat di Pati 20 milyar pertahun, kata dia, maka LAZISNU mendesak dibangkitkan dengan manajemen profesional dengan integritas dan akuntabilitas yang memadai. Keempat, mendirikan pusat industri berbasis keunggulan lokal untuk membangkitkan spirit entrepreneurship (kewirausahaan) di masyarakat.

Sekretaris PCNU Pati Drs. Yusuf Hasyim, M.Pd, yang menjadi pembanding dalam bedah buku tersebut menyatakan, bahwa ekonomi Indonesia sekarang ini 92 % dikuasai oleh asing. Hanya 8 % yang dikuasai kaum pribumi.

Melihat tantangan ini, menurut dia, maka spirit Nahdlatut Tujjar harus direvitalisir supaya warga NU mampu mencapai kemandirian ekonomi. NU harus mendirikan pusat-pusat perbelanjaan seperti NU-Mart di berbagai daerah untuk menandingi Alfa dan Indo-Mart yang sudah menyebar di berbagai daerah.

Maslikan Ali, sebagai Sekprodi PMI Ipmafa dan Ketua Perpus mendorong kader-kader muda NU untuk mendalami isi buku ini karena banyak pelajaran berharga yang bisa diambil untuk menatap masa depan NU. (Red: Abdullah Alawi)