::: Innalillahi wainna ilaihi raji'un, Pengasuh Pesantren Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap KH Chasbullah Badawi wafat, Senin (5/6), sekitar pukul 19.00 WIB. PBNU menyerukan kepada Nahdliyin untuk menunaikan shalat ghaib. Al-Fatihah... ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

DBD Telan Korban Jiwa, PMII Jombang Desak Bupati Tetapkan Status KLB

Jumat, 12 Februari 2016 06:30 Daerah

Bagikan

DBD Telan Korban Jiwa, PMII Jombang Desak Bupati Tetapkan Status KLB
Jombang, NU Online
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Jombang, Jawa Timur menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat, Kamis (11/2/2016) siang. Mereka mendesak Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko segera menetapkan status KLB (kejadian luar biasa) atas mewabahnya penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Sesuai beberapa data yang dihimpun mereka, hingga saat ini terdapat 626 warga Jombang menderita DBD dan 13 orang lainnya meninggal dunia. Angka tersebut menjadi perhatian mereka atas tuntutannya. “Persoalan DBD ini sudah merenggut banyak nyawa, maka penetapan status KLB DBD adalah keharusan,” kata Rifqi Nurul Hidayat, salah satu koordinator aksi.

Tidak hanya itu, mereka juga mendesak Menteri Kesehatan (Menkes) turun ke Jombang secara langsung untuk menverifikasi jumlah penderita DBD di Jombang, sebab sebelumnya terjadi kontroversi data di antara beberapa pihak terkait dengan data yang mereka kumpulkan saat ini.

Di samping itu, pendemo juga meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) agar membebaskan pembiayaan pasien DBD melalui program pemerintah Kartu Jombang Sehat.

Pemkab Kurang Perhatian

Sementara Makshum, salah seorang koordinator lainnya menilai bahwa Pemkab Jombang selama ini memang kurang memperhatikan bahaya wabah DBD. Menurut mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) itu, hendaknya jauh hari sebelum menelan korban nyawa, pihak pemerintah memberikan penyuluhan atau sosialisasi ke sejumlah elemen masyarakat. “Mengoptimalkan sosialisasi atau penyuluhan tentang segala hal yang berkaitan dengan wabah DBD,” ungkapnya.

Aksi aktivis PMII ini dimulai dari Taman Pujasera Kebonrojo, selanjutnya mereka melakukan longmarch menuju kantor DPRD Jombang dengan jarak kurang lebih satu kilometer ke utara. Di sepanjang perjalanan, mereka membentangkan sejumlah poster dan spanduk tuntutan.

Di depan kantor DPRD, mereka melakukan orasi secara bergantian dan berusaha masuk menemui dewan langsung ke dalam gedung, namun puluhan polisi siaga menjaga dan menutup rapat pintu gerbang gedung tersebut.

Tak lama kemudian usai orasi, Kabag Umum Sekretaris DPRD Jombang, Muhdlor menemui mereka. Kepda pendemo Muhdlor menyampaikan bahwa anggota dewan sedang bertugas di luar, yakni menghadiri acara pembangunan di beberapa kecamatan Jombang.

Mendengar pernyataan tersebut, para mahasiswa geram melihat tingkah laku dewan yang lebih mementingkan urusan pembangunan dibandingkan harus menanggapi derita masyarakat yang sedang dihadapi. “Inilah fakta dewan perwakilan rakyat kita sahabat-sahabat, mereka malah keluar ngurusi masalah yang tak urgen itu,” terang Makshum.

Tampak tak percaya, pendemo tetap berusaha masuk di tengah penjagaan petugas keamanan yang ketat agar bisa melihat langsung keberadaan dewan di dalam gedung, hingga akhirnya diizinkan 10 perwakilan mahasiswa menemui dewan dan menyampaikan aspirasinya.

Aksi turun jalan yang beranggotakan puluhan mahasiswa tersebut hanya terdiri dari dua Pengurus Komisariat (PK) dan sejumlah Pengurus Rayon (PR) dari dua Pengurus Komisariat terkait, yaitu PK Hasyim Asy’ari, Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng di komando Rifqi Nurul Hidayat dan PK Ya’qub Husein, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) al-Urwatul Wutsqo, Bulurejo atas pimpinan Rif’atuz Zuhro. (Syamsul Arifin/Mahbib)