Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Hj Fatimah, ibunda Ketua PBNU H Imam Aziz, wafat Jumat (24/2) pukul 17.15 WIB di Pati, Jawa Tengah ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Harlah Ke-90 NU, PCINU Maroko Kaji Sejarah Nahdlatul Ulama

Selasa, 16 Februari 2016 03:08 Internasional

Bagikan

Harlah Ke-90 NU, PCINU Maroko Kaji Sejarah Nahdlatul Ulama
Rabat, NU Online
Dalam rangka memperingati Harlah Ke-90 NU, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Maroko menggelar peringatan yang diisi dengan diskusi dan pembacaan sejarah NU di ruang serbaguna KBRI Rabat, Ahad (14/2). Sejarah NU diangkat dalam peringatan harlah agar para warga dan komunitas NU mengetahui gerakan pendahulu mereka.

Tampak hadir Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Maroko Endang Dwi Syarief Syamsuri beserta Ella Syamsuri, jajaran staf KBRI Rabat, WNI, nahdliyin dan anggota PPI Maroko ini.

Endang Dwi Syarief Syamsuri menyampaikan pentingnya sejarah dan mengapresiasi diskusi ini. “Saya yang ilmunya tidak ada 5 atau 6 % dari 100% ini merasa perlu untuk belajar,” ujarnya.

Pembacaan sekilas sejarah NU disampaikan oleh anggota Fatayat PCINU Maroko Layyinah Nur Chodijah yang sekaligus mengenalkan Nahdlatul Ulama dan peranannya bagi bangsa dan negara serta dunia.

Diskusi ini menghadirkan Mustasyar PCINU Maroko Prabowo WIratmoko Jati sebagai narasumber. Sementara Ketua LDNU PCINU Maroko Muhammad Makhludi merupakan narasumber pembanding. Forum ini dipandu Sekretaris PCINU Maroko Fairuz ‘Ainun Na’im.

Pada diskusi ini, Bapak Prabowo memaparkan tali sejarah penting mengenai proses terbentuknya sejarah Nusantara yang hilang.

Makhludi menjelaskan mengenai proses masuknya Islam ke Nusantara. Ia menggunakan teori Bashrah, teori yang mengatakan kaum Syiah dikejar Bani Umayyah dan kemudian lari ke Nusantara, terjadi pada abad ke-7 masehi.

Makhludi memaparkan perihal 245 aliran kepercayaan yang ada di Nusantara termasuk kejawen yang juga memiliki bermacam-macam jenis di dalamnya. Ia mengungkapkan perihal dimensi kejawen dan abangan yang dihembuskan oleh penjajah waktu itu untuk memecah belah umat Islam. Hingga seakan-akan kejawen adalah sesuatu yang tidak baik di mata Islam dan sebaliknya.

“Islam datang untuk menyempurnakan akhlak dan bangsa-bangsa di Nusantara, khususnya di Jawa waktu itu sudah berperadaban,” pungkasnya.

Diskusi yang berjalan cukup singkat ini mencoba menekankan pentingnya sejarah sebagai cerminan untuk masa depan dan menumbuhkan kepercayaan diri dalam diri manusia Nusantara dalam rangka mencari kesadaran-kesadaran umat Islam Nusantara sebagai bangsa yang besar.

Acara ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Katb Syuriyah PCINU Maroko Rifqi Maula. (Kusnadi El-Ghezwa/Alhafiz K)