::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengintip Pendalaman Agama di Kampus Calon Praktisi Penerbangan

Jumat, 19 Februari 2016 14:01 Daerah

Bagikan

Mengintip Pendalaman Agama di Kampus Calon Praktisi Penerbangan
Foto: KH Farmadi Hasyim di hadapan mahasiswa ATKP saat pendalaman materi keagamaan Islam.
Surabaya, NU Online
Pada Kamis malam setiap dua minggu sekali, para mahasiswa Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan atau ATKP Surabaya menerima materi pendalaman agama yang disampaikan KH Farmadi Hasyim. Pertanyaan yang kerap mengemuka adalah masalah ibadah ketika mereka berada di atas kendaraan, khususnya pesawat.

"Setidaknya ada enam ratus mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti pendalaman keagamaan Islam di kampus ini," kata KH Farmadi Hasyim yang ditemui di kampus setempat, Kamis (18/2) malam. Seluruh mahasiswa Muslim memang diwajibkan ikut materi ini, disamping materi keahlian yang sudah pasti mereka terima, lanjutnya. Kegiatan pendalaman agama ini telah berlangsung hampir dua tahun

Dalam penjelasan Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya, mereka terlebih dahulu mengikuti shalat Isya berjamaah yang diimaminya. Usai kegiatan wirid dan doa, jamaah melanjutkan dengan pembacaan surat Yasin sekaligus tahlil berjamaah yang dipimpin rekan mereka. Dan usai kegiatan tersebut, mereka dengan tertib membentuk shaf dan  mulai mendengarkan materi keagamaan Islam yang disampaikan Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PW LDNU) Jawa Timur ini.

"Saya menyiapkan silabi atau pendalaman materi kegamaan sesuai dengan kebutuhan dan harapan mahasiswa," kata alumnus Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo ini. Kitab rujukan yang digunakan adalah fiqh ibadah dari berbagai referensi seperti Fathul Qarib, Fathul Wahab, I'anatut Thalibin serta kitab kuning yang membahas ibadah lainnya. "Dan di sela-sela itu, juga disampaikan materi dari Kitab Sirah Nabawiyah untuk melengkapi pandangan serta makna kebersamaan bagi para mahasiswa," kata Kepala Seksi Haji dan Umrah Kementerian Agama Kota Surabaya ini.

"Penjelasan masalah ibadah harian dari masalah bersuci, najis, shalat, puasa hingga nanti haji juga akan disampaikan secara rinci," kata kandidat doktor di UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. Sedangkan materi dari Kitab Sirah Nabawiyah lebih pada penekanan akan pentingnya menjaga solidaritas dan keakraban yang harus dibangun bagi calon penerbang ini.

Perlunya buku saku fiqih safar

Usai menyampaikan pengantar dan pendalaman materi keagamaan baik masalah ibadah serta pembentukan karakter, para mahasiswa diberikan kesempatan untuk bertanya. "Ini sebagai sarana untuk menggali kebutuhan dan permasalahan harian maupun pribadi serta kelompok yang dihadapi mereka dengan profesi yang kini degeluti yakni sebagai penerbang," ungkapnya.

Dan dari sekian banyak pertanyaan yang disampaikan, para mahasiswa ini ternyata banyak meminta penjelasan soal ibadah di atas pesawat serta perjalanan secara umum. "Bagaimana cara shalat yang harus menghadap kiblat saat pesawat dari berbagai arah, demikian juga kebutuhan wudhu, tayammum dan cara shalat itu sendiri," terangnya. Bagi Ustadz Farmadi, munculnya sejumlah pertanyaan tersebut sangat menyentuh dan menggembirakan. "Karena mereka demikianj perhatian kepada ibadah yang harus dikerjakan walau sedang bertugas dan bekerja," katanya.

Dengan antusias dari para mahasiswa tersebut, setidaknya membawa pesan bahwa pengetahuan terkait ibadah saat dalam perjalanan sangat penting. "Ini tantangan bagi para juru dakwah agar mampu memberikan petunjuk teknis dan praktis saat para petugas maupun penumpang saat dalam perjalanan," ungkapnya. Jangan sampai ada anggapan bahwa saat melakukan perjalanan ternyata kewajiban utama dan paling prinsip yakni shalat ditinggalkan lantaran tidak ada petunjuk praktis terkait hal ini, lanjutnya.

Kiai Farmadi kemudian berangan-angan materi yang disampaikan kepada para masiswa ini dapat dijadikan buku saku yang kemudian dicetak secara massal agar menjadi panduan bagi kaum Muslimin saat bepergian. "Masyarakat sebagian besar masih awam, apa saja syarat yang membolehkan mereka untuk menjamak dan qashar shalat karena melakukan perjalanan," kata salah seorang Mustasyar PCI NU Hongkong ini. Demikian pula sulitnya mendapatkan air untuk keperluan wudhu. "Kalaupun harus tayammum, apa saja sarat dan ketentuannya," terangnya. Belum lagi problem menghadap kiblat saat di atas kendaraan karena tidak memungkinkan penumpang menentukan sendiri arah sesuai posisi Ka'bah. Demikian pula sejumlah masalah yang melingkupi hal tersebut yang layak diketahui umat.

Dari kampus yang berada di bawah naungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhungan tersebut menegaskan bahwa umat semakin butuh panduan ibadah kala dalam perjalanan. "Bahkan kita melihat tidak jarang calon jamaah haji sekalipun ternyata tidak banyak yang mengetahui bagaimana melaksanakan kewajiban shalat sesuai ketentuan yang dibenarkan," ungkapnya.

Lewat materi keagamaan dan pendalaman agama Islam yang dilaksanakan di kampus calon penerbang tersebut memberikan inspirasi bagi ustadz satu anak ini untuk semakin memasyarakatkan fiqh safar ketika umat tengah menempuh perjalanan. Meskipun materi keagamaan tersebut yang ditambah tanya jawab hanya berlangsung tidak kurang dari dua jam, cukup memberikan bekal bahwa sangat mendesak untuk disediakan buku praktis ibadah bagi para musafir. "Doakan buku dimaksud segera bisa tersusun dan dicetak, sehingga bisa menjadi panduan bagi umat," pungkasnya.

Kampus ATKP Surabaya berada di kawasan Jemur Andayani Surabaya dan memiliki jurusan teknik penerbangan, dan keselamatan penerbangan baik diploma maupun non diploma dengan sejumlah keahlian. (Ibnu Nawawi/Fathoni)