::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Buang Sampah Sembarangan adalah Teror Lingkungan Hidup

Sabtu, 20 Februari 2016 15:02 Daerah

Bagikan

Buang Sampah Sembarangan adalah Teror Lingkungan Hidup
Way Kanan, NU Online
Selain pendidikan, lingkungan hidup yang bersih adalah investasi masa depan untuk anak cucu kita. Karena itu, menurut Manajer Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Way Kanan Lampung Gatot Arifianto, membuang sampah sembarang merupakan bentuk teror dan radikalisme terhadap lingkungan hidup yang harus dihentikan sekarang juga.

"Atas nama kebersihan bagi rumah tangga salah satunya, sampah dibuang sembarangan. Bukankah hal itu merupakan kekejaman? Jadi kenapa tidak dihentikan segesa mungkin?" ujar pegiat Gusdurian itu di Blambangan Umpu, Sabtu (19/2/2016).

Sekitar 25 komunitas dengan kurang lebih 1.000 relawan dikolaboratori PC GP Ansor Way Kanan akan terlibat aktif memungut dan memilah sampah ditemukan di jalan kemudian dikumpulkan dalam kantung sesuai jenisnya dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Aksi itu merupakan gerakan memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari 2016. Diikuti 800 lebih komunitas di 34 provinsi di Indonesia. Di Way Kanan, kegiatan tersebut bertajuk Way Kanan Ramik Ragom (beragam) Sakai Sambayan (gotong royong) "Bergerak Untuk Indonesia #BebasSampah2020".

"Dalam konteks kebersihan lingkungan, diam bukan berarti emas. Dalam konteks ini pula , tidak berlaku pula nasehat bijak Tan Malaka, 'Padi Tumbuh Tak Berisik'. Dalam konteks  'Way Kanan Ramik Ragom Sakai Sambayan Bergerak Untuk Indonesia #BebasSampah2020', ingat saja ketika Sayyidina Umar mengariskan pedang di tulang unta, yakni suatu kebenaran yang harus dilakukan," tegas Ketua PC GP Ansor Way Kanan itu.

“Sakai Sambayan” sebagai falsafah hidup masyarakat Lampung, ujar Gatot menambahkan, harus diimplentasikan sebagai perilaku supaya tidak menjadi sekedar teks atau ingatan.

"Kami berharap kegiatan Sakai Sambayan secara massal bisa menjadi kegiatan rutin bulanan, sehingga bisa menjadi sarana silaturahmi mengingat rendahnya pertemuan antar komunitas di daerah ini. Selain itu, dengan kesadaran masyarakat memilah sampah sesuai jenisnya, akan berdampak positif, bagi kesehatan lingkungan dan peningkatan ekonomi melalui pembuatan pupuk organik salah satunya. Kegiatan tersebut Insya Allah akan dihadiri Bupati Raden Adipati Surya," kata pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan ini. 

Di Blambangan Umpu, aksi dilakukan di 10 titik, diikuti 305 relawan dari Polres, Kodim 0427, KNPI, Saka Wira Kartika, Pokjawan, Pemuda Katholik, BPUN, Gusdurian, GP Ansor, Sekolah Beladiri Karate Indonesia, Radin Djambat Shooting Club, Pemuda Muhammadiyah, alumni BPUN, GP Ansor, Banser, Pemula, Pramuka, Lembaga Perlindungan Anak, Pramuka dan Kantor Lingkungan Hidup, berakhir di Monumen Ryacudu.

Lalu di Pakuan Ratu, kegiatan akan berlangsung di Kampung Tanjung Serupa, dikuti 310 relawan dari HIPSI, SMP, SMA, Pondok Pesantren Al-Falakhus Sa'adah, Gusdurian, GP Ansor-Banserdan berakhir di Pondok Pesantren Al-Falakhus Sa'adah.

Kemudian di Negara Batin, aksi akan dilakukan di Kampung Purwa Negara, diikuti kurang lebih 50 relawan dari Pemuda Muhammadiyah dan PAC GP Ansor Kampung Purwa Negara. Lantas di Baradatu, kegiatan dikuti 150 relawan dari PGRI dan IPSI, berkahir di Gedung PCNU.

Selanjutnya di Way Tuba, pelaksanaan kegiatan dilakukan di Kampung Bukit Gemuruh, diikuti 100 relawan dari PAC GP Ansor Way Tuba, PMI, Gusdurian, pelajar dan masyarakat.

Kemudian di Banjit, kegiatan diikuti 250 relawan yang terdiri dari sejumlah pelajar dari Kampung Bali Sadhar Selatan, Bali Sadhar Utara dan Bali Sadhar Tengah, dikoordinir oleh Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah). Dan di Gunung Labuhan, aksi berlangsung di Dusun 1 Pamuka Jaya, Kampung Labuhan Jaya.diikuti 15 orang, berakhir di Pondok Pesantren Assiddiqiyah 11. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)