::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

GERHANA MATAHARI TOTAL

Gerhana dan Penanggalan Hijriyah

Senin, 22 Februari 2016 08:40 Opini

Bagikan

Gerhana dan Penanggalan Hijriyah

Oleh Hendro Setyanto

Gerhana merupakan sebuah fenomena terhalangnya sebuah benda dengan benda lainnya. Dalam hubungannya dengan orbit Bulan-Bumi-Matahari dikenal adanya dua macam gerhana yaitu: gerhana bulan, dan gerhana matahari.

Gerhana bulan terjadi ketika bulan memasuki daerah bayang-bayang bumi. Terdapat dua macam bayangan yang dikenal sebagai umbra dan penumbra. Jika seluruh bulan memasuki daerah umbra bumi, maka disebut gerhana bulan total, jika hanya sebagian disebut sebagai gerhana bulan sebagian dan jika hanya memasuki area penumbra bumi disebut sebagai gerhana bulan penumbra.

Sedangkan gerhana matahari, ketika piringan matahari ditutup oleh piringan bulan. Jika bulan hanya menutup sebagian, maka disebut sebagai gerhana matahari sebagian. Jika seluruh piringan bulan menutupi piringan matahari disebut sebagai gerhana matahari total. Gerhana yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 nanti termasuk gerhana matahari total.

Dalam khasanah falakiyyah atau fiqih, gerhana dikenal dengan istilah kusuf untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan.

Keindahan gerhana telah menarik minat manusia untuk memburu dan mengamatinya, terutama gerhana matahari. Keindahan dan kemegahan gerhana matahari mampu membuat mata manusia terpesona, takjub serta menggetarkan hati yang memandangnya, bahkan menimbulkan rasa takut yang merasakan akan kemahabesaran sang pencipta dan pengatur alam semesta ini. Sehingga sangatlah tepat bagi umat Islam disunnahkan untuk melantunkan takbir dan melaksanakan sholat sunnah sebagai perwujudan mengakui kebesaran sang maha pencipta, Allah SWT.

Meski demikian, aspek sains dari gerhana juga sangat banyak sekali, sehingga tidak sedikit orang melakukan ekspedisi untuk sejumlah penilitian dan juga pendidikan. Salah satu diantaranya adalah pengamatan waktu-waktu kontak gerhana matahari yang sangat terkait dengan ketelitian perhitungan.

Gerhana pada dasarnya dapat disebut sebagai ijtima’ yang terlihat. Dengan ketelitian perhitungan saat ini dapat diketahui gerhana matahari pasti akan terjadi pada tangga 9 Maret 2016 nanti, nilai kepastiannya adalah 100 persen. Kecuali terjadi kiamat sebelum tanggal tersebut. Meski demikian pada jam, menit, dan detik berapa gerhana tersebut terjadi. Dari sejumlah model perhitungan yang ada terdapat perbedaan hasil. Sehingga perlu dilakukan konfirmasai lapangan melalui pengamatan secara langsung. Hal ini perlu dilakukan karena Ijtima’ sangat terkait dengan penanggalan Hijriyah umat Islam. Perbedaan hasil dalam orde jam, menit, bahkan detik dapat berimplikasi pada penanggalan yang dihasilkan berbeda sehari. Oleh karenanya mencocokkan hasil perhitungan (ephemeris) dengan fakta lapangan (observasi) merupakan salah satu cara ilmiah untuk terus melakukan perbaikan model perhitungan yang ada. Karena bagaimanapun, tidak ada sistem perhitungan yang 100 persen tepat sama dengan fenomena alam. Seberapa telitikah perhitungan kita? Layak kita tunggu. 

Penulis adalah Pengurus Lembaga Falakiyah PBNU