::: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un... Sekretaris Jenderal PBNU periode 1999-2004 H. Muhyiddin Arubusman meninggal dunia di Rumah Sakit Tebet, Jakarta pada Senin malam (10/4)::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengelola Sampah dengan 3R

Senin, 22 Februari 2016 16:00 Opini

Bagikan

Mengelola Sampah dengan 3R
Kerajinan siap pakai dari daur ulang sampah plastik.
Oleh Hijroatul Maghfiroh
Perlu banyak strategi dalam mengelola sampah, lebih-lebih sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia yang beraneka rupa. Bank sampah seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya (Baca: Volume dan Bahaya Sampah Mengancam Indonesia) belumlah cukup menjawab permasalahan sampah yang melimpah di Indonesia. 

Revolusi mental tidak hanya diperlukan dalam pembenahan pemerintahan di Negeri ini, tetapi revolusi mental juga sangat kontekstual untuk membenahi mental masyarakat Indonesia dalam memproduksi dan mengelola sampah sehari-hari. Salah satu cara untuk merevolusi mental kita dalam memperlakukan sampah adalah dengan 3R.

3R adalah 3 pendekatan dalam pengelolaan sampah. 3R merupakan kepanjangan dari Reduce, Reuse dan Recycle. Adapun filosofi masing-masing nilai tersebut adalah:

Pertama, Reduce adalah pendekatan dalam mengelola sampah dengan mengurangi jumlah sampah yang kita produksi/hasilkan setiap hari. Nilai ini sebenarnya sangat sejalan dengan nilai kesederhanaan yang diajarkan oleh kiai-kiai NU. Di pesantren-pesantren salaf tradisi ngrowot atau tirakat merupakan tradisi yang biasanya dijalani oleh para santri untuk kemudahan belajarnya. Tradisi ngrowot atau tirakat yang dilakukan dengan cara membatasi konsumsi atau menahan keinginan-keinginan dan pantangan adalah tradisi yang sejalan untuk menumbuhkan kesadaran dalam mengurangi jumlah sampah setiap hari. Dan masih banyak lagi tradisi-tradisi di pesantren yang mengajarkan untuk berperilaku sederhana yang berdampak pada pengurangan produksi sampah.

Tips sederhana untuk bisa mempraktekkan Reduce atau pengurangan sampah, yaitu dengan: (1) Membeli atau mengkonsumsi yang benar-benar kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Jika ada alternatif untuk mengurangi produksi sampah maka lakukanlah. (2) Terutama untuk yang suka berbelanja di toko atau supermarket, bawalah tas belanja (dari kardus atau plastik) yang bisa dipakai berulang kali. Kalaupun tidak tersedia dan barang belanjaan masih bisa dibawa dengan tangan, maka bawalah dengan tangan jangan minta kantong plastik.  (3) Jangan membeli barang dalam sachet kecil jika benar-benar tidak mendesak. Karena kemasan kecil memperoduksi sampah lebih banyak. (4) Sebaiknya membuat undangan dalam bentuk email atau SMS untuk mengurangi produksi sampah kertas.Jikamengharuskan  menggunakan kertas pastikan bolak-balik penggunaannya.

Kedua, Reuse adalah cara pengelolaan sampah dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai. Jika pernah menjadi santri maka tidak akan asing dengan pendekatan Reuse dalam mengelola sampah, karena santri pasti akan selalu mempunyai cara memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai, misalnya kerudung menjadi penutup jendela, ember rusak menjadi tempat sampah, botol air kemasan menjadi tempat detergen, dan lain-lain. 

Salah satu tips mempraktekkan Reuse adalah dengan membawa botol minum sendiri yang bisa diisi ulang, daripada membeli air kemasan yang sekali pakai. Biasakan juga membeli makanan dengan membawa wadah sendiri daripada dibungkus dengan styrofoam atau kertas dan dibawa dengan plastik, bayangkan berapa sampah yang sudah dihasilkan.

Ketiga, Recycle adalah strategi mengolah sampah dengan cara mengolah kembali barang yang tidak terpakai atau sampah menjadi barang baru,dan memiliki fungsi baru atau lebih dikenal dengan daur ulang. Cara ini juga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat NU terutama santri. Karena keterbatasan finansial biasanya santri memiliki cara-cara kreatif untuk memanfaatkan barang yang sudah terpakai menjadi barang yang tetap memiliki fungsi. 

Mendaur ulang barang memang tidak mudah, butuh kesabaran dan kreatifitas tersendiri, tetapi bukan tidak mungkin kita melakukannya dari cara-cara yang sederhana; misalnya bunga dari sampah sedotan, tempat tisu dari sampah koran, frame foto dari kardus, pot hydroponic dari botol plastik. Daur ulang yang sedikit rumit misalnya menyulap sampah plastik kemasan makanan, minuman, atau deterjen menjadi payung, tas, dompet, benda lain yang tak kalah berharganya dengan barang baru.

Dari contoh diatas sepertinya yang dapat didaur ulang hanya sampah non-organik saja (kertas, plastik, botol, dan lain-lain), padahal sampah non-organik seperti sisa sayuran, buah-buahan dan makanan juga bisa didaur ulang menjadi pupuk kompos yang sangat bermanfaat untuk tumbuhan.

Tips yang paling sederhana untuk mempraktikan Recycle adalah mulailah memilah sampah organik dan non-organik dari rumah. Selain itu juga harus dipertimbangkan untuk membeli barang yang sekiranya mudah untuk diurai.

Mudah bukan mengelola sampah dengan pendekatan 3R? Ternyata pendekatan tersebut sudah kita lakukan dan menjadi tradisi masyarakat NU yang sederhana dalam hidup, hanya saja kesadaran lebih lanjut menerapkan gaya hidup sederhana dalam pengelolaan sampah belum maksimal dilakukan. Untuk itu,mari kita hidupkan kembali gaya hidup sederhana sebagai ikhtiar menekan jumlah sampah yang berdampak buruk bagi kehidupan. 

Hijroatul Maghfiroh, Program Manajer Lingkungan Hidup PP LPBINU.